Tampilkan postingan dengan label MAKALAH ILMIAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MAKALAH ILMIAH. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Mei 2010

URGENSI PENDIDIKAN BERBASIS KECAKAPAN HIDUP (LIFE SKILL)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia telah lama dilakukan. Dalam setiap GBHN dan REPELITA selalu tercantum bahwa peningkatan mutu merupakan salah satu prioritas pembangunan di bidang pendidikan. Berbagai inovasi dan program pendidikan juga telah dilaksanakan, antara lain penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku ajar dan buku referensi lainnya, peningkatan mutu guru dan tenaga kependidikan lainnya melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kualifikasi pendidikan mereka, peningkatan manajemen pendidikan, serta pengadaan fasilitas lainnya.
Namun berbagai indikator menunjukkan bahwa mutu pendidikan masih belum meningkat secara signifikan. Banyak keluhan bahwa lulusan yang memasuki dunia kerja belum memiliki kesiapan kerja yang baik. Ketidakpuiasan berjenjang studi juga terjadi, kalangan SMP merasa bekal lulusan SD kurang baik untuk memasuki SMP, kalangan SMA merasa bekal lulusan SMP tidak siap mengikuti pembelajaran di SMA, dan kalangan perguruan tinggi merasa bekal lulusan SMA belum cukup untuk mengikuti perkuliahan. Masalah yang juga mulai muncul sekarang ini adalah lulusan SMP dan SMA di pedesaan, karena sulit mendapatkan pekerjaan, sedangkan membantu orang tua sebagai petani bekerja di sawah merasa malu. Studi Blazely, dkk (1997) dalam Depdiknas (2002) melaporkan bahwa pembelajaran disekolah cenderung sangat teoritik dan tidak terkait dengan lingkungan dimana anak berada.
Menurut penjelasan resmi pemerintah, jumlah anak jalanan di berbagai Kota besar di Tanah Air kini mencapai sekitar 50.000 jiwa lebih. Angka ini sebenarnya masih dapat diperdebatkan akurasinya, karena ada kesan kurang memperhitungkan perkembangan situasi krisis ekonomi yang mulai terasa dampaknya sejak bulan Juli 1997. Berdasarkan prediksi Depsos, pada tahun 1997 saja diperkirakan sudah terdapat kurang lebih 50.000 anak yang menghabiskan waktu produktifnya di jalan. Jadi kalau dilihat di tiap-tiap daerah jumlah anak jalanan selama setahun terakhir diprediksi melonjak empat hingga lima kali lipat dari jumlah sebelumnya, maka tidak mustahil jumlah anak jalanan yang ada di Indonesia saat ini telah meningkat menjadi sekitar 100.000-150.000 jiwa, atau bahkan mungkin lebih (Sularto: 2000).
Dari komparasi internasional, mutu pendidikan di Indonesia juga kurang menggembirakan. Human Development Index (HDI) Indonesia menduduki peringkat 102 dari 106 negara yang disurvei dan satu peringkat di bawah Vietnam. Survey the Political Economic Risk Consultation (PERC) melaporkan Indonesia berada di peringkat 12 dari 12 negara yang disurvei, juga satu peringkat di bawah Vietnam. Hasil studi The Third International Mathematics And Science Study-Repeat (TIMSS-R, 1999) melaporkan bahwa siswa SMP Indonesia menempati peringkat 32 untuk IPA dan 34 untuk Matematika dari 38 negara yang distudi di Asia, Australia, dan Afrika (Depdiknas, 2002).
Berdasarkan dari hal tersebut, maka menjadi suatu hal yang logis apabila pendidikan yang sudah berjalan selama ini perlu diorientasikan kembali, yaitu pendidikan yang diorientasi kepada kecakapan hidup (Life Skill), sehingga dengan reorientasi tersebut mampu memberikan alternatif layanan program pendidikan yang mampu memberikan kecakapan hidup bagi siswa. Untuk itu, penulis ingin membahas permasalahan tersebut dalam judul: "Reorientasi Pendidikan Menuju Pendidikan Berbasis Kecakapan Hidup (Life Skill)".

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanamana konsep pendidikan berbasis kecakapan hidup (Life Skill) dalam menentukan arah baru pendidikan?
2. Bagaimana implementasi konsep pendidikan kecakapan hidup dalam pembelajaran?

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah:
1. Untuk mengetahui bagaimana mana konsep Pendidikan Berbasis Kecakapan Hidup (Life Skill) dalam Menentukan Arah Baru Pendidikan.
2. Untuk mengetahui bagaimana aplikasi konsep Pendidikan Kecakapan Hidup dalam Pembelajaran?
3. Untuk mengetahui Implikasi Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill) dalam Pendidikan.

D. Manfaat
Adapun manfaat dari tulisan ini adalah:
1. Penulisan ini akan memperluas cakrawala pemikiran dan pengalaman penulis dalam bidang pendidikan untuk lebih jeli dalam menganalisa setiap peluang yang ada untuk kemudian dijadikan sebagai wahana untuk meningkatkan mutu out-put pendidikan.
2. Dapat digunakan sebagai informasi dalam meningkatkan mutu out-put pendidikan.
3. Bisa menjadi informasi dan bahan pertimbangan bagi masyrakat dalam meningkatkan kualitas pendidikan secara umum.

E. Definisi Istilah
1. Urgensi adalah Keharusan yang mendesak, hal yang sangat penting
2. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau pelatihan bagi peranannya di masa yang akan datang.
3. Kecakapan hidup (life skill) adalah adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara pro aktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya.

F. Metode
1. Metode Yang Digunakan
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian Diskriptif kualitatif, dengan menjelaskan lebih menekankan pada kekuatan analisis data pada sumber-sumber data yang ada. Sumber-sumber tersebut diperoleh dari berbagai buku-buku dan tulisan-tulisan lainnya dengan mengandalkan teori-teori yang ada untuk di interpretasikan secara jelas dan menadalam untuk menghasilkan tesis dan anti tesis.

2. Sumber Data
Dalam penulisan karya ilmiah ini, penulis menggunakan personal document sebagai sumber data penelitian kualitatif ini, yaitu dokumen pribadi yang berupa bahan-bahan tempat orang yang mengucapkan dengan kata-kata mereka sendiri.
Personal Document sebagai sumber dasar atau data primernya, dalam hal ini adalah buku-buku yang berkaitan dengan Pendidikan Kecapan Hidup, yang tentunya merupakan komponen dasar dalam penelitian ini.

3. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian Library Reseach adalah teknik Dokumenter, yaitu dikumpulkan dari buku-buku, makalah atau artikel, majalah, jurnal, koran dan lain sebagainya dari karya pakar pendidikan atau dari pengamat dan pemerhati pendidikan, untuk mencari hal-hal atau variable yang berupa catata, transkip, buku, surat kabar, majalah dan sebagainya yang mempunyai keterkaitan dengan kajian tentang pendidikan Kecakapan

4. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini, setelah data terkumpul maka data tersebut dianalisis untuk mendapatkan konglusi, bentuk-bentuk dalam teknik analisis data sebagai berikut:
a. Metode Analisis Deskriptif
Metode Analisis Deskriptif yaitu usaha untuk mengumpulkan dan menyusun suatu data, kemudian dilakukan analisis terhadap data tersebut..
b. Content Analysis atau Analisis Isi
Content Analysis adalah metodelogi yang memamfaatkan seperangkat prosedur untuk menarik kesimpulan yang shoheh dari sebuah dokumen.
Untuk mempermudah dalam penulisan ini, maka sangat diperlukan untuk menggunakan pendekatan-pendekatan yaitu:
a. Induksi
Metode induktif adalah berangkat dari fakta-fakta atau peristiwa-peristiwa khusus dan kongkrit, kemudian digeneralisasikan menjadi kesimpulan yang bersifat umum.
b. Deduksi
Metode deduksi adalah metode yang berangkat dari pengetahuan yang bersifat umum itu hendak menilai sesuatu kejadian yang sifatnya khusus.
c. Komparasi
Metode komparasi adalah meneliti faktor-faktor tertentu yang berhubungan dengan situasi atau fenomena yang diselidiki dan membandingkan satu faktor dengan yang lain, dan penyelidikan bersifat komparatif.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Historis, Filosofis Dan Yuridis Pendidikan Kecakapan Hidup
Secara historis pendidikan sudah ada sejak manusia ada dimuka bumi ini. Ketika kehidupan masih sederhana, orang tua mendidik anaknya, atau anak belajar kepada orang tuanya atau orang lain yang lebih dewasa di lingkungannya, seperti cara makan yang baik, cara membersihkan badan, bahkan tidak jarang anak belajar dari lingkungannya atau alam sekitarnya. Anak-anak belajar bercocok tanam, berburu dan berbagai kehidupan keseharian. Intinya anak belajar agar mampu menghadapi tugas-tugas kehidupan, mencari solusi untuk memecahkan dan mengatasi problem yang dihadapi sehari-hari (Depdiknas. 2002).
Pendidikan berkembang dari yang sederhana (primitive) yang berlangsung dari zaman dimana manusia masih berada dalam ruang lingkup kehidupan yang serba sederhana. Tujuan-tujuanpun amat terbatas pada hal-hal yang bersifat survival (bertahan hidup dari ancaman alam sekitar). Yaitu keterampilan membuat alat-alat untuk mencari dan memproduksi bahan-bahan kebutuhan hidup, beserta pemeliharaanya, serta disesuaikan dengan kebutuhannya. Kemudian masyarakat semakin berbudaya dan tuntutan hidup semakin tinggi, maka pendidikan ditujukan bukan hanya pada pembinaan keterampilan, melainkan kepada pengembangan kemapuan-kemampuan teoritis dan praktis berdasarkan konsep-konsep berfikir ilmiah, atau lebih jelasnya masalah kehidupan dan fenomena alam kemudian diupayakan dapat dijelaskan secara keilmuan.
Pendidikan secara dinamis akan bermetamorfosa menjadi formal dan bidang keilmuan diterjemahkan menjadi mata pelajaran, mata kuliah, di sekolah. Mata pelajaran, mata kuliah berfungsi untuk menjelaskan fenomena alam kehidupan sehinga lebih mudah dipahami dan lebih mudah dipecahkan problemnya. Dengan kata lain, mata pelajaran, mata kuliah adalah alat untuk membentuk kecakapan, kemampuan yang dapat membantu mengembangkan dan memecahkan serta mengatasi permasalahan hidup dan kehidupan (Depdiknas: 2002).
Secara filosofis, pendidikan berjalan pada setiap saat dan tempat. Setiap orang, baik anak-anak maupun orang dewasa akan megalami proses pendidikan, lewat apa yang dijumpainya atau apa yang dikerjakannya. Walau tidak ada pendidikan yang sengaja diberikan, secara alamiah setiap orang akan terus belajar dari lingkungannya.
Pendidikan sebagai suatu sistem pada dasarnya merupakan sistemasi dari proses perolehan pengalaman. Oleh karena itu secara filosofis pendidikan diartikan sebagai suatu proses perolehan pengalaman belajar yang berguna bagi peserta didik, sehingga siap digunakan untuk memecahkan problem kehidupan yang dihadapinya. Pengalaman belajar yang diperoleh peserta didik diharapkan juga mengilhami mereka ketika mengahadapi problem dalam kehidupan sesungguhnya.
Landasan yuridis pendidikan kecakapan hidup mengacu kepada UU nomor 2 Tahun 1989 tentang pendidikan nasional. Pasal 1 ayat 1 yang berbunyi Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau pelatihan bagi peranannya di masa yang akan datang.
Dari dasar tersebut pada akhirnya tujuan pendidikan adalah membantu peserta didik agar nantinya mampu meningkatkan dan mengembangkan dirinya sebagai pribadi yang mandiri, sebagai anggota masyarakat dan sebagai warga negara.

B. Konsep dan Unsur-Unsur Pendidikan Kecakapan Hidup
Kecakapan hidup adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara pro aktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya (Depdiknas, 2004).
Dengan definisi tersebut, maka pendidikan kecakapan hidup harus mampu merefleksikan nilai-nilai kehidupan nyata sehari-hari, baik yang bersifat preservatif maupun progresif. Pendidikan perlu diupayakan relevansinya dengan nilai-nilai kehidupan nyata sehari-hari. Dengan cara ini, pendidikan akan lebih realistis, lebih kontekstual, tidak akan mencabut peserta didik dari akarnya, sehingga pendidikan akan lebih bermakna bagi peserta didik dan akan tumbuh subur.
Dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia memang selalu dihadapkan pada problem hidup, untuk memecahkan problem kehidupan seperti itu seseorang akan berusaha mencermati kemampuan apa yang mereka miliki sehingga sukses, atau setidaknya dapat bertahan hidup dalam situasi yang serba berubah, orang tersebut bisa sukses karena memiliki banyak kiat (kecakapan hidup) sehingga mampu mengatasi masalah dihadapinya, pandai melihat dan memanfaatkan peluang, serta pandai bergaul dan bermasyarakat. Kiat-kiat seperti itulah yang merupakan inti kecakapan hidup. Artinya kecakapan yang selalu diperlukan oleh seseorang dimanapun ia berada, baik bekerja atau tidak bekerja dan apapun profesinya.
Depdiknas (2002) menyatakan bahwa keterampilan hidup meliputi beberapa kemampuan dasar, yaitu:
1. Kecakapan personal (personal skill), yang mencakup: kecakapan mengenal diri (self awareness) dan kecakapan berfikir rasional (thinking skill).
2. Kecakapan sosial (sosial skill).
3. Kecakapan akademik (academic skill).
4. Kecakapan vokasional (vocational skill).
Kecakapan mengenal diri (self awareness) atau kecakapan personal mencakup: (1) penghayatan diri sebagai makhluk tuhan yang Maha Esa, anggota masyarakat dan warga Negara, serta (2) menyadari dan mensyukuri kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, sekaligus menjadikannya sebagai modal dalam meningkatkan dirinya sebagai individu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan lingkungannya.
Kecakapan berfikir rasional (thinking skill) mencakup antara lain kecakapan menggali dan menemukan informasi (information seacrhing), kecakapan mengolah informasi dan mengambil keputusan (information processing and decion making skill), serta kecakapan memecahkan masalah secara kreatif (creative problem solving skill).
Kecakapan sosial atau kecakapan antar-personal (inter-personal skill) mencakup kecakapan komunikasi dengan empati (commonicaton skill). Empati, sikap penuh pengertian dan seni komunikasi dua arah, perlu ditekankan disini bahwa yang dimaksud berkomunikasi di sini bukan sekedar menyampaikan pesan, tetapi isi dan sampainya pesan dan disertai dengan kesan baik yang akan menumbuhkan hubungan harmonis. Kecakapan bekerjasama sangat diperlukan karena sebagai mahluk sosial, dalam kehidupan sehari-hari manusia akan selalu bekerjasam dengan manusia lain. Kerjasama bukan sekedar "kerja sama" tetapi yang di sertai dengan saling pengertian, saling menghargai dan saling membantu.
Kecakapan akademik (academic skill) yang juga sering disebut kemampuan berfikir ilmiah, pada dasarnya merupakan pengembangan dari kecakapan berfikir rasional pada global life skill. Kecakapan akademik mencakup antara lain kecakapan melakukan identifikasi variabel dan menjelaskan hubungannya pada suatu fenomina tertentu (identifying variable and describing relationship among them), merumuskan hipotesis terhadap suatu rangkaian kejadian (contructing hypotheses), serta merancang dan melaksanakan penelitian untuk membuktikan suatu gagasan atau keingintahuan (designing and implementing a research).
Kecakapan vokasional (vocational skill) sering pula disebut dengan "kecakapan kejuruan" artinya kecakapan yang dikaitkan dengan bidang pekerjaan tertentu yang terdapat di masyarakat.

C. Tujuan Dan Manfaat Pendidikan Kecakapan Hidup
1. Tujuan pendidikan kecakapan hidup
Depdiknas (2002) mengemukakan secara umum pendidikan yang berorientasi pada kecakapan hidup bertujuan memfungsikan pendidikan sesuai dengan fitrahnya, yaitu mengembangkan potensi manusiawi peserta didik untuk menghadapi perannya dimasa yang akan datang, secara khusus pendidikan yang berorientasi pada kecakapan hidup bertujuan untuk:
a. Mengaktualisasikan potensi peserta didik sehingga dapat digunakan untuk memecahkan problema yang dihadapi,
b. Memberikan kesempatan kepada sekolah untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel, sesuai dengan prinsip pendidikan berbasis luas, dan
c. Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya di lingkungan sekolah, dengan memberi peluang pemanfaatan sumber daya yang ada di masyarakat, sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah.
Dari pernyataan tersebut, sudah jelas bahwa tujuan utama pendidikan kecakapan hidup adalah menyiapkan peserta didik agar yang bersangkutan mampu, sanggup, dan terampil menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya di masa datang, serta esensi dari pendidikan kecakapan hidup adalah untuk meningkatkan relevansi pendidikan dengan nilai-nilai kehidupan nyata, baik preservatif maupun progresif.

2. Manfaat pendidikan kecakapan hidup
Depdiknas (2002) menyatakan bahwa secara umum manfaat pedidikan berorientasi kecakapan hidup bagi peserta didik adalah sebagai bekal dalam menghadapi dan memecahkan problem hidup dan kehidupan, baik sebagai pribadi yang mandiri, warga masyarakat, maupun sebagai sebagai warga Negara.
Dari rumusan di atas, dapat disimpulkan bahwa esensi dari Pendidikan kecakapan hidup adalah mampu memberikan manfaat pribadi peserta didik dan manfaat sosial bagi masyarakat. Bagi peserta didik, pendidikan kecakapan hidup dapat meningkatkan kualitas berpikir, kualitas kalbu, dan kualitas fisik. Peningkatan kualitas tersebut pada gilirannya akan dapat meningkatkan pilihan-pilihan dalam kehidupan individu, misalnya karir, penghasilan, pengaruh, prestise, kesehatan jasmani dan rohani, peluang, pengembangan diri, kemampuan kompetitif, dan kesejahteraan pribadi. Bagi masyarakat, pendidikan kecakapan hidup dapat meningkatkan kehidupan yang maju dan madani dengan indikator-indikator yang ada: peningkatan kesejahteraan sosial, pengurangan perilaku destruksif sehingga dapat mereduksi masalah-masalah sosial, dan pengembangan masyarakat yang secara harmonis mampu memadukan nilai-nilai religi, teori, solidaritas, ekonomi, kuasa dan seni.
Pendidikan harus merefleksikan nilai-nilai kehidupan sehari-hari, baik yang bersifat preservatif dan progresif. Sekolah harus menyatu dengan nilai-nilai kehidupan nyata yang ada di lingkungannya dan mendidik peserta didik sesuai dengan tuntutan nilai-nilai kehidupan yang sedang berlaku. Ini menuntut proses belajar mengajar dan masukan instrumental sekolah seperti misalnya kurikulum, guru, metodologi pembelajaran, alat bantu pendidikan, dan evaluasi pembelajaran benar-benar realistik, kontekstual, dan bukannya artifisial.
Jika hal itu dapat dicapai, maka faktor ketergantungan pada lapangan pekerjaan yang sudah ada, sebagai akibat dari banyaknya pengangguran, dapat diturunkan, yang berarti produktivitas nasional akan meningkat secara bertahap.
D. Pola Pelaksanaan Pendidikan Kecakapan Hidup
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang demikian pesat mengakibatkan inovasi pengetahuan begitu melimpah. Perubahan yang sangat mendalam dan pesat, mengharuskan manusia belajar hidup dengan perubahan terus menerus, dengan ketidak pastian, dan dengan unpredicatability (ketidak mampuan untuk memeperhitungkan apa yang akan terjadi). Persoalan yang dihadapi oleh manusia dan kemanusiaan tersebut tak pelak juga melibatkan persoalan pendidikan didalamnya, yaitu sejauh mana pendidikan mampu berperan mengantisipasi dan mengatasi persoalan itu. Hampir tidak ada satu Negara pun dewasa ini dimana pendidikan tidak merupakan topik utama yang diperdebatkan (Iman:2004).
Diantara tanggungjawab lembaga pendidikan adalah membina siswa supaya berani berdiri sendiri dan berusaha sendiri; maka kemampuan secara mandiri dan kritis (independent critical thinking) yang menjadi landasan mutlak untuk semuanya ini tidak hanya memerlukan kebebasan akademis, tetapi juga kebudayaan akademis yang merangsang berfikir mandiri dan kritis. Oleh karena itu pendidikan memegang kedudukan sentral dalam proses pembangunan dan kemajuan dalam menanggapi tantangan masa depan. Hal itu membawa konsekwensi dalam bidang pendidikan, pendidikan tidak lagi dapat mengharapkan peserta didik untuk mempelajari seluruh pengetahuan, karaena itu harus dipilih bagian-bagian esensial yang menjadi pondasinya.
Disamping kecakapan hidup secara umum, kiranya perlu dikembangkan pada kemampuan belajar bagaimana cara belajar (learning how tolearn) dengan harapan dapat digunakan untuk belajar sendiri, jika seseorang ingin mengembangkan diri di kemudian hari. Pengetahuan itulah yang mendasari konsep pendidikan kecakapan hidup. Disamping itu pendidikan harus mendasarkan pada kebutuhan masyarakat secara luas dengan menekankan pada penguasaan kecakapan hidup generik sebagai pondasi pengembangan diri lebih lanjut, serta menggunakan prinsip menejemen berbasis sekolah sebagai pelaksana penerapan menejemen pendidikan kecakapan hidup, pendidikan kontekstual (contextual teaching and learning) serta pembelajarannya menggunakan empat pilar pendidikan yang dicanangkan oleh UNESCO (Depdiknas: 2002).
1. Penerapan Manajemen Sekolah
Mulyasa (2004) mengatakan bahwa manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerja sama yang sistematis dan koprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional, sementara menejemen berbasis sekolah sebagaimana yang diungkapkan oleh E. Mulyasa (2003) adalah pemberian otonomi luas pada tingkat sekolah agar sekolah leluasa mengelola sumber daya dan sumber dana dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan, serta lebih tangap terhadap kebutuhan setempat.
Berdasarkan atas apa yang tercakup dalam pengertian menejemen berbasis sekolah, nampak bahwa menejemen berbasis sekolah itu meliputi berbagai aspek yang sangat luas sekali, dalam hal ini seluruh komponen-komponen sekolah itu sendiri meliputi: Manajemen kurikulum dan program pengajaran, Manajemen tenaga kependidikan, Manajemen Kesiswaan , Manajemen keuangan, Manajemen Sarana dan Prasarana, Manajemen hubungan sekolah dengan masyarakat, Manajemen layanan khusus.

2. Pola Pembelajaran dalam Pendidikan Life Skill
Dalam proses pembelajaran, paling tidak siswa memerlukan empat pilar yakni pengetahuan, keterampilan, kemandirian, dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dan bekerjasama. Hal ini sejalan dengan penegasan UNESCO dalam konverensi tahunannya di Melbourne yang menekankan perlunya Masyarakat Belajar yang berbasis pada empat kemampuan yakni: (a) belajar untuk mengetahui, (b) belajar untuk dapat melakukan, (c) belajar untuk dapat mandiri, dan (d) belajar untuk dapat bekerjasama.
Empat kemampuan tersebut di atas merupakan pilar-pilar belajar yang akan menjadi acuan bagi sekolah dalam menyelenggarakan kegiatan belajar-membelajarkan yang akan bermuara pada hasil belajar aktual yang diperlukan dalam kehidupan manusia sehingga dalam proses Pembelajarannya, pendidikan kecakapan hidup menggunakan model pembelajaran kontekstual (Contextual teaching and learning).
Pembelajaran kontekstual dirasa sebagai salah satu kebutuhan mendasar bagi negara maju dalam menyongsong era global sebagaimana penegasan Goh Chok Tong, P.M. Singapore, pada The Singapore Expo (2001), bahwa kurikulum harus lebih menekankan pada kemampuan berpikir kreatif dan kritis serta pemecahan masalah. Kemampuan ini dapat tumbuh jika siswa menghargai keterkaitan antar disiplin ilmu, menggunakan prosedur pemecahan masalah dan keterampilan berkomunikasi serta mau bekerja dalam kelompok kerja. Dorongan terhadap siswa untuk menghargai berbagai disiplin, tertib prosedur, serta berbagai aspek lain yang diperlukan dalam kehidupan dan interaksi dengan sesamanya menunjukan bahwa siswa perlu memiliki berbagai keterampilan yang kompleks.
Dalam pelaksanaannya pembelajaran kontekstual menempatkan siswa di dalam konteks bermakna yang menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang sedang dipelajari dan sekaligus memperhatikan faktor kebutuhan individu siswa dan peranan guru. Sehubungan dengan itu maka pendekatan pengajaran kontekstual harus menekankan pada hal-hal sebagaimana berikut: Belajar berbasis masalah (problem-based learning), Pengajaran autentik (authentic instruction), Belajar berbasis inquiri (inquri-based learning), Belajar berbasis proyek/tugas (project-based learning), Belajar berbasis kerja (work-based learning), Belajar berbasis jasa layanan (service learning), Belajar kooperatif (cooperative lerning)
Pembelajaran kontekstual tidak hanya menuntut siswa untuk mengikuti pengajaran dengan konteks lingkungan mereka sendiri, dalam artian pembelajaran kontekstual menuntut siswa mengeksplorasi makna konteks itu sendiri, tujuannya untuk menyadarkan siswa bahwa mereka memiliki kemampuan dan tanggung jawab untuk mempengaruhi dan membentuk susunan konteks yang beragam, mulai keluarga, ruang kelas, kelompok, tempat kerja, komunitas. sehingga dengan demikian pembelajaran akan lebih
bermakna.

BAB III
PEMBAHASAN

A. Peran Pendidikan Berbasis Kecakapan Hidup dalam Menentukan Arah Baru Pendidikan

Tuhan melengkapi manusia dengan berbagai alat dan potensi dasar yang disebut dengan fitrah yang harus diaktualkan dan atau ditumbuhkembangkan dalam kehidupan nyata melalui proses pendidikan itu sendiri. Allah menciptakan sesuatu dalam keadaan seimbang dan serasi, keteraturan sesuatu dalam alam ini dibebankan kepada manusia untuk menjaga dan memeliharanya serta mengembangkan demi keberlangsungan dan kesejahteraan kehidupannya. Oleh karena itu, untuk menjaga keserasian keseimbangan kehidupan ini, manusia diberi tanggung jawab hidup yang tidak hanya sebagai hamba Allah tetapi juga sebagai khalifah dimuka bumi.
Maka untuk memfungsikan dan mengaktualisasikan hal tersebut, maka diperlukan suatu iktiar pendidikan yang sistematis, terencana, berdasarkan pendekatan dan wawasan yang interdisipliner, karena manusia semakin terlibat dalam proses perkembangan masyarakat yang semakin komplek maka potensi yang ada dalam diri manusia akan cepat pula berkembang melalui pengalaman-pengalaman yang didapat dari kompleksitas sosial masyarakat itu sendiri.
Unsur-unsur pendidikan yang berbasis kecakapan hidup adalah sebagai berikut:
1. Kecakapan personal (personal skill), yang mencakup kecakapan mengenal diri yang terinci menjadi keimanan sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa yang dituntut untuk mengabdi kepada-Nya dan Khalifah-Nya di muka bumi. Pengemban karakter, antara lain cinta kebenaran, tanggung jawab dan disiplin, saling menghargai dan membantu dan sebagainya sebagai manifestasi dari nilai-nilai ketuhanan (self awareness).
2. Kecakapan berfikir rasional (thinking skill); yang mencakup dari kecakapan menggali informasi yang dapat dikembangkan dengan mencari tahu persoalan-persoalan kehidupan. Kecakapan mengelola informasi dengan melalui potensi berfikir untuk menyelesaikan persoalan kehidupan dengan tepat. Keterampilan mengambil keputusan setelah melalui proses berfikir tersebut. Kecakap memecahkan masalah setelah mengetahui berbagai persoalan dan dicarikan solusinya melalui proses berfikir tersebut. Dari kecakapan berfikir rasional tersebut adalah merupakan pengembangan potensi akal yang telah dianugeri Allah kepada manusia.
3. Kecakapan Sosial (sosial skill). Yang dapat dirinci dalam kecakapan komunikasi dengan empati, dan kecakapan bekerjasama. Empati, sikap penuh pengertian dan seni komunikasi dua arah, maksudnya, komunikasi bukan hanya sekedar menyampaikan pesan, tetapi isi dan sampainya pesandisertai dengan kesan yang baik akan menumbuhkan hubungan yang harmonis.
4. Kecakapan Akademik (academic skill) atau kemampuan berfikir ilmiah yang mencakup antara lain; identifikasi variabel. Merumuskan hipotesis dan melaksanakan penelitian yang merupakan pengembangan dari sikap pedagogik.
5. Kecakapan Vokasional (vocational skill) yakni keterampilan yang dikaitkan dengan pekerjaan tertentu yang terdapat dalam lingkungan atau masyarakat, yang merupakan bekal untuk hidup didunia.
Salah satu kesalahan terbesar yang dibuat guru selama ini adalah memandang belajar sebagai produk. Informasi tidak dapat dituangkan kepada siswa seperti menuangkan air ke dalam botol. Belajar merupakan proses dimana otak atau pikiran mengadakan reaksi terhadap kondisi-kondisi luar, dan reaksi itu dimodifikasi dengan pengalaman-pengalaman sebelumnya (Susanto, 2004).
Dalam kaitannya dengan pendidikan berbasis kecakapan hidup, yaitu pada proses pelaksanaan pendidikan itu sendiri, yang tidak mencerminkan terhadap unsur-unsur kecakapan hidup, karena secara metodologi pendidikan masih terkesan konservatif, metodologi pendidikan tidak kunjung berubah antara pra dan post era modernisme, metodologi pendidikan lebih menekankan pada hafalan teks-teks yang sudah ada, sedangkan kemampuan dalam menganalisis, kemampuan mencari dan memecahkan suatu problem kurang teraktualisasikan dalam proses belajar mengajar. Hal ini mungkin terkait ujian nasional yang menjadi penentu kelulusan peserta didik menyebabkan guru sering kali terpaku padanya, sehingga semangat untuk memperkaya kurikulum dengan pengalaman belajar yang bervariasi kurang tumbuh. Guru hanya menekankan pada hafalan konsep-konsep yang telah tertuang dalam buku.
Dari berbagai persoalan pendidikan tersebut, bisa dikatakan belum mampu mengantisipasi masa yang akan datang, artinya belum mampu menyiapkan uot put yang sesuai dengan permintaan pasar, kurang memiliki kemampuan bersaing secara kompetitif, dan out putnya hanya mengandalkan ijasah tanpa diimbangi dengan kecakapan-kecakapan hidup.

1. Pengembangan Kurikulum Pendidikan
Materi pendidikan dan pendidikan tergambar dalam kurikulum yang disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikannya. Desain materi pendidikan harus memperhatikan tahap perkembangan peserta didik dan kesesuainnya dengan lingkungan, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, seni, serta sesuai dengan jenjang masing-masing satuan pendidikan. Materi pendidikan yang terakomodasi dalam kurikulum menggambarkan standar kemampuan dasar yang wajib dimiliki peserta didik pada masing-masing jenjang pendidikan.
Kurikulum merupakan salah satu komponen utama yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan isi pengajaran mengarahkan proses mekanisme pendidikan, tolak ukur keberhasilan dan kualitas hasil pendidikan disamping faktor-faktor lain. Menurut Nana Sudjana (1989) kurikulum adalah niat dan harapan yang dituangkan dalam bentuk rencana atau program pendidikan untuk dilaksanakan oleh guru disekolah.
Oleh karena itu pengembangan dalam kurikulum pendidikan harus terus dilakukan. Sebagai catatan dalam kegiatan pengembangan kurikulum dalam proses pendidikan, maka hal-hal yang perlu diperhatikan adalah: pertama, falsafah hidup bangsa, sekolah dan guru itu sendiri; kedua, adalah pertimbangan harapan, kebutuhan dan permintaan masyarakat akan produk pendidikan; ketiga, kesusuaian kurikulum dengan kondisi peserta didik; keempat, kemajuan IPTEK merupakan suatu yang tidak dapat dipungkiri lagi untuk dipertimbangkan dalam proses pengembangan kirikulum (Subandiah, 1993).
Untuk mengarahkan pengembangan kurikulum pendidikan agar memuat berbagai kecakapan hidup, maka pengembangan kurikulum tersebut itu harus mensyaratkan adanya keseimbangan antara teori dan praktek, atau antara ilmu dan amal dalam kehidupan keseharian. Hal ini dapat dilakukan dengan mengedentifikasi life skill yang diperlukan untuk mnghadapi kehidupan nyata dimasyarakat sehingga apa yang dipelajari pada setiap mata pelajaran/ mata kuliah diharapkan dapat membentuk kecakapan hidup yang nantinya diperlukan pada saat yang bersangkutan memasuki kehidupan nyata di masyarakat.

2. Hubungan Sinergis Antara Sekolah Dengan Masyarakat.
Hubungan sekolah dengan masyarakat pada hakekatnya merupakan suatu sarana yang sangat berperan dalam membina dan mengembangkan pertumbuhan pribadi peserta didik di sekolah. Dalam hal ini, sekolah sebagai sistem sosial merupakan bagian integral dari sistem sosial yang lebih besar, yaitu masyarakat. Sekolah dan masyarakat memiliki hubungan yang sangat erat dalam mencapai tujuan sekolah atau pendidikan secara efektif dan efesien. Sebaliknya sekolah juga harus menunjang pencapaian tujuan atau pemenuhan kebutuhan masyarakat.
Dalam hubungan ini sekolah bisa disebut sebagai lembaga infestasi manusiawi. Investai jenis ini sangat penting bagi perkembangan dan kemajuan masyarakat, sebab manusia itu sendirilah subyek setiap perkembangan perubahan dan kemajuan di dalam masyarakat. Maka dalam hal ini, Tim dosen FIP-IKIP Malang (2000) mengatakan bahwa ada empat macam pengaruh yang bisa dimainkan oleh pendidikan persekolahan terhadap perkembangan masyarakat dilingkungannya, yaitu:
a. Mencerdaskan kehidupan masyarakat
b. Membawa virus pembaharuan bagi perkembangan masyarakat
c. Melahirkan warga masyarakat yang siap dan terbekali bagi kepentingan kerja dilingkungan masyarakat dan
d. Melahirkan sikap-sikap positif dan konstruktif bagi warga masyarakat, sehingga tercipta integrasi sosial yang harmonis di tengah-tengah masyarakat.
Jika hubungan sekolah dengan masyarakat berjalan dengan baik, rasa tanggung jawab dan partisipasi masyarakat untuk memajukan sekolah juga akan baik dan tinggi. Agar tercipta hubungan dan kerja sama yang baik antar sekolah dengan masyarakat, maka menjadi keharusan masyarakat perlu mengetahui dan memiliki gambaran yang jelas tentang sekolah yang bersangkutan. Gambaran dan kondisi sekolah ini dapat diinformasikan kepada masyarakat melalui laporan kepada orang tua murid, bulletin bulanan, penerbitan surat kabar, pameran sekolah, open house, kunjungan ke sekolah, kunjungan ke rumah murid, penjelasan oleh staf sekolah, murid, radio, televisi, serta laporan tahunan.
Melalui manajemen sekolah yang efektif dan efesien tersebut dengan melakukan kerjasama yang baik dan harmonis dari pihak sekolah dengan orang tua dan masyarakat (stakeholders pendidikan) dalam level kebijakan dan level operasional, agar lebih memahami, membantu, aktif dan mengontrol pengelolaan pendidikan, diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan Islam secara keseluruhan, sehingga pendidikan Islam akan menjadi pendidikan yang berkualitas dan diminati peserta didik serta memiliki daya jual yang tinggi di tegah-tengah masyarakat melalui penguasaan kecakapan hidup yang dimiliki peserta didik.

3. Metodologi Pendidikan
Subroto (1997) mengatakan bahwa metode pengajaran adalah cara-cara pelaksanaan dari suatu proses pengajaran atau soal bagaimana teknisnya suatu bahan pengajaran diberikan kepada murid-murid di sekolah, atau dengan kata laian metode adalah cara yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan tertentu.
Untuk mendorong siswa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, pengalaman dan keterampilan berfikir yang logis dan sistematis, sehingga suasana proses belajar mengajar menjadi kondusif komunikatif dan tercipta hubungan harmonis antara guru dengan peserta didik, maka perlu diupayakan pengajaran pendidikan dengan melalui pendekatan kontekstual.
Pendekatan kontekstual merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi nyata di dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka, baik sebagai anggota keluarga maupun anggota masyarakat. Dengan konsep tersebut, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa, karena proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa, sehingga hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi anak untuk memecahkan persoalan, berfikir kritis, dan melaksanakan observasi serta menarik kesimpulan dalam kehidupan jangka panjangnya.
Dalam hal ini menurut taksonomi bloom mengklasifikasikan dalam tiga domain dari hasil pendidikan yang berupa perubahan tingkah laku yaitu: (a) kognitif (cognitive domain); (b) afektif (affective domain); (c) psikomotor (psychomotor domain).
a. Kemampuan Kognitif
Yang termasuk kategori kemampuan kognitif yaitu mengetahui, memahami, mengetrapkan, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi.
b. Kemampuan Afektif
Yang termasuk kemampuan afektif adalah menerima, menanggapi, menghargai, membentuk, berpribadi,
c. Kemampuan Psikomotor
Yang dimaksud dari kemampuan psikomotor adalah kemampuan yang menyangkut kegiatan otot dan kegiatan fisik atau menyangkut penguasaan tubuh dan gerak. Adanya klasifikasi kemampuan ini akan membantu untuk menentukan langkah yang harus dilalui didalam proses belajar mengajar dengan memperhatikan:
1) Apa yang akan dicapai di dalam proses belajar mengajar
2) Bagaimana murid harus belajar
3) Metode dan bahan apa yang dapat berhasil guna dalam proses belajar mengajar
4) Perubahan tingkah laku yang mana diharapkan dapat dihasilkan dalam proses belajar mengajar ini
Pembelajaran kontekstual mengakui bahwa belajar merupakan sesuatu yang kompleks dan multidimensional yang jauh melampaui berbagai metodologi yang hanya berorientasi pada latihan dan rangsangan/tanggapan (stimulus-response). Pembelajaran kontekstual menganjurkan bahwa belajar hanya terjadi jika siswa merespon informasi atau pengetahuan baru sedemikian rupa, sehingga dirasakan masuk akal sesuai dengan kerangka berfikir yang dimiliki (ingatan, pegalaman, dan tanggapan).
Sehubungan dengan hal itu maka pendekatan pengajaran kontekstual harus menekankan pada hal-hal sebagai berikut:
1) Belajar berbasis masalah (problem based learning) yaitu suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang berfikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran.
2) Pengajaran autentik (authentic instruction) yaitu pendekatan pengajaran yang memperkenankan siswa untuk mempelajari konteks bermakna dalam hal ini konteks kehidupan nyata.
3) Belajar berbasis Inquiri (inqury based learning) yang membutuhkan stategi pengajaran yang megikuti metodologi sains dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna.
4) Belajar berbasis proyek/tugas (project based learning) yang membutuhkan suatu pendekatan pendekatan pengajaran kooperatif dimana lingkungan belajar siswa (kelas) didesain agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah autentik termasuk pendalaman dari suatu topik mata pelajaran dan melaksanakan tugas bermakna lainya.
5) Belajar berbasis kerja (work based learning) yang memerlukan suatu pendekatan pengajaran yang memungkinkan siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pelajaran berbasis sekolah dan bagaimana materi itu dipergunakan kembali di tempat kerja.
6) Belajar berbasis jasa layanan (service learning) yaitu pendekatan yang menyajikan suatu penerapan praktis dari pengetahuan baru yang diperlukan dan berbagai keterampilan untuk memenuhi kebutuhan di dalam masyarakat melalui proyek/tugas terstruktur dan kegiatan lainya.
7) Belajar kooperatif (cooperative learning) yang memerlukan pendekatan pengajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar.
Dengan melalui pendekatan kontekstual inilah metodologi pendidikan pada gilirannya dapat mengembangkan dan membangun tiga pilar keterampilan yaitu: learning skill yaitu ketrampilan mengembangkan dan mengelola pengetahuan dan pengalaman serta kemampuan dalam menjalani belajar sepanjang hayat. Thinking skills, yaitu keterampilan berfkir kritis, kreatif dan inovatif untuk menghasilkan keputusan dan memecahkan masalah secara optimal. Living skill yaitu ketrampilan hidup yang mencakup kematangan emosi yang bermuara pada daya juang, tanggug jawab dan kepekaan sosial yang tinggi.

B. Implementasi Pendidikan Berbasis Kecakapan Hidup
Pembelajaran merupakan kegiatan yang didesain oleh guru untuk peserta didik agar mereka belajar, karenanya diperlukan cara yang lebih efesien. Di sini dapat dipahami bahwa penekanan dalam pembelajaran adalah bagaimana siswa bisa belajar secara efektif dan efesien.
Proses belajar sangat dipengaruhi oleh kesiapan individu sebagai subyek yang melakukan kegiatan belajar mengajar. Kesiapan belajar adalah kondisi fisik-psikis (jasmani-mental) individu yang memungkinkan subyek dapat melakukan belajar. Kesiapan belajar dalam hal ini adalah kematangan dan perkembangan fisik, psikis, intelegensi, latar belakang pengalaman, hasil belajar yang baku, motivasi, persepsi, dan faktor-faktor lain yang memungkinkan seseorang dapat belajar.
Berdasarkan prinsip kesiapan belajar tersebut dapat dikemukakan hal-hal yang terkait dengan pembelajaran antara lain, (1) individu akan dapat belajar dengan baik apabila tugas yang diberikan kepadanya sesuai degan kesiapan (kematangan usia, kemampuan, minat, dan latar belakang pengalamannya, (2) kesiapan belajar harus dikaji terlebih dahulu untuk memperoleh gambaran kesiapan belajar siswanya dengan jalan mengetes kesiapan atau kemampuan, (3) jika individu kurang siap untuk melaksanakan suatu tugas belajar, maka akan menghambat proses pengaitan pengetahuan baru di dalam struktur kognitif yang dimilikinya, karena itu jika kesiapan sebagai prasarat belajar maka prasarat itu harus diberikan lebih dulu. (4) kesiapan belajar mencerminkan jenis dan taraf kesiapan untuk menerima sesuatu yang baru dalam membentuk atau mengembangkan kemampuan yang lebih mantap, dan (5) bahan dan tugas-tugas belajar akan sangat baik kalau divariasi sesuai dengan faktor kesiapan kognitif, afektif dan psikomotorik peserta didik yang akan belajar.
Oleh karena itu, motivasi siswa harus dibangkitkan dari dalam diri siswa (motivasi intrisik) dan dapat pula dibangkitkan dari luar (motivasi ekstrisik). Motivasi dalam diri siswa akan tumbuh apabila siswa tahu dan menyadari bahwa apa yang dipelajari bermakna atau bermanfaat.
Ada beberapa prinsip yang dapat digunakan untuk membangkitkan motivasi belajar siswa, yaitu:
1. Kebermaknaan
2. Kontinuitas dan integritas
3. Model/ figur/tokoh
4. Komunikasi terbuka
5. Tugas menyenangkan dan yang menantang
6. Latihan yang tepat dan aktif
7. Penilaian tugas
8. Kondisi dan konsekuensi yang menyenangkan
9. Keragaman pendekatan
10. Mengembangkan beragam kemampuan
11. Melibatkan sebanyak mungkin indera
12. Keseimbangan pengaturan pengalaman belajar
Dalam pendidikan berbasis kecakapan hidup, pembelajarannya menggunakan pendekatan kontekstual atau lebih dikenal dengan contextual teaching and learning (CTL) yang berperan sebagai strategi untuk mecapai tujuan yang telah dirumuskan dalam pendidikan. Sedangkan kecakapan hidup sebagai acuan pencapaian sasaran (tujuan).
Blanchard (2001) dalam Susanto (2004) menawarkan strategi contextual teaching and learning (CTL) sebagai berikut:
1. Menekankan pentingnya pemecahan masalah
2. Mengakui perlunya kegiatan belajar mengajar yang dilakukan dalam berbagai konteks seperti rumah, masyarakat, dan tempat kerja.
3. Mengajar siswa memantau dan mengarahkan pembelajaran mereka agar menjadi siswa yang belajar sendiri.
4. Menekankan pelajaran pada konteks kehidupan siswa yang berbeda-beda.
5. Mendorong siswa belajar dari sesama teman dan belajar bersama
6. menggunakan penilaian autentik.
Jadi, pelaksanaan pendidikan berbasis kecakapan hidup tidak harus melalui perubahan kurikulum, akan tetapi yang diperlukan adalah menyiasati kurikulum untuk diorientasikan pada pengembangan kecakapan hidup, bersama dengan pembahasan mata pelajaran.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa:
1. Kecakapan hidup adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara pro aktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya.
2. Kecakapan hidup merupakan salah satu alternatif baru pendidikan dengan melalui pengembangan kurikulum pendidikan. Kurikulum tersebut diharapkan memuat berbagai kecakapan hidup, melalui keseimbangan antara teori dan praktek, atau antara ilmu dan amal dalam kehidupan keseharian, dengan mengedentifikasi life skill pada tiap topik keilmuan yang diperlukan. Pada level menajemennya, yaitu dengan melakukan kerjasama yang baik dan harmonis antara pihak sekolah, orang tua dan masyarakat (stakeholders pendidikan) dalam level kebijakan dan level operasional. Dalam segi metodologi pendidikan, yaitu dengan melalui pendekatan konstekstual, hal ini dilakukan untuk mendorong siswa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, pengalaman dan keterampilan berfikir yang logis dan sistematis, sehingga suasana proses belajar mengajar menjadi kondusif komunikatif dan tercipta hubungan harmonis antara guru dengan peserta didik.

B. Saran
Dari berbagai paparan yang telah kami bahas di atas, maka kami selaku penulis ingin menyampaikan saran kepada pembaca antara lain:
1. Bagi para pendidik, dijadikan dasar pijakan untuk terjun dalam dunia pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.
2. Dari wacana reorientasi pendidikan menuju pendidikan berbasis kecakapan hidup, diharapkan menjadi wahana yang konstruktif bagi peningkatan pendidikan ke depan, hal ini mensyaratkan bahwa dalam pembelajaran tidak hanya berorietasi pada sistem hafalan, serta ranah kognitif dijadikan acuan yang prioritas, akan tetapi bagaimana proses pembelajaran ini dapat dikembangkan pada tiga pilar keterampilan yaitu: learning skill, Thinking skills,. Living skill sehingga pada akhirnya mampu mengasilkan peserta didik yang berkualitas, kreatif, inovatif yang mampu menerjemahkan dan menghadirkan agama dalam prilaku sosial dan individu ditengah-tengah kehidupan masyarakat.
3. Lembaga pendidikan sebagai fasilitas di mana terdapat interaksi antara pendidik dan peserta didik dalam proses pembelajaran, maka dalam hal ini lembaga pendidikan dituntut untuk bersikap terbuka terhadap lingkungan sekitar, baik dari perkembangan zaman maupun dari tuntutan masyarakat, dengan harapan mampu mengakomudasi berbagai kebutuhan masyarakat serta tanggap terhadap perkembangan zaman.
Daftar pustaka


Depdiknas. 2002. Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup (life Skill) Melalui PendekatanBorad-Based Education (BBE). Jakarta.

Muis Sad Iman. 2004. Pendidikan Partisipatif. Safiria Insania Press. Yogyakarta.

Mulyasa, E. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik dan Implementasi. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung.

Nana Sudjana. 1989. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah. Sinar Baru. Bandung.

Pudyo Susanto. 2004. Pembelajaran Konstruktivis dan Kontekstual Sebagai Pendekatan Dan Metodologi Pembelajaran Sains Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi. FMIPA; UM. Malang

Subandijah. 1993. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Sularto. 2000. Seandainya Aku Bukan Anakmu. Kompas. Jakarta.

Suryo Subroto. 1977. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Rineka Cipta. Jakarta.

Tim Dosen FIP-IKIP Malang. 2000. Pengantar Dasar-dasar Kependidikan. Usaha Nasional. Surabaya.

Kamis, 22 April 2010

Konsep Penyusunan Test Bahasa Inggris

KONSEP PENYUSUNAN TES BAHASA INGGRIS
DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN KOMUNIKATIF


Achmad Kusairi


Perkembangan konsep penilaian pada saat ini telah menunjukkan arah lebih luas yang mencakup pandangan: a) Penilaian tidak hanya diarahkan pada tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, tetapi juga mengarah pada tujuan tersembunyi, yang didalamnya termasuk efek samping yang mungkin timbul. b) Penilaian tidak hanya dilakukan dengan pengukuran perilaku siswa, tetapi juga melakukan pengkajian terhadap komponen-komponen pendidikan baik masukan ataupun keluarannya. c) Penilaian tidak hanya dimaksudkan untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pembelajaran yang ditetapkan, tetapi juga untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran dimaksud penting bagi siswa dan bagaimana siswa dapat mencapainya. d) Karena luasnya tujuan dan objek penilaian, maka alat yang digunakan dalam penilaian sangat beraneka ragam.
Khusus pembelajaran Bahasa Inggris yang menggunakan pendekatan komunikatif (Communicative Approach), maka cara pemerolehan nilai melalui tes harus pula mengacu pada pendekatan tersebut. Konsep penyusunan tes Bahasa Inggris Menggunakan Pendekatan Komunikatif ini disajikan sebagai suatu bahan informasi bagi guru bahasa Inggris SMA/MA yang dituntut untuk mampu menulis tes yang baik, valid, reliable dan memenuhi sifat tes yang minimal terstandar.
Konsep ini merupakan konsep tes baru dan modern yang mengacu pada Sistem Tes Standar Internasional (IELTS) secara otomatis. IELTS adalah suatu sistem tes yang disusun dan dikembangkan oleh The British Council, IDP Education Australia, dan The University of Cambridge Local Examination Syndycate sejak tahun 1989.
Dalam tes yang menggunakan konsep ini, pendekatan komunikatif mendasari penggunaan beberapa model tes tertentu, khususnya dikte (dictation), tes cloze, dan C-tes, sebagai suatu bentuk pengembangan tes “Cloze”. Sesuai dengan pandangannya terhadap bahasa, bentuk-bentuk tes komunikatif ini selalu mengunakan wacana yang mengandung konteks, bukan semata-mata kalimat atau kata-kata lepas.


Kata Kunci: konsep penilaian, pendekatan komunikatif



BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah

Kebijakan pendidikan terkini yang diterapkan adalah dalam rangka menghadapi kompetisi pada era globalisasi. Kunci menghadapi dan memenangkan kompetisi pada era ini pada dasarnya terletak pada kualitas sumber daya manusia. SDM yang berkualitas pada gilirannya dapat dicapai bila peserta didik dan lulusan setiap jenjang pendidikan di negeri ini memiliki kompetensi yang memadai. Oleh karena itu, kompetensi dijadikan orientasi dalam menentukan kebijakan, terutama dalam konteks kurikulum. Untuk mengukur kompetensi itulah diperlukan penilaian yang tepat.
Penilaian pendidikan bisa bersifat kuantitatif ataupun kualitatif. Yang kuantitatif biasanya berupa angka, sedangkan yang kualitatif hasilnya bukan berupa angka, tetapi pernyataan kualitatif, yaitu berupa pernyatan sangat baik, baik, cukup, kurang, sangat kurang dan sebagainya. Pengukuran, penilaian, dan evaluasi bersifat hierarkis, maksudnya kegiatan dilakukan secara berurutan, yaitu dimulai dari pengukuran, kemudian penilaian, dan terakhir evaluasi. Penilaian merupakan bagian dari pengukuran yang dilanjutkan dengan kegiatan penilaian.
Perkembangan konsep penilaian pada saat ini telah menunjukkan arah lebih luas yang mencakup pandangan: a) Penilaian tidak hanya diarahkan pada tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, tetapi juga mengarah pada tujuan tersembunyi, yang didalamnya termasuk efek samping yang mungkin timbul. b) Penilaian tidak hanya dilakukan dengan pengukuran perilaku siswa, tetapi juga melakukan pengkajian terhadap komponen-komponen pendidikan baik masukan ataupun keluarannya. c) Penilaian tidak hanya dimaksudkan untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuam pembelajaran yang ditetapkan, tetapi juga untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran dimaksud penting bagi siswa dan bagaimana siswa dapat mencapainya. d) Karena luasnya tujuan dan objek penilaian, maka alat yang digunakan dalam penilaian sangat beraneka ragam.
Pembaharuan kurikulum sedang berproses, memiliki banyak aspek yang harus ditangani secara serius dan teliti, terutama dalam menentukan prioritas penggarapan secara bertahap dan simultan. Bila mencermati kondisi madrasah yang berjalan selama ini, maka perlu adanya perhatian secara serius berkenaan dengan sistem penilaian pembelajaran. Hal ini diperlukan karena penilaian pembelajaran memiliki kedudukan strategis yang mencakup keseluruhan proses pendidikan yang berjalan. Karena hasil dari penilaian dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk melakukan perbaikan aktivitas pembelajaran agar lebih konstruktif dan dinamis.
Khusus pembelajaran Bahasa Inggris yang menggunakan pendekatan komunikatif (Communicative Approach), maka cara pemerolehan nilai melalui tes harus pula mengacu pada pendekatan tersebut. Konsep penyusunan tes Bahasa Inggris Menggunakan Pendekatan Komunikatif ini disajikan sebagai suatu bahan informasi bagi guru bahasa Inggris SMU/MA yang dituntut untuk mampu menulis tes yang baik, valid, reliable dan memenuhi sifat tes yang minimal terstandar.
Selanjutnya pada konsep ini akan dijelaskan mengenai prinsip-prinsip pendekatan komunikatif yang digunakan pada sistem mengajar termasuk sistem penyusunan tes agar para siswa dapat mengenali konteks dan item tes yang diujikan dengan cepat dan tidak menyesatkan (membingungkan siswa). Akhirnya penulis mengharapkan pengambil keputusan tingkat pusat agar berkenan mendukung penggunaan tes ini yang dapat diaplikasikan langsung bagi para guru Bahasa Inggris.

1.2 Tujuan Penulisan

Menyusun bahan informasi bagi guru SMA/MA untuk bisa memahami dan menganalisis sistem penyusunan tes Bahasa Inggris dengan menggunakan pendekatan komunikatif

1.3 Uraian Teori dan Fakta
Konsep ini merupakan konsep tes baru dan modern yang mengacu pada Sistem Tes Standar Internasional (IELTS) secara otomatis. IELTS adalah suatu sistem tes yang disusun dan dikembangkan oleh The British Council, IDP Education Australia, dan The University of Cambridge Local Examination Syndycate sejak tahun 1989.
Dalam tes yang menggunakan konsep ini, pendekatan komunikatif mendasari penggunaan beberapa model tes tertentu, khususnya dikte (dictation), tes cloze, dan C-tes, sebagai suatu bentuk pengembangan tes “Cloze”. Sesuai dengan pandangannya terhadap bahasa, bentuk-bentuk tes komunikatif ini selalu mengunakan wacana yang mengandung konteks, bukan semata-mata kalimat atau kata-kata lepas.
Pengerjaan tes yang menggunakan wacana, mempersyaratkan kemampuan memahami unsur-unsur kebahasaan maupun non-kebahasaan, sebagai bagian dari pemahaman terhadap wacana (text) secara keseluruhan. Tes yang dikembangkan dengan konsep pendekatan komunikatif ini, ditandai dengan adanya tugas untuk memahami wacana, melalui pemahaman unsur-unsur kebahasaan yang digunakan secara wajar, termasuk adanya berbagai kendala yang secara wajar terdapat pula di dalamnya (John W. 1979. p. 38).
Juga dalam konsep penyusunan tes ini menuntut para siswanya mengembangkan kemampuan memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tertulis maupun lisan dalam berbagai konteks dan ragam wacana (genre) (David P. Harris. 1976)

1.3 Permasalahan
Hasil ulangan semester dan ulangan harian serta hasil tes UNAS siswa MA setiap tahun pada umumnya selalu memprihatinkan dan mengecewakan sehingga banyak fihak yang menganggap bahwa mutu pembelajaran bahasa Inggris di MA tidak berkualitas.
Fenomena tersebut kemungkinan disebabkan oleh sistem mengajar dan pemberian tes dari guru yang masih konvensional, yaitu terlalu menitik beratkan pelajaran tata bahasa yang tidak integrative dengan (terpisah dari) fungsi bahasanya. Selanjutnya juga adanya kecenderungan sikap anti pati siswa terhadap pelajaran Bahasa Inggris serta motivasi siswa yang sangat kurang dibanding dengan siswa sekolah yang lain.
Disamping itu, apabila dilihat pada Kurikulum MA ’94, program studi bahasa Inggris pada masing-masing jenis sekolah tidak satu sistem dan jumlah jam tidak sama. Pada beberapa jenis sekolah bahkan tidak menggambarkan penggunaan kurikulum yang berdasarkan kebutuhan dan tidak menggambarkan pengaruh pada sistem metode komunikatif.
Selanjutnya, pada sistem tes konvensional, tata bahasa yang diujikan terpisah dan terpenggal dari pemakaian (fungsinya) yang nyata (real) akan tetap membuat siswa menjadi bingung dan tidak memahami untuk apa, bagaimana serta kapan tata bahasa tersebut digunakan. Permasalahan berikut, yang seharusnya mendapat perhatian, adalah bahwa tes UNAS disatukan, akan timbul permasalahan yang baru, mulai dari sistem pengelolaan dan bentuk tes yang paling sesuai dengan siswa tersebut.
Untuk mengantisipasi beberapa permasalahan, pada bab berikut, akan penulis coba untuk menguraikan beberapa strategi yang dapat membantu para guru dalam menyusun suatu bentuk tes harian maupun tes yang akan sesuai bagi siswa MA.


BAB II
TINJAUAN

2.1 Prinsip Pendekatan komunikatif

Titik tolak timbulnya permasalahan diatas disebabkan oleh berbagai hal yang akan diuraikan pada bab ini antara lain dengan cara mengenali terlebih dahulu beberapa prinsip penting yang seharusnya dikuasai oleh para guru MA.

2.2 Prinsip dalam Metodologi Mengajar

Keith Johnson (1983) menyatakan bahwa istilah komunikatif berkaitan erat dengan “Dasar pengetahuan ketata-bahasaan dan kemampuan menggunakan tata bahasa tersebut (communicative competence) dalam situasi yang sebenarnya (communicative situation) untuk memenuhi kebutuhan siswa berkomunikasi (communicative needs)”.
Jadi prinsip mengajar dengan pendekatan komunikatif adalah penguasaan pemakaian ilmu tata bahasa kepada situasi yang sebenarnya dengan menggunakan serangkaian prosedur dan teknik yang memungkinkan siswa dapat mengkomunikasikan keinginannya dalam bentuk (empat macam) ketrampilan produktif, yaitu mendengar, membaca, berbicara dan menulis.
Secara lengkap , pendekatan mengajar dengan sistem komunikatif harus meliputi: mempunyai arti (meaningful), kebutuhan spesifik, situasi spesifik, tempat/kejadian khusus (setting), peranan pembicara jelas hubungannya dan terdapat topic khusus yang dibicarakan.
Rangkaian aktifitas guru dan siswa dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan pendekatan komunikatif (Roger Scott, 1983), terdiri dari: penetapan tujuan, Konteks Bahasa, praktek/latihan, dan transfer.
2.2.1 Penetapan Tujuan
Guru hanya harus menuliskan/menetapkan tujuan dengan menonjolkan fungsi bahasa dari pada tata bahasa, misalnya: ”Siswa mampu menggunakan giving advice”, bukan siswa mampu menggunakan first personal pronoun + verb + second personal pronoun (singular/plural) + to invinitive + … dalam simple present tense.
2.2.2 Konteks Bahasa
Presentasi pengunaan konteks bahasa (contextualisation): target penggunaan bahasa yang sesuai dengan penggunanya, dengan cara mendemontrasikan pemakaian tata bahasa dalam suatu rangkaian bentuk yang lebih mempunyai arti. Misalnya: untuk giving advice, guru memberi contoh: “I’d rather like him to pick up that coat on the floor” dari pada dengan mengatakan: “Giving advice terdiri dari I sebagai first personal pronoun ditambah dengan … dst.
2.2.3 Praktek/Latihan
Ini merupakan pengulangan fokus bahasa (ke syntax dan phonology). Pada bagian ini siswa diharuskan melaporkan apa yang telah diketahui dengan cara tanya jawab dan guru harus menghindarkan diri dari penggunaan teknik “drilling” ataupun teknik lain yang strukturalis serta membosankan.
2.2.4 Transfer
Penggunaan teknik role-play, information gap, games dll. Pada tahapan ini siswa dibiasakan aktif mengungkapkan kemampuan lisan ataupun tulisan dan koreksi berulang-ulang dari guru harus dihindarkan untuk memotivasi siswa. Koreksi kesalahan tidak diperkenankan secara langsung (to the point), tetapi dengan cara lain yang lebih diplomatis dan tidak memojokkan siswa.
2.3 Contoh Rencana (silabus) Mengajar Komunikatif

Function Structures Topics
Describing Objects Prepositional Phrases Description of ...
Asking and saying Where things are; Its at the top of
Its at the corner of
Its at the right of
Its at the left of
Its at the middle of
Its at the bottom of Description of places, buildings, objects, shape, size, material
Describing objects What’s it like?
What are they like?
What colour is it?
What colour are they? It’s small/large/tall/light/thick/thin
They are square/round/rectangular
It is blue/red/yellow
They’re green/grey/black
Asking and saying what things are made of What’s it made of?
What are they made of? It’s made of glass
They’re made of glass/wood/metal/ plastic


Contoh penggunaan fungsi bahasa diatas, dapat diaplikasikan untuk semua jenis sekolah karena sifatnya umum dan situasinya yang juga umum. Lexical items ataupun kosa kata yang akan digunakan bisa spesifik ataupun umum, yang ditemui di masing-masing jenis sekolah termasuk madrasah.
Dengan demikian untuk prinsip komunikatif, sebenarnya tidak ada masalah bagi guru untuk menerapkannya di jenis sekolah apapun, kecuali pemilihan kosa kata yang harus lebih spesifik, tergantung kepada kebutuhan. Sebagai contoh penggunaan fungsi bahasa di atas, dapat dilihat bagaimana sebaiknya pelajaran/tes ‘speaking’ disampaikan sbb:
Instruction: This test is given to see how well you speak English. You have to work in pairs and ask questions and answer with your friend. You must look at clues given to you as a guide for speaking
Level of test takers: 2nd year
Time allocated: 10 minutes
Topic: Describing Objects
You ask your friend where the bowl is
You answer where it is
You ask which of the bowl can be used
Tell him which one (mention the size and color)
You ask what it is made of

Latihan atau tes speaking dengan cara “Guided Exercise” ini sangat membantu siswa agar cepat dapat memahami pemakaian tata bahasa dalam situasi yang sebenarnya dan disamping itu mereka akan termotivasi.
Apakah metode komunikatif bisa diterapkan di semua jenis sekolah? Bagaimana dengan pelajaran bahasa Inggris for special purposes? Salah satu pertanyaan ini akan terjawab dengan melihat contoh yang ada untuk memberikan gambaran yang lengkap mengenai tes yang komunikatif.
Namun demikian penulis akan memberikan contoh menganalisis susunan tes terlebih dahulu agar para guru dapat mengdopsi suatu bentuk tes yang lebih berkualitas dan sesuai bagi siswa.
Analisis yang dimaksud adalah dengan:
1. Menganalisis terlebih dahulu bentuk-bentuk tesnya,
2. Memahami persyaratan utama dalam penyusunan tes yang lebih efektif, efisien, dan komunikatif,
3. Merubah sistem tes konvensional dengan sistem yang lebih baru, mudah dipahami maksud dan tujuannya.
2.4 Prinsip-Prinsip dalam Menyusun Tes
Dalam menyusun suatu tes (harian maupun ujian akhir tahun), Mike O’ralley, (the British Council, 1996) menjelaskan bahwa susunan tes seharusnya meliputi:
1. Tes item (tugas) sedapat mungkin sama dengan penggunaan bahasa komunikasi yang ada pada dunia nyata, atau dengan kata lain harus realistik.
2. Tes item harus kontekstual (masing-masing membentuk suatu kalimat yang berdiri sendiri serta mengandung arti).
3. Mempunyai target dan level peserta tes yang jelas (level of audience) seperti elementary, intermediate, advanced atau pre-advanced dst, sehingga tujuan komunikatif menjadi jelas.
4. Kriteria penilaian harus jelas dan dititik-beratkan pada pengertian komunikasi efektif (focus on meaning) dari pada penilaian yang kaku yang memfokuskan pada pemakaian standar ketata-bahasaan.
5. Bahasa dihasilkan sebagai suatu hasil tes dari pada sekedar diketahui. Dalam hal ini tes yang disajikan harus meliputi 4 aspek ketrampilan berbahasa (listening, speaking, reading dan writing) yang produktif.
Selanjutnya, prosedur ataupun sistematika penulisan perintah awal, informasi pendahuluan, target peserta tes harus tertulis dengan jelas dan konsisten, seperti misalnya:
- Fokus tes, apakah hanya untuk tes tata bahasa, kosa kata, phonetics (bunyi bahasa), mengarang, mendengarkan atau berbicara.
- Peserta tes (tes takers) juga harus disebutkan, apakah peserta seluruhnya tingkat elementary, intermediate, advanced atau pre-advanced, dll.
- Tes Instructions, harus lengkap dan betul-betul mengarahkan siswa untuk mengerjakan apa yang harus dikerjakan.
Bagi guru-guru yang telah terbiasa menyusun tes dengan cara konvensional, seperti halnya substitution drill (untuk structure, phonetics, sounds, words, dll) ataupun sistem objective tes yang mengandung begitu banyak arti yang sering membingungkan siswa, cara penyusunan tes yang baru ini agak sedikit lebih sulit kalau tidak dibiasakan dari awal.
Disamping dari segi konteks yang harus ditonjolkan, salah satu persyaratan yang lain yang tidak kalah pentingnya dalam tes dengan standar yang baik adalah bahasa instruksi yang harus jelas, tersusun langkah-langkah kegiatan yang harus dikerjakan oleh siswa, dan tidak membingungkan siswa.
Pada bagian berikut ini kami menuliskan kembali seluruh bahan contoh yang disajikan oleh Mike O’ralley pada penataran Bahasa Inggris di PPPGT Cimahi – Bandung, sebagai suatu bahan latihan bagi para guru untuk memahami pola (frame work), sistematika, persyaratan, susunan dan pengertian suatu tes yang akan disajikan kepada siswa.
2.5 Pola Penyusunan Tes Komunikatif
(Tipe Tes dan seberapa Komunikatif? )
Contoh:
Evaluate the ’communicativeness’ of each of the following question types, using the five listed criteria (note: focus on the type of question or task, rather than on the specific details, faults or qualities of the particular examples given).
A. Testing Focus : Grammar
Instruction : Write on word to fill each gap
Test takers : Elementary

Last week, my friend, Peter, rang me. So I invited … to come to my house for dinner. While we … eating, he asked me … . I looked so depressed. I said it was because … problems at work. “ … kind of problems?” he wanted to know. (etc., etc.)

Marking : 1 point for each fully correct answer
YES 4 TOTAL
3

NO 1
0
Realistic Context Audience Productive

B. Testing Focus : Grammar
Instruction : Each sentence contains four words or phrases which are underlined and labeled A, B, C or D. Select the underlined word or phrase which is incorrect or unacceptable

Test Takers : Intermediate

1. I do hope you wouldn’t mind waiting for such a long time.
A B C D

2. I didn’t see Budi since he went into hospital last month.
A B C D

Marking : 1 point for each fully correct answer
YES 4 TOTAL
3

NO 1
0
Realistic Context Audience Productive
C. Testing Focus : Speaking
Description : Test-takers are interviewed individually by an examiner. The examiner asks a series of prepared questions in the following order. The test-taker gives brief responses to each question.
Test Takers : Elementary

What is your name?
Are you married?
How many children have you got?
Where do you live?
Do you have a car?
What do you do?
Do you like your job?
What are your hobbies? (etc,. etc,.)

Marking : 2 points are awarded for each appropriate, correct response.
1 point for an appropriate, but faulty response.
0 point for an inappropriate or incomprehensible response
YES 4 TOTAL
3

NO 1
0
Realistic Context Audience Productive

D. Testing Focus : Vocabulary.
Instruction : Fill each gap with the best alternative: A, B, C, or D.
Test Takers : Elementary

1. He was … , so he went out to eat.
A. hungry B. angry C. thirsty D. empty

2. I don’t like working with her at all. She’s really … .
A. kind B. nice C. lazy D. patient

Marking : 1 point for each fully correct answer
YES 4 TOTAL
3

NO 1
0
Realistic Context Audience Productive


E. Testing Focus : Vocabulary
Instruction : Read the following dictionary definitions and complete the word in the examples.
Test Takers : Pre-intermediate

1. ..(?).. (noun): the outer covering of some kinds of fruits, etc.:
Example: He slipped on a banana s_ _ _ when he was walking in the zoo.

2. ..(?).. (noun): a person who lives near your home
Example: Our next-door n _ _ _ _ _ _ _ _ was angry, because we made a lot of noise.

Marking : 1 point for each fully correct answer
YES 4 TOTAL
3

NO 1
0
Realistic Context Audience Productive


F. Testing Focus : Writing
Instruction : You have seen the following advertisement in a student newspaper. You decide to answer it.
Test Takers : Pre-intermediate (teenagers)

PEN FRIENDS WANTED

I am British engineering student and I would like to correspond with someone who is learning English. My hobbies are traveling, outdoor sports and rock music. If you would like to exchange letters with me, write and tell me about yourself to: Jim/Jane Brown, 48 Wood Lane, Telford, TF2 8 HE, U.K

Write a replay to about 200 words. You very much want to have a pen friend, so be friendly and make yourself sound interesting. Your letter should also be clear, well organized and easy to read.



Marking : Impression mark out of 20, based on the criteria mentioned instructions.
YES 4 TOTAL
3

NO 1
0
Realistic Context Audience Productive


Tes Membaca
Membaca merupakan kegiatan yang penting, dan menjadi semakin penting pada zaman modern ini, pada saat perkembangan dalam berbagai segi kehidupan terjadi amat cepat. Informasi tentang perkembangan itu direkam dan disebarluaskan melalui berbagai media, buku, dan sebagainya. Untuk memahami semua jenis informasi yang termuat dalam berbagai bentuk tulisan itu, mutlak diperlukan kegiatan membaca, disertai kemampuan untuk memahami isinya. Tanpa kemampuan memahami isi bacaan, banyak informasi yang tidak dapat diserap dengan tepat dan cepat, dan dengan mudah menjadiksn orang ketinggalan Zaman. Kemampuan memahami isi bacaan itulah yang menjadi tujuan pokok dari pengajaran bahasa, dan sekaligus merupakan sasaran utama dari tes membaca, atau lebih tepat dan lengkapnya tes kemampuan membaca.
Seperti halnya menyimak, membaca mengandalkan kemampuan berbahasa yang pada dasarnya bersifat pasif-receptif. Dengan membaca, seseorang pertama-tama berusaha untuk memahami informasi yang disampaikan orang lain dalam bentuk wacana tulis. Meskipun pemahaman terhadap isi wacana tulis itu bukan semata-mata dan sepenuhnya terjadi tanpa kegiatan pada diri pembaca, namun kemampuan membaca pada dasarnya adalah kemampuan berbahasa yang bersifat pasif-receptif. Dalam hal informasi dan pesanyang disampaikan, dan bagaimana informasi serta pesan-pesan itu disampaikan, seorang pembaca pada dasarnya hanyalah bertindak sebagai penerima. Dia bukanlah pihak yang pertama-tama menyampaikan informasi dan pesan. Itulah sebabnya membaca dan kemampuan memahami bacaan pada dasarnya merupakan kemampuan yang pasif-receptif.
Informasi tertulis untuk dibaca dan dipahami dapat diungkapkan dalam berbagai bentuk penggunaan bahasa, mulai dari ungkapan pendek seperti kalimat, sampai ungkapan yang lebih lengkap dan lebih panjang seperti paragraph, essay sampai buku. Semuanya merupakan pesan tertulis yang isi dan maknanya hanya dapat dipahami dengan membaca, dengan mengandalkan kemampuan membaca. Kemampuan membaca itu ada kalanya perlu dipastikan tingkatnya melalui pengukuran dengan mengadakan tes membaca. Tujuan pokok penyelenggaraan tes membaca adalah mengetahui dan mengukur tingkat kemampuan untuk memahami bahan bacaan. Tingkat kemampuan membaca itu tercermin pada tingkat pemahaman terhadap isi bacaan, baik yang secara jelas diungkapkan di dalamnya (tersurat), maupun yang hanya terungkap secara tersamar dan tidak langsung (tersirat), atau bahkan sekedar merupakan implikasi dari isi bacaan. Semua itu merupakan bagian dan perwujudan dari kemampuan memahami bacaan yang dapat dijadikan dasar dan acuan dalam menyusun butir-butir tes membaca.
Sebagaimana halnya tes untuk kemampuan berbahasa dan komponen bahasa yang lain, tes untuk mengetahui tingkat kemampuan memahami isi bacaan dapat diselenggarakan dengan menggunakan berbagai format tes yang tersedia. Tes membaca dapat disajikan dalam bentuk tes subjektif dengan pertanyaan-pertanyaan yang dapat dijawab melalui jawaban panjang dan lengkap, atau sekedar jawaban-jawaban pendek. Selain itu tes membaca dapat pula disajikan dalam salah satu bentuk tes objektif, seperti tes melengkapi, menjodohkan, bentuk pilihan ganda, atau bentuk-bentuk gabungan. Beberapa contoh dari berbagai bentuk tes membaca itu akan diketengahkan di bawah ini.
G. Testing Focus: Reading.
Melengkapi wacana
Bacalah wacana di bawah ini yang belum sepenuhnya selesai. Tambahkanlah satu kata yang sesuai, untuk melengkapi wacana tersebut.
Example: In his travels about China as a representative of Khublai Khan, Marco Polo observed that the Chinese were extremely honest. They left their doors open at night without fear of …..
Jawaban: (thief)
Wacana (1): Instead of using one word over and over again, a person who has a good vocabulary uses different words with the same….
Wacana (II): As cities become larger, it is necessary for the engineers to seek new sources of water to meet the demand of growing …
Menjawab Pertanyaan
Bacalah wacana di bawah ini dengan seksama. Jawablah pertanyaan-pertanyaan tentang isinya secara akurat.
Example: Reading Text I
The school girls admire Malaysia’s national car during a visit to the Proton Saga assembly plant in Syah Alam. Though built largely of Japanese parts, the car has become the nation’s symbol of success. To tap Malaysia’s low labor cost, Japanese conglomerates are building industrial parks all around Kuala Lumpur. At an-airconditioning factory owned by Matshushita , Malaysian managers learn Nippondo, the “Japanese way”.

Contoh pertanyaan (1):
What are the school-girls visiting?
Jawaban (1): Car assembly plant.
Contoh pertanyaan (2):
How do they feel during the visit?
Jawab (2): They feel proud.
Contoh pertanyaan (3):
How do the Malaysian consider the assembly plant?
Jawab (3): Their nation’s symbol of success.
Contoh pertanyaan (4):
Why is the assembly plant built in Maysia?
Jawab (4) : Low labor cost.
Example: Reading Text II
Favored shore for Japanese vacationers, Queensland has also become a magnet for Japanese investors, who are building hotels in the resort region known as the Gold Coast. A thousand miles north in Cairns, Shuji Yokoyama, chairman of Daikyo Incorporated, surveys a new golf course, part of one billion dollars in development the company is spending to capture the tourist dollar and yen.
Pertanyaan 1:
What are the main reasons for the Japanese to go to Queensland?
Pertanyaan 2:
What do they do to invest their money in Queensland?

Pertanyaan 3:
Who do they expect to be their customers?
Marking : 2 points are awarded for each appropriate, correct response.
1 point for an appropriate, but faulty response.
0 point for an inappropriate or incomprehensible response

YES 4 TOTAL
3

NO 1
0
Realistic Context Audience Productive

Meringkas Isi Bacaan
Tergantung pada tingkat kemampuan berbahasa yang merupakan tujuan pengajaran atau telah dikuasai peserta tes, teks bacaan untuk tugas meringkas isi bacaan ini dapat beragam bentuk, panjang dan pokok bahasannya. Pada tingkat awal, tes meringkas isi bacaan didasarkan atas teks bacaan yang sederhana baik dalam hal isi, panjang maupun gaya bahasa. Demikian juga dalam hal isi dan bentuk jawaban yang diminta. Semakin tinggi tingkat kemampuan berbahasa yang dijadikan tujuan penyelenggaraan tesnya, semakin panjang teks bacaan yang digunakan, dan semakin banyak serta lengkap pula jenis ringkasan yang harus disusun. Harus dicatat pula bahwa meringkas isi bacaan tidak sepenuhnya merupakan tes membaca karena jawaban yang dituntut dalam bentuk ringkasan itu menyangkut penggunaan kemampuan menulis. Usaha untuk mengurangi pengaruh kemampuan menulis dalam tes meringkas isi bacaan dapat dilakukan dengan lebih menitik-beratkan penilaian terhadap isi jawaban daripada unsur-unsur lain seperti susunan kalimat, tata bahasa, ejaan, dan sebagainya.
Berikut adalah contoh tes meringkas isi bacaan untuk tingkat permulaan.
Bacalah text di bawah ini. Tuliskan satu kalimat yang merupakan inti dan ringkasan dari bacaan tersebut.
Example:
Starting with the 1968 models, all new cars must be equipped to meet federal standards that will cut by more than half the amount of pollution that will come out of their exhaust pipes. But this will only answer the problem for a while. Before long, there will be so many cars that they will create a pollution problem even with the new standards.
Contoh Jawaban: There will still be pollution even if there are new federal standards to limit it, because there will be many new cars.
Marking : Impression mark out of 20, based on the criteria mentioned instructions.
YES 4 TOTAL
3

NO 1
0
Realistic Context Audience Productive

BAB III
BENTUK AKHIR TES BAHASA

Dengan melalui tahapan-tahapan penyusunan tes diatas, diharapkan bahwa pada akhirnya dapat diperoleh tes bahasa yang baik, dalam bentuk akhirnya yang mantap. Sebagai bentuk akhir yang mantap, tes itu telah dikembangkan atas dasar kajian terhadap berbagai faktor penting, termasuk tujuan penyelenggaraan yang jelas, serta bentuk dan jenis tes yang sesuai dengan kebutuhan, keadaan, maupun kemampuan untuk mengembangkannya.
Pengembangan dan pemantapan tes bahasa yang telah sampai kepada bentuk akhir itu, telah pula meliputi kajian terhadap jenis dan validitas, yang merupakan ciri tes yang penting. Demikian pula halnya dengan kajian terhadap reliabilitas, yang merupakan ciri penting lain yang perlu dipastikan tingkat keberadaannya. Semua itu merupakan informasi yang perlu disusun dan dipersiapkan menyertai bentuk akhir tes bahasa yang telah dikembangkan dan siap untuk digunakan.
Informasi yang lebih lengkap tentang bentuk akhir tes bahasa itu bukan seyogyanya memuat pula hasil kajian terhadap ciri-ciri butir tesnya, seperti tingkat kesulitan dan daya pembedanya. Disamping itu telah pula disiapkan cara untuk melakukan penilaian terhadap pekerjaan peserta tes, mulai dari cara melakukan pemeriksaan yang objektif, sampai dengan cara melakukan penghitungan untuk menentukan nilai akhir. Untuk itu antara lain perlu disediakan kunci jawaban sebagai alat atau pedoman pemeriksaan. Untuk tes obyektif, kunci jawaban itu dapat berupa daftar jawaban singkat (untuk tes jawaban singkat), daftar nomor dan huruf jawaban benar atau lembar jawaban yang telah dilubangi pada bagian-bagian yang merupakan letak jawaban benar tersebut. Dengan perangkat yang lebih canggih, koreksi lembar jawaban tes obyektif itu dapat dilakukan secara otomatis dan cepat dengan menggunakan alat yang dikenal sebagai scanner.
Sementara itu pemeriksaan terhadap pekerjaan tes esay memerlukan perangkat yang berbeda. Karena sifatnya yang subyektif, isi dan bentuk jawaban-jawaban terhadap butir-butir tesnya tidak dapat sepenuhnya dipastikan sebelumnya. Meskipun demikian, tidaklah berarti bahwa jawaban-jawaban peserta itu sepenuhnya tidak dapat diduga dan diperhitungkan sebelumnya, sehingga tidak dapat disediakan kunci jawabannya.
Untuk mengurangi subyektifitas dan kekurang-ajegan pemeriksaan terhadap jawaban tes esay, perlu disiapkan rambu-rambu dan patokan pelaksanaan pemeriksaan. Rambu-rambu itu meliputi petunjuk-petunjuk praktis seperti menghilangkan, menyembunyikan, atau tidak memperhatikan identitas peserta tes selama pemeriksaan; melakukan pemeriksaan terhadap jawaban nomor butir pertanyaan yang sama secara berkesinambungan pada semua lembar pekerjaan, dan tidak sekaligus menuntaskan pemeriksaan terhadap semua jawaban pada satu lembar pekerjaan saja; menentukan rentangan skor, bila perlu untuk kelengkapan dan mutu jawaban terhadap masing-masing butir tes yang mungkin berbeda-beda, dan sebagainya. Bagi tes jawaban pendek, rambu-rambu pemeriksaan itu terutama berupa daftar jawaban untuk masing-masing butir tes, beberapa diantaranya mungkin memiliki lebih dari satu jawaban yang benar Itu semua perlu dipersiapkan sebagai bagian dari kelengkapan bentuk akhir tes yang telah dikembangkan.
Dengan demikian, dalam bentuknya yang paling akhir, tes bahasa yang telah siap untuk digunakan itu secara keseluruhan meliputi naskah tes dengan butir-butir yang jumlahnya telah sesuai dengan kebutuhan, dan isi serta rumusannya telah terkaji.
Dengan penampilan yang rapi dan jelas, tes itu tersajikan dalam bentuk naskah yang dilengkapi dengan petunjuk pengerjaan yang singkat dan jelas, termasuk lama waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan, serta lembar jawaban sesuai kebutuhan. Telah pula tersedia kunci jawaban untuk melakukan pemeriksaan terhadap pekerjaan peserta tes, baik berupa daftar nomor dan huruf jawaban benar bagi tes obyektif, maupun daftar alternatif jawaban benar bagi tes jawaban pendek , dan rambu-rambu penilaian bagi tes esay. Catatan tentang cara mengolah skor mentah untuk memperoleh nlai akhir , bila dapat disiapkan, juga merupakan bagian dari seluruh persiapan penyelenggaraan tes bahasa yang lengkap.
Berikut akan saya contohkan test writing yang sudah dalam bentuk akhir.



UJIAN PRAKTEK
TAHUNPELAJARAN …………

Mata pelajaran : Bahasa Inggris Hari / Tanggal :
Kelas : 3 (tiga)/IPS/Bahasa Waktu : 120 menit

Do the following items correctly!
1. Read the following letter.


Situation: Several days ago, you saw some students do smoking in the
school area. In fact, students are not allowed to do that.
Now write a letter of complaint based on the situation
above to your head master.

2. Describe the picture as the example.
- Jane is fat. She has short hair. She is wearing long skirt and blouse. She is carrying a hand bag on her left hand. She is bringing an umbrella on her right hand. Her shoes are white.

- Suzan is tall. She has curly hair. She is wearing black trousers. She is wearing t-shirt. She is wearing spectacles. She is carrying a hand bag on her right hand. She is bringing an umbrella on her left hand. Her shoes are black.

- Now write about Michelle-Leslie:


A. Read the following conversation carefully.
Uncle Tom : What was the weather like while you were camping?
Reza : Not too bad. It rained the last days, but mostly it was fine.
We weren’t able to visit the “Coban Rondo” Waterfalls on
the next to the last day, but ….
Uncle Tom : What a pity!
Reza : Well apart from that we did everything we wanted to –
walking, climbing, and just sitting in the garden.
Uncle Tom : How did you get there?
Reza : We rode motorcycle. Oh… and went to the forest quite a
few times.
Uncle Tom : Where about were you?
Reza : Oh, in lovely valley – lots of woods and about three miles
from the mount.
Uncle Tom : I remembered one time when I went camping. We forgot
to take the opener!
Reza : That’s nothing. A goat came into our tent in the middle of
the night. It ate all the food we had with us.
Uncle Tom : Well, you seem to have had a good time.

B. Now write about Reza’s holiday, using the conversation above as a
guide. Imagine other things which happened to him during the
camping holiday.


3. A. Read the data carefully.
Mamad’s aunt: 160 cm tall – long, straight hair – dark skin – brown eyes and pretty – born in 1965 – graduate from a college – married in 1990 – a son born in 1992; a daughter born in 1997 – tolerant with the children – like cooking and shopping very much – religions

B. Write a paragraph based on the data given about Mamad’s aunt.
Start your paragraph with:
My friend Mamad has an aunt who lives at Jl. Borobudur 25 Malang. She …….

4. Study this announcement issued by an express delivery company in an out standing newspaper.


Now write another announcement based on the situation below.

There is black out (pemadaman listrik) on Jl. Bandung and nearby area. It stars from 10th to 12th of March 2006. Computer class will be effective again right after the black out is over.

***@@@ GOOD LUCK @@@***


BAB IV
KESIMPULAN DAN PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Hasil tes ulangan semester dan ulangan harian serta hasil tes UNAS siswa MA setiap tahun pada umumnya selalu memprihatinkan dan mengecewakan. Keadaan tersebut disebabkan oleh sistem mengajar dan pemberian tes dari guru yang masih konvensional, yaitu terlalu menitik beratkan pelajaran tata bahasa yang tidak integratif dengan (terpisah dari) fungsi bahasanya.
Diperlukan pemecahan dalam hal pembelajaran yang tepat yang membuat materi mudah dipahami dan tidak membingungkan siswa. Solusi dari hal itu adalah dengan menerapkan pembelajaran bahasa Inggris menggunakan pendekatan komunikatif (communicative approach). Dengan demikian mengandung konsekuensi dalam penilaiannya yang juga harus sejalan dengan model tersebut.
Konsep penyusunan tes Bahasa Inggris Menggunakan Pendekatan Komunikatif ini disajikan sebagai suatu bahan alternatif bagi guru bahasa Inggris SMU/MA untuk mampu menyusun tes yang baik, valid, reliable dan memenuhi sifat tes yang minimal terstandar sesuai dengan pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan komunikatif..

4.2 Penutup
Demikianlah contoh analisis tes yang akan sangat bermanfaat bagi guru bahasa Inggris dalam memahami tes yang berdasarkan pendekatan komunikatif, baik bagi siwa MA maupun siswa yang lain secara umum. Namun demikian, masih diperlukan latihan yang sangat banyak dan sering sehingga para penyusun tes dapat melihat dan merasakan suatu fungsi bahasa yang sangat tepat, mempunyai makna, tidak kaku dan realistik bagi peserta tes.
Hal-hal lain yang perlu dipelajari dan dikuasai adalah dalam hal teknik penyusunan materi atau bahan ajar dengan sistem yang mestinya juga komunikatif terlebih dahulu sebelum menyusun tes.
Akhirnya penulis menyadari bahwa banyak dalam tulisan ini yang kurang sempurna, untuk itu segala macam bentuk kritik dan saran demi perbaikan yang diperlukan akan kami terima dengn segala senang hati, dan semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca sekalian.

DAFTAR PUSTAKA

Azies, Furqanul dan Alwasilah, Chaedar, A. 1985. Pengajaran Bahasa Komunikatif; Teori dan Praktek. Bandung. Penerbit PT Remaja Rosdakarya.

Brown, Douglass, R. 1994. Teaching by Principles. A Paramount Communications Company Cliffs, NJ: Prentice Hall Regents.

David P. Harris. 1976. “Testing Reading Comprehension in ESL/EFL: Background and Current State of the Art”, in Edward Anthony and Jack Richards (Eds). Reading: Insights and Approaches. Singapura: Singapore University Press.

Departemen Agama RI. 1994. Kurikulum Madrasah Aliyah GBPP bahasa Inggris. Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Jakarta.

Jr., John W. 1979. Language Tests at School. Longman. London

Kimtafsirah. 1995. Pedoman Pelaksanaan Pembelajaran Bahasa Inggris. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pusat Pengembangan Penataran Guru Bahasa.

Pophan, W. James. 1995. Classroom Assessment, What Teachers Need to Know. Allyn & Bacon. A. Simon & Schuster Company, Needham Heights. Mass. 02194.

Pyle, Michael, A. and Munoz, Mary, Ellen. 1996. TOEFL Preparation Guide. Singapore. John and Willey & Sons.

Shuying, Yang. 1999. Classroom Speaking activities, Forum Journal, 37, 4. Pp. 22-23.

World Development Report. 1999/2000. Entering the 21st Century. Oxford University Press. Inc.