Kamis, 22 April 2010

Konsep Penyusunan Test Bahasa Inggris

KONSEP PENYUSUNAN TES BAHASA INGGRIS
DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN KOMUNIKATIF


Achmad Kusairi


Perkembangan konsep penilaian pada saat ini telah menunjukkan arah lebih luas yang mencakup pandangan: a) Penilaian tidak hanya diarahkan pada tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, tetapi juga mengarah pada tujuan tersembunyi, yang didalamnya termasuk efek samping yang mungkin timbul. b) Penilaian tidak hanya dilakukan dengan pengukuran perilaku siswa, tetapi juga melakukan pengkajian terhadap komponen-komponen pendidikan baik masukan ataupun keluarannya. c) Penilaian tidak hanya dimaksudkan untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pembelajaran yang ditetapkan, tetapi juga untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran dimaksud penting bagi siswa dan bagaimana siswa dapat mencapainya. d) Karena luasnya tujuan dan objek penilaian, maka alat yang digunakan dalam penilaian sangat beraneka ragam.
Khusus pembelajaran Bahasa Inggris yang menggunakan pendekatan komunikatif (Communicative Approach), maka cara pemerolehan nilai melalui tes harus pula mengacu pada pendekatan tersebut. Konsep penyusunan tes Bahasa Inggris Menggunakan Pendekatan Komunikatif ini disajikan sebagai suatu bahan informasi bagi guru bahasa Inggris SMA/MA yang dituntut untuk mampu menulis tes yang baik, valid, reliable dan memenuhi sifat tes yang minimal terstandar.
Konsep ini merupakan konsep tes baru dan modern yang mengacu pada Sistem Tes Standar Internasional (IELTS) secara otomatis. IELTS adalah suatu sistem tes yang disusun dan dikembangkan oleh The British Council, IDP Education Australia, dan The University of Cambridge Local Examination Syndycate sejak tahun 1989.
Dalam tes yang menggunakan konsep ini, pendekatan komunikatif mendasari penggunaan beberapa model tes tertentu, khususnya dikte (dictation), tes cloze, dan C-tes, sebagai suatu bentuk pengembangan tes “Cloze”. Sesuai dengan pandangannya terhadap bahasa, bentuk-bentuk tes komunikatif ini selalu mengunakan wacana yang mengandung konteks, bukan semata-mata kalimat atau kata-kata lepas.


Kata Kunci: konsep penilaian, pendekatan komunikatif



BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah

Kebijakan pendidikan terkini yang diterapkan adalah dalam rangka menghadapi kompetisi pada era globalisasi. Kunci menghadapi dan memenangkan kompetisi pada era ini pada dasarnya terletak pada kualitas sumber daya manusia. SDM yang berkualitas pada gilirannya dapat dicapai bila peserta didik dan lulusan setiap jenjang pendidikan di negeri ini memiliki kompetensi yang memadai. Oleh karena itu, kompetensi dijadikan orientasi dalam menentukan kebijakan, terutama dalam konteks kurikulum. Untuk mengukur kompetensi itulah diperlukan penilaian yang tepat.
Penilaian pendidikan bisa bersifat kuantitatif ataupun kualitatif. Yang kuantitatif biasanya berupa angka, sedangkan yang kualitatif hasilnya bukan berupa angka, tetapi pernyataan kualitatif, yaitu berupa pernyatan sangat baik, baik, cukup, kurang, sangat kurang dan sebagainya. Pengukuran, penilaian, dan evaluasi bersifat hierarkis, maksudnya kegiatan dilakukan secara berurutan, yaitu dimulai dari pengukuran, kemudian penilaian, dan terakhir evaluasi. Penilaian merupakan bagian dari pengukuran yang dilanjutkan dengan kegiatan penilaian.
Perkembangan konsep penilaian pada saat ini telah menunjukkan arah lebih luas yang mencakup pandangan: a) Penilaian tidak hanya diarahkan pada tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, tetapi juga mengarah pada tujuan tersembunyi, yang didalamnya termasuk efek samping yang mungkin timbul. b) Penilaian tidak hanya dilakukan dengan pengukuran perilaku siswa, tetapi juga melakukan pengkajian terhadap komponen-komponen pendidikan baik masukan ataupun keluarannya. c) Penilaian tidak hanya dimaksudkan untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuam pembelajaran yang ditetapkan, tetapi juga untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran dimaksud penting bagi siswa dan bagaimana siswa dapat mencapainya. d) Karena luasnya tujuan dan objek penilaian, maka alat yang digunakan dalam penilaian sangat beraneka ragam.
Pembaharuan kurikulum sedang berproses, memiliki banyak aspek yang harus ditangani secara serius dan teliti, terutama dalam menentukan prioritas penggarapan secara bertahap dan simultan. Bila mencermati kondisi madrasah yang berjalan selama ini, maka perlu adanya perhatian secara serius berkenaan dengan sistem penilaian pembelajaran. Hal ini diperlukan karena penilaian pembelajaran memiliki kedudukan strategis yang mencakup keseluruhan proses pendidikan yang berjalan. Karena hasil dari penilaian dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk melakukan perbaikan aktivitas pembelajaran agar lebih konstruktif dan dinamis.
Khusus pembelajaran Bahasa Inggris yang menggunakan pendekatan komunikatif (Communicative Approach), maka cara pemerolehan nilai melalui tes harus pula mengacu pada pendekatan tersebut. Konsep penyusunan tes Bahasa Inggris Menggunakan Pendekatan Komunikatif ini disajikan sebagai suatu bahan informasi bagi guru bahasa Inggris SMU/MA yang dituntut untuk mampu menulis tes yang baik, valid, reliable dan memenuhi sifat tes yang minimal terstandar.
Selanjutnya pada konsep ini akan dijelaskan mengenai prinsip-prinsip pendekatan komunikatif yang digunakan pada sistem mengajar termasuk sistem penyusunan tes agar para siswa dapat mengenali konteks dan item tes yang diujikan dengan cepat dan tidak menyesatkan (membingungkan siswa). Akhirnya penulis mengharapkan pengambil keputusan tingkat pusat agar berkenan mendukung penggunaan tes ini yang dapat diaplikasikan langsung bagi para guru Bahasa Inggris.

1.2 Tujuan Penulisan

Menyusun bahan informasi bagi guru SMA/MA untuk bisa memahami dan menganalisis sistem penyusunan tes Bahasa Inggris dengan menggunakan pendekatan komunikatif

1.3 Uraian Teori dan Fakta
Konsep ini merupakan konsep tes baru dan modern yang mengacu pada Sistem Tes Standar Internasional (IELTS) secara otomatis. IELTS adalah suatu sistem tes yang disusun dan dikembangkan oleh The British Council, IDP Education Australia, dan The University of Cambridge Local Examination Syndycate sejak tahun 1989.
Dalam tes yang menggunakan konsep ini, pendekatan komunikatif mendasari penggunaan beberapa model tes tertentu, khususnya dikte (dictation), tes cloze, dan C-tes, sebagai suatu bentuk pengembangan tes “Cloze”. Sesuai dengan pandangannya terhadap bahasa, bentuk-bentuk tes komunikatif ini selalu mengunakan wacana yang mengandung konteks, bukan semata-mata kalimat atau kata-kata lepas.
Pengerjaan tes yang menggunakan wacana, mempersyaratkan kemampuan memahami unsur-unsur kebahasaan maupun non-kebahasaan, sebagai bagian dari pemahaman terhadap wacana (text) secara keseluruhan. Tes yang dikembangkan dengan konsep pendekatan komunikatif ini, ditandai dengan adanya tugas untuk memahami wacana, melalui pemahaman unsur-unsur kebahasaan yang digunakan secara wajar, termasuk adanya berbagai kendala yang secara wajar terdapat pula di dalamnya (John W. 1979. p. 38).
Juga dalam konsep penyusunan tes ini menuntut para siswanya mengembangkan kemampuan memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tertulis maupun lisan dalam berbagai konteks dan ragam wacana (genre) (David P. Harris. 1976)

1.3 Permasalahan
Hasil ulangan semester dan ulangan harian serta hasil tes UNAS siswa MA setiap tahun pada umumnya selalu memprihatinkan dan mengecewakan sehingga banyak fihak yang menganggap bahwa mutu pembelajaran bahasa Inggris di MA tidak berkualitas.
Fenomena tersebut kemungkinan disebabkan oleh sistem mengajar dan pemberian tes dari guru yang masih konvensional, yaitu terlalu menitik beratkan pelajaran tata bahasa yang tidak integrative dengan (terpisah dari) fungsi bahasanya. Selanjutnya juga adanya kecenderungan sikap anti pati siswa terhadap pelajaran Bahasa Inggris serta motivasi siswa yang sangat kurang dibanding dengan siswa sekolah yang lain.
Disamping itu, apabila dilihat pada Kurikulum MA ’94, program studi bahasa Inggris pada masing-masing jenis sekolah tidak satu sistem dan jumlah jam tidak sama. Pada beberapa jenis sekolah bahkan tidak menggambarkan penggunaan kurikulum yang berdasarkan kebutuhan dan tidak menggambarkan pengaruh pada sistem metode komunikatif.
Selanjutnya, pada sistem tes konvensional, tata bahasa yang diujikan terpisah dan terpenggal dari pemakaian (fungsinya) yang nyata (real) akan tetap membuat siswa menjadi bingung dan tidak memahami untuk apa, bagaimana serta kapan tata bahasa tersebut digunakan. Permasalahan berikut, yang seharusnya mendapat perhatian, adalah bahwa tes UNAS disatukan, akan timbul permasalahan yang baru, mulai dari sistem pengelolaan dan bentuk tes yang paling sesuai dengan siswa tersebut.
Untuk mengantisipasi beberapa permasalahan, pada bab berikut, akan penulis coba untuk menguraikan beberapa strategi yang dapat membantu para guru dalam menyusun suatu bentuk tes harian maupun tes yang akan sesuai bagi siswa MA.


BAB II
TINJAUAN

2.1 Prinsip Pendekatan komunikatif

Titik tolak timbulnya permasalahan diatas disebabkan oleh berbagai hal yang akan diuraikan pada bab ini antara lain dengan cara mengenali terlebih dahulu beberapa prinsip penting yang seharusnya dikuasai oleh para guru MA.

2.2 Prinsip dalam Metodologi Mengajar

Keith Johnson (1983) menyatakan bahwa istilah komunikatif berkaitan erat dengan “Dasar pengetahuan ketata-bahasaan dan kemampuan menggunakan tata bahasa tersebut (communicative competence) dalam situasi yang sebenarnya (communicative situation) untuk memenuhi kebutuhan siswa berkomunikasi (communicative needs)”.
Jadi prinsip mengajar dengan pendekatan komunikatif adalah penguasaan pemakaian ilmu tata bahasa kepada situasi yang sebenarnya dengan menggunakan serangkaian prosedur dan teknik yang memungkinkan siswa dapat mengkomunikasikan keinginannya dalam bentuk (empat macam) ketrampilan produktif, yaitu mendengar, membaca, berbicara dan menulis.
Secara lengkap , pendekatan mengajar dengan sistem komunikatif harus meliputi: mempunyai arti (meaningful), kebutuhan spesifik, situasi spesifik, tempat/kejadian khusus (setting), peranan pembicara jelas hubungannya dan terdapat topic khusus yang dibicarakan.
Rangkaian aktifitas guru dan siswa dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan pendekatan komunikatif (Roger Scott, 1983), terdiri dari: penetapan tujuan, Konteks Bahasa, praktek/latihan, dan transfer.
2.2.1 Penetapan Tujuan
Guru hanya harus menuliskan/menetapkan tujuan dengan menonjolkan fungsi bahasa dari pada tata bahasa, misalnya: ”Siswa mampu menggunakan giving advice”, bukan siswa mampu menggunakan first personal pronoun + verb + second personal pronoun (singular/plural) + to invinitive + … dalam simple present tense.
2.2.2 Konteks Bahasa
Presentasi pengunaan konteks bahasa (contextualisation): target penggunaan bahasa yang sesuai dengan penggunanya, dengan cara mendemontrasikan pemakaian tata bahasa dalam suatu rangkaian bentuk yang lebih mempunyai arti. Misalnya: untuk giving advice, guru memberi contoh: “I’d rather like him to pick up that coat on the floor” dari pada dengan mengatakan: “Giving advice terdiri dari I sebagai first personal pronoun ditambah dengan … dst.
2.2.3 Praktek/Latihan
Ini merupakan pengulangan fokus bahasa (ke syntax dan phonology). Pada bagian ini siswa diharuskan melaporkan apa yang telah diketahui dengan cara tanya jawab dan guru harus menghindarkan diri dari penggunaan teknik “drilling” ataupun teknik lain yang strukturalis serta membosankan.
2.2.4 Transfer
Penggunaan teknik role-play, information gap, games dll. Pada tahapan ini siswa dibiasakan aktif mengungkapkan kemampuan lisan ataupun tulisan dan koreksi berulang-ulang dari guru harus dihindarkan untuk memotivasi siswa. Koreksi kesalahan tidak diperkenankan secara langsung (to the point), tetapi dengan cara lain yang lebih diplomatis dan tidak memojokkan siswa.
2.3 Contoh Rencana (silabus) Mengajar Komunikatif

Function Structures Topics
Describing Objects Prepositional Phrases Description of ...
Asking and saying Where things are; Its at the top of
Its at the corner of
Its at the right of
Its at the left of
Its at the middle of
Its at the bottom of Description of places, buildings, objects, shape, size, material
Describing objects What’s it like?
What are they like?
What colour is it?
What colour are they? It’s small/large/tall/light/thick/thin
They are square/round/rectangular
It is blue/red/yellow
They’re green/grey/black
Asking and saying what things are made of What’s it made of?
What are they made of? It’s made of glass
They’re made of glass/wood/metal/ plastic


Contoh penggunaan fungsi bahasa diatas, dapat diaplikasikan untuk semua jenis sekolah karena sifatnya umum dan situasinya yang juga umum. Lexical items ataupun kosa kata yang akan digunakan bisa spesifik ataupun umum, yang ditemui di masing-masing jenis sekolah termasuk madrasah.
Dengan demikian untuk prinsip komunikatif, sebenarnya tidak ada masalah bagi guru untuk menerapkannya di jenis sekolah apapun, kecuali pemilihan kosa kata yang harus lebih spesifik, tergantung kepada kebutuhan. Sebagai contoh penggunaan fungsi bahasa di atas, dapat dilihat bagaimana sebaiknya pelajaran/tes ‘speaking’ disampaikan sbb:
Instruction: This test is given to see how well you speak English. You have to work in pairs and ask questions and answer with your friend. You must look at clues given to you as a guide for speaking
Level of test takers: 2nd year
Time allocated: 10 minutes
Topic: Describing Objects
You ask your friend where the bowl is
You answer where it is
You ask which of the bowl can be used
Tell him which one (mention the size and color)
You ask what it is made of

Latihan atau tes speaking dengan cara “Guided Exercise” ini sangat membantu siswa agar cepat dapat memahami pemakaian tata bahasa dalam situasi yang sebenarnya dan disamping itu mereka akan termotivasi.
Apakah metode komunikatif bisa diterapkan di semua jenis sekolah? Bagaimana dengan pelajaran bahasa Inggris for special purposes? Salah satu pertanyaan ini akan terjawab dengan melihat contoh yang ada untuk memberikan gambaran yang lengkap mengenai tes yang komunikatif.
Namun demikian penulis akan memberikan contoh menganalisis susunan tes terlebih dahulu agar para guru dapat mengdopsi suatu bentuk tes yang lebih berkualitas dan sesuai bagi siswa.
Analisis yang dimaksud adalah dengan:
1. Menganalisis terlebih dahulu bentuk-bentuk tesnya,
2. Memahami persyaratan utama dalam penyusunan tes yang lebih efektif, efisien, dan komunikatif,
3. Merubah sistem tes konvensional dengan sistem yang lebih baru, mudah dipahami maksud dan tujuannya.
2.4 Prinsip-Prinsip dalam Menyusun Tes
Dalam menyusun suatu tes (harian maupun ujian akhir tahun), Mike O’ralley, (the British Council, 1996) menjelaskan bahwa susunan tes seharusnya meliputi:
1. Tes item (tugas) sedapat mungkin sama dengan penggunaan bahasa komunikasi yang ada pada dunia nyata, atau dengan kata lain harus realistik.
2. Tes item harus kontekstual (masing-masing membentuk suatu kalimat yang berdiri sendiri serta mengandung arti).
3. Mempunyai target dan level peserta tes yang jelas (level of audience) seperti elementary, intermediate, advanced atau pre-advanced dst, sehingga tujuan komunikatif menjadi jelas.
4. Kriteria penilaian harus jelas dan dititik-beratkan pada pengertian komunikasi efektif (focus on meaning) dari pada penilaian yang kaku yang memfokuskan pada pemakaian standar ketata-bahasaan.
5. Bahasa dihasilkan sebagai suatu hasil tes dari pada sekedar diketahui. Dalam hal ini tes yang disajikan harus meliputi 4 aspek ketrampilan berbahasa (listening, speaking, reading dan writing) yang produktif.
Selanjutnya, prosedur ataupun sistematika penulisan perintah awal, informasi pendahuluan, target peserta tes harus tertulis dengan jelas dan konsisten, seperti misalnya:
- Fokus tes, apakah hanya untuk tes tata bahasa, kosa kata, phonetics (bunyi bahasa), mengarang, mendengarkan atau berbicara.
- Peserta tes (tes takers) juga harus disebutkan, apakah peserta seluruhnya tingkat elementary, intermediate, advanced atau pre-advanced, dll.
- Tes Instructions, harus lengkap dan betul-betul mengarahkan siswa untuk mengerjakan apa yang harus dikerjakan.
Bagi guru-guru yang telah terbiasa menyusun tes dengan cara konvensional, seperti halnya substitution drill (untuk structure, phonetics, sounds, words, dll) ataupun sistem objective tes yang mengandung begitu banyak arti yang sering membingungkan siswa, cara penyusunan tes yang baru ini agak sedikit lebih sulit kalau tidak dibiasakan dari awal.
Disamping dari segi konteks yang harus ditonjolkan, salah satu persyaratan yang lain yang tidak kalah pentingnya dalam tes dengan standar yang baik adalah bahasa instruksi yang harus jelas, tersusun langkah-langkah kegiatan yang harus dikerjakan oleh siswa, dan tidak membingungkan siswa.
Pada bagian berikut ini kami menuliskan kembali seluruh bahan contoh yang disajikan oleh Mike O’ralley pada penataran Bahasa Inggris di PPPGT Cimahi – Bandung, sebagai suatu bahan latihan bagi para guru untuk memahami pola (frame work), sistematika, persyaratan, susunan dan pengertian suatu tes yang akan disajikan kepada siswa.
2.5 Pola Penyusunan Tes Komunikatif
(Tipe Tes dan seberapa Komunikatif? )
Contoh:
Evaluate the ’communicativeness’ of each of the following question types, using the five listed criteria (note: focus on the type of question or task, rather than on the specific details, faults or qualities of the particular examples given).
A. Testing Focus : Grammar
Instruction : Write on word to fill each gap
Test takers : Elementary

Last week, my friend, Peter, rang me. So I invited … to come to my house for dinner. While we … eating, he asked me … . I looked so depressed. I said it was because … problems at work. “ … kind of problems?” he wanted to know. (etc., etc.)

Marking : 1 point for each fully correct answer
YES 4 TOTAL
3

NO 1
0
Realistic Context Audience Productive

B. Testing Focus : Grammar
Instruction : Each sentence contains four words or phrases which are underlined and labeled A, B, C or D. Select the underlined word or phrase which is incorrect or unacceptable

Test Takers : Intermediate

1. I do hope you wouldn’t mind waiting for such a long time.
A B C D

2. I didn’t see Budi since he went into hospital last month.
A B C D

Marking : 1 point for each fully correct answer
YES 4 TOTAL
3

NO 1
0
Realistic Context Audience Productive
C. Testing Focus : Speaking
Description : Test-takers are interviewed individually by an examiner. The examiner asks a series of prepared questions in the following order. The test-taker gives brief responses to each question.
Test Takers : Elementary

What is your name?
Are you married?
How many children have you got?
Where do you live?
Do you have a car?
What do you do?
Do you like your job?
What are your hobbies? (etc,. etc,.)

Marking : 2 points are awarded for each appropriate, correct response.
1 point for an appropriate, but faulty response.
0 point for an inappropriate or incomprehensible response
YES 4 TOTAL
3

NO 1
0
Realistic Context Audience Productive

D. Testing Focus : Vocabulary.
Instruction : Fill each gap with the best alternative: A, B, C, or D.
Test Takers : Elementary

1. He was … , so he went out to eat.
A. hungry B. angry C. thirsty D. empty

2. I don’t like working with her at all. She’s really … .
A. kind B. nice C. lazy D. patient

Marking : 1 point for each fully correct answer
YES 4 TOTAL
3

NO 1
0
Realistic Context Audience Productive


E. Testing Focus : Vocabulary
Instruction : Read the following dictionary definitions and complete the word in the examples.
Test Takers : Pre-intermediate

1. ..(?).. (noun): the outer covering of some kinds of fruits, etc.:
Example: He slipped on a banana s_ _ _ when he was walking in the zoo.

2. ..(?).. (noun): a person who lives near your home
Example: Our next-door n _ _ _ _ _ _ _ _ was angry, because we made a lot of noise.

Marking : 1 point for each fully correct answer
YES 4 TOTAL
3

NO 1
0
Realistic Context Audience Productive


F. Testing Focus : Writing
Instruction : You have seen the following advertisement in a student newspaper. You decide to answer it.
Test Takers : Pre-intermediate (teenagers)

PEN FRIENDS WANTED

I am British engineering student and I would like to correspond with someone who is learning English. My hobbies are traveling, outdoor sports and rock music. If you would like to exchange letters with me, write and tell me about yourself to: Jim/Jane Brown, 48 Wood Lane, Telford, TF2 8 HE, U.K

Write a replay to about 200 words. You very much want to have a pen friend, so be friendly and make yourself sound interesting. Your letter should also be clear, well organized and easy to read.



Marking : Impression mark out of 20, based on the criteria mentioned instructions.
YES 4 TOTAL
3

NO 1
0
Realistic Context Audience Productive


Tes Membaca
Membaca merupakan kegiatan yang penting, dan menjadi semakin penting pada zaman modern ini, pada saat perkembangan dalam berbagai segi kehidupan terjadi amat cepat. Informasi tentang perkembangan itu direkam dan disebarluaskan melalui berbagai media, buku, dan sebagainya. Untuk memahami semua jenis informasi yang termuat dalam berbagai bentuk tulisan itu, mutlak diperlukan kegiatan membaca, disertai kemampuan untuk memahami isinya. Tanpa kemampuan memahami isi bacaan, banyak informasi yang tidak dapat diserap dengan tepat dan cepat, dan dengan mudah menjadiksn orang ketinggalan Zaman. Kemampuan memahami isi bacaan itulah yang menjadi tujuan pokok dari pengajaran bahasa, dan sekaligus merupakan sasaran utama dari tes membaca, atau lebih tepat dan lengkapnya tes kemampuan membaca.
Seperti halnya menyimak, membaca mengandalkan kemampuan berbahasa yang pada dasarnya bersifat pasif-receptif. Dengan membaca, seseorang pertama-tama berusaha untuk memahami informasi yang disampaikan orang lain dalam bentuk wacana tulis. Meskipun pemahaman terhadap isi wacana tulis itu bukan semata-mata dan sepenuhnya terjadi tanpa kegiatan pada diri pembaca, namun kemampuan membaca pada dasarnya adalah kemampuan berbahasa yang bersifat pasif-receptif. Dalam hal informasi dan pesanyang disampaikan, dan bagaimana informasi serta pesan-pesan itu disampaikan, seorang pembaca pada dasarnya hanyalah bertindak sebagai penerima. Dia bukanlah pihak yang pertama-tama menyampaikan informasi dan pesan. Itulah sebabnya membaca dan kemampuan memahami bacaan pada dasarnya merupakan kemampuan yang pasif-receptif.
Informasi tertulis untuk dibaca dan dipahami dapat diungkapkan dalam berbagai bentuk penggunaan bahasa, mulai dari ungkapan pendek seperti kalimat, sampai ungkapan yang lebih lengkap dan lebih panjang seperti paragraph, essay sampai buku. Semuanya merupakan pesan tertulis yang isi dan maknanya hanya dapat dipahami dengan membaca, dengan mengandalkan kemampuan membaca. Kemampuan membaca itu ada kalanya perlu dipastikan tingkatnya melalui pengukuran dengan mengadakan tes membaca. Tujuan pokok penyelenggaraan tes membaca adalah mengetahui dan mengukur tingkat kemampuan untuk memahami bahan bacaan. Tingkat kemampuan membaca itu tercermin pada tingkat pemahaman terhadap isi bacaan, baik yang secara jelas diungkapkan di dalamnya (tersurat), maupun yang hanya terungkap secara tersamar dan tidak langsung (tersirat), atau bahkan sekedar merupakan implikasi dari isi bacaan. Semua itu merupakan bagian dan perwujudan dari kemampuan memahami bacaan yang dapat dijadikan dasar dan acuan dalam menyusun butir-butir tes membaca.
Sebagaimana halnya tes untuk kemampuan berbahasa dan komponen bahasa yang lain, tes untuk mengetahui tingkat kemampuan memahami isi bacaan dapat diselenggarakan dengan menggunakan berbagai format tes yang tersedia. Tes membaca dapat disajikan dalam bentuk tes subjektif dengan pertanyaan-pertanyaan yang dapat dijawab melalui jawaban panjang dan lengkap, atau sekedar jawaban-jawaban pendek. Selain itu tes membaca dapat pula disajikan dalam salah satu bentuk tes objektif, seperti tes melengkapi, menjodohkan, bentuk pilihan ganda, atau bentuk-bentuk gabungan. Beberapa contoh dari berbagai bentuk tes membaca itu akan diketengahkan di bawah ini.
G. Testing Focus: Reading.
Melengkapi wacana
Bacalah wacana di bawah ini yang belum sepenuhnya selesai. Tambahkanlah satu kata yang sesuai, untuk melengkapi wacana tersebut.
Example: In his travels about China as a representative of Khublai Khan, Marco Polo observed that the Chinese were extremely honest. They left their doors open at night without fear of …..
Jawaban: (thief)
Wacana (1): Instead of using one word over and over again, a person who has a good vocabulary uses different words with the same….
Wacana (II): As cities become larger, it is necessary for the engineers to seek new sources of water to meet the demand of growing …
Menjawab Pertanyaan
Bacalah wacana di bawah ini dengan seksama. Jawablah pertanyaan-pertanyaan tentang isinya secara akurat.
Example: Reading Text I
The school girls admire Malaysia’s national car during a visit to the Proton Saga assembly plant in Syah Alam. Though built largely of Japanese parts, the car has become the nation’s symbol of success. To tap Malaysia’s low labor cost, Japanese conglomerates are building industrial parks all around Kuala Lumpur. At an-airconditioning factory owned by Matshushita , Malaysian managers learn Nippondo, the “Japanese way”.

Contoh pertanyaan (1):
What are the school-girls visiting?
Jawaban (1): Car assembly plant.
Contoh pertanyaan (2):
How do they feel during the visit?
Jawab (2): They feel proud.
Contoh pertanyaan (3):
How do the Malaysian consider the assembly plant?
Jawab (3): Their nation’s symbol of success.
Contoh pertanyaan (4):
Why is the assembly plant built in Maysia?
Jawab (4) : Low labor cost.
Example: Reading Text II
Favored shore for Japanese vacationers, Queensland has also become a magnet for Japanese investors, who are building hotels in the resort region known as the Gold Coast. A thousand miles north in Cairns, Shuji Yokoyama, chairman of Daikyo Incorporated, surveys a new golf course, part of one billion dollars in development the company is spending to capture the tourist dollar and yen.
Pertanyaan 1:
What are the main reasons for the Japanese to go to Queensland?
Pertanyaan 2:
What do they do to invest their money in Queensland?

Pertanyaan 3:
Who do they expect to be their customers?
Marking : 2 points are awarded for each appropriate, correct response.
1 point for an appropriate, but faulty response.
0 point for an inappropriate or incomprehensible response

YES 4 TOTAL
3

NO 1
0
Realistic Context Audience Productive

Meringkas Isi Bacaan
Tergantung pada tingkat kemampuan berbahasa yang merupakan tujuan pengajaran atau telah dikuasai peserta tes, teks bacaan untuk tugas meringkas isi bacaan ini dapat beragam bentuk, panjang dan pokok bahasannya. Pada tingkat awal, tes meringkas isi bacaan didasarkan atas teks bacaan yang sederhana baik dalam hal isi, panjang maupun gaya bahasa. Demikian juga dalam hal isi dan bentuk jawaban yang diminta. Semakin tinggi tingkat kemampuan berbahasa yang dijadikan tujuan penyelenggaraan tesnya, semakin panjang teks bacaan yang digunakan, dan semakin banyak serta lengkap pula jenis ringkasan yang harus disusun. Harus dicatat pula bahwa meringkas isi bacaan tidak sepenuhnya merupakan tes membaca karena jawaban yang dituntut dalam bentuk ringkasan itu menyangkut penggunaan kemampuan menulis. Usaha untuk mengurangi pengaruh kemampuan menulis dalam tes meringkas isi bacaan dapat dilakukan dengan lebih menitik-beratkan penilaian terhadap isi jawaban daripada unsur-unsur lain seperti susunan kalimat, tata bahasa, ejaan, dan sebagainya.
Berikut adalah contoh tes meringkas isi bacaan untuk tingkat permulaan.
Bacalah text di bawah ini. Tuliskan satu kalimat yang merupakan inti dan ringkasan dari bacaan tersebut.
Example:
Starting with the 1968 models, all new cars must be equipped to meet federal standards that will cut by more than half the amount of pollution that will come out of their exhaust pipes. But this will only answer the problem for a while. Before long, there will be so many cars that they will create a pollution problem even with the new standards.
Contoh Jawaban: There will still be pollution even if there are new federal standards to limit it, because there will be many new cars.
Marking : Impression mark out of 20, based on the criteria mentioned instructions.
YES 4 TOTAL
3

NO 1
0
Realistic Context Audience Productive

BAB III
BENTUK AKHIR TES BAHASA

Dengan melalui tahapan-tahapan penyusunan tes diatas, diharapkan bahwa pada akhirnya dapat diperoleh tes bahasa yang baik, dalam bentuk akhirnya yang mantap. Sebagai bentuk akhir yang mantap, tes itu telah dikembangkan atas dasar kajian terhadap berbagai faktor penting, termasuk tujuan penyelenggaraan yang jelas, serta bentuk dan jenis tes yang sesuai dengan kebutuhan, keadaan, maupun kemampuan untuk mengembangkannya.
Pengembangan dan pemantapan tes bahasa yang telah sampai kepada bentuk akhir itu, telah pula meliputi kajian terhadap jenis dan validitas, yang merupakan ciri tes yang penting. Demikian pula halnya dengan kajian terhadap reliabilitas, yang merupakan ciri penting lain yang perlu dipastikan tingkat keberadaannya. Semua itu merupakan informasi yang perlu disusun dan dipersiapkan menyertai bentuk akhir tes bahasa yang telah dikembangkan dan siap untuk digunakan.
Informasi yang lebih lengkap tentang bentuk akhir tes bahasa itu bukan seyogyanya memuat pula hasil kajian terhadap ciri-ciri butir tesnya, seperti tingkat kesulitan dan daya pembedanya. Disamping itu telah pula disiapkan cara untuk melakukan penilaian terhadap pekerjaan peserta tes, mulai dari cara melakukan pemeriksaan yang objektif, sampai dengan cara melakukan penghitungan untuk menentukan nilai akhir. Untuk itu antara lain perlu disediakan kunci jawaban sebagai alat atau pedoman pemeriksaan. Untuk tes obyektif, kunci jawaban itu dapat berupa daftar jawaban singkat (untuk tes jawaban singkat), daftar nomor dan huruf jawaban benar atau lembar jawaban yang telah dilubangi pada bagian-bagian yang merupakan letak jawaban benar tersebut. Dengan perangkat yang lebih canggih, koreksi lembar jawaban tes obyektif itu dapat dilakukan secara otomatis dan cepat dengan menggunakan alat yang dikenal sebagai scanner.
Sementara itu pemeriksaan terhadap pekerjaan tes esay memerlukan perangkat yang berbeda. Karena sifatnya yang subyektif, isi dan bentuk jawaban-jawaban terhadap butir-butir tesnya tidak dapat sepenuhnya dipastikan sebelumnya. Meskipun demikian, tidaklah berarti bahwa jawaban-jawaban peserta itu sepenuhnya tidak dapat diduga dan diperhitungkan sebelumnya, sehingga tidak dapat disediakan kunci jawabannya.
Untuk mengurangi subyektifitas dan kekurang-ajegan pemeriksaan terhadap jawaban tes esay, perlu disiapkan rambu-rambu dan patokan pelaksanaan pemeriksaan. Rambu-rambu itu meliputi petunjuk-petunjuk praktis seperti menghilangkan, menyembunyikan, atau tidak memperhatikan identitas peserta tes selama pemeriksaan; melakukan pemeriksaan terhadap jawaban nomor butir pertanyaan yang sama secara berkesinambungan pada semua lembar pekerjaan, dan tidak sekaligus menuntaskan pemeriksaan terhadap semua jawaban pada satu lembar pekerjaan saja; menentukan rentangan skor, bila perlu untuk kelengkapan dan mutu jawaban terhadap masing-masing butir tes yang mungkin berbeda-beda, dan sebagainya. Bagi tes jawaban pendek, rambu-rambu pemeriksaan itu terutama berupa daftar jawaban untuk masing-masing butir tes, beberapa diantaranya mungkin memiliki lebih dari satu jawaban yang benar Itu semua perlu dipersiapkan sebagai bagian dari kelengkapan bentuk akhir tes yang telah dikembangkan.
Dengan demikian, dalam bentuknya yang paling akhir, tes bahasa yang telah siap untuk digunakan itu secara keseluruhan meliputi naskah tes dengan butir-butir yang jumlahnya telah sesuai dengan kebutuhan, dan isi serta rumusannya telah terkaji.
Dengan penampilan yang rapi dan jelas, tes itu tersajikan dalam bentuk naskah yang dilengkapi dengan petunjuk pengerjaan yang singkat dan jelas, termasuk lama waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan, serta lembar jawaban sesuai kebutuhan. Telah pula tersedia kunci jawaban untuk melakukan pemeriksaan terhadap pekerjaan peserta tes, baik berupa daftar nomor dan huruf jawaban benar bagi tes obyektif, maupun daftar alternatif jawaban benar bagi tes jawaban pendek , dan rambu-rambu penilaian bagi tes esay. Catatan tentang cara mengolah skor mentah untuk memperoleh nlai akhir , bila dapat disiapkan, juga merupakan bagian dari seluruh persiapan penyelenggaraan tes bahasa yang lengkap.
Berikut akan saya contohkan test writing yang sudah dalam bentuk akhir.



UJIAN PRAKTEK
TAHUNPELAJARAN …………

Mata pelajaran : Bahasa Inggris Hari / Tanggal :
Kelas : 3 (tiga)/IPS/Bahasa Waktu : 120 menit

Do the following items correctly!
1. Read the following letter.


Situation: Several days ago, you saw some students do smoking in the
school area. In fact, students are not allowed to do that.
Now write a letter of complaint based on the situation
above to your head master.

2. Describe the picture as the example.
- Jane is fat. She has short hair. She is wearing long skirt and blouse. She is carrying a hand bag on her left hand. She is bringing an umbrella on her right hand. Her shoes are white.

- Suzan is tall. She has curly hair. She is wearing black trousers. She is wearing t-shirt. She is wearing spectacles. She is carrying a hand bag on her right hand. She is bringing an umbrella on her left hand. Her shoes are black.

- Now write about Michelle-Leslie:


A. Read the following conversation carefully.
Uncle Tom : What was the weather like while you were camping?
Reza : Not too bad. It rained the last days, but mostly it was fine.
We weren’t able to visit the “Coban Rondo” Waterfalls on
the next to the last day, but ….
Uncle Tom : What a pity!
Reza : Well apart from that we did everything we wanted to –
walking, climbing, and just sitting in the garden.
Uncle Tom : How did you get there?
Reza : We rode motorcycle. Oh… and went to the forest quite a
few times.
Uncle Tom : Where about were you?
Reza : Oh, in lovely valley – lots of woods and about three miles
from the mount.
Uncle Tom : I remembered one time when I went camping. We forgot
to take the opener!
Reza : That’s nothing. A goat came into our tent in the middle of
the night. It ate all the food we had with us.
Uncle Tom : Well, you seem to have had a good time.

B. Now write about Reza’s holiday, using the conversation above as a
guide. Imagine other things which happened to him during the
camping holiday.


3. A. Read the data carefully.
Mamad’s aunt: 160 cm tall – long, straight hair – dark skin – brown eyes and pretty – born in 1965 – graduate from a college – married in 1990 – a son born in 1992; a daughter born in 1997 – tolerant with the children – like cooking and shopping very much – religions

B. Write a paragraph based on the data given about Mamad’s aunt.
Start your paragraph with:
My friend Mamad has an aunt who lives at Jl. Borobudur 25 Malang. She …….

4. Study this announcement issued by an express delivery company in an out standing newspaper.


Now write another announcement based on the situation below.

There is black out (pemadaman listrik) on Jl. Bandung and nearby area. It stars from 10th to 12th of March 2006. Computer class will be effective again right after the black out is over.

***@@@ GOOD LUCK @@@***


BAB IV
KESIMPULAN DAN PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Hasil tes ulangan semester dan ulangan harian serta hasil tes UNAS siswa MA setiap tahun pada umumnya selalu memprihatinkan dan mengecewakan. Keadaan tersebut disebabkan oleh sistem mengajar dan pemberian tes dari guru yang masih konvensional, yaitu terlalu menitik beratkan pelajaran tata bahasa yang tidak integratif dengan (terpisah dari) fungsi bahasanya.
Diperlukan pemecahan dalam hal pembelajaran yang tepat yang membuat materi mudah dipahami dan tidak membingungkan siswa. Solusi dari hal itu adalah dengan menerapkan pembelajaran bahasa Inggris menggunakan pendekatan komunikatif (communicative approach). Dengan demikian mengandung konsekuensi dalam penilaiannya yang juga harus sejalan dengan model tersebut.
Konsep penyusunan tes Bahasa Inggris Menggunakan Pendekatan Komunikatif ini disajikan sebagai suatu bahan alternatif bagi guru bahasa Inggris SMU/MA untuk mampu menyusun tes yang baik, valid, reliable dan memenuhi sifat tes yang minimal terstandar sesuai dengan pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan komunikatif..

4.2 Penutup
Demikianlah contoh analisis tes yang akan sangat bermanfaat bagi guru bahasa Inggris dalam memahami tes yang berdasarkan pendekatan komunikatif, baik bagi siwa MA maupun siswa yang lain secara umum. Namun demikian, masih diperlukan latihan yang sangat banyak dan sering sehingga para penyusun tes dapat melihat dan merasakan suatu fungsi bahasa yang sangat tepat, mempunyai makna, tidak kaku dan realistik bagi peserta tes.
Hal-hal lain yang perlu dipelajari dan dikuasai adalah dalam hal teknik penyusunan materi atau bahan ajar dengan sistem yang mestinya juga komunikatif terlebih dahulu sebelum menyusun tes.
Akhirnya penulis menyadari bahwa banyak dalam tulisan ini yang kurang sempurna, untuk itu segala macam bentuk kritik dan saran demi perbaikan yang diperlukan akan kami terima dengn segala senang hati, dan semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca sekalian.

DAFTAR PUSTAKA

Azies, Furqanul dan Alwasilah, Chaedar, A. 1985. Pengajaran Bahasa Komunikatif; Teori dan Praktek. Bandung. Penerbit PT Remaja Rosdakarya.

Brown, Douglass, R. 1994. Teaching by Principles. A Paramount Communications Company Cliffs, NJ: Prentice Hall Regents.

David P. Harris. 1976. “Testing Reading Comprehension in ESL/EFL: Background and Current State of the Art”, in Edward Anthony and Jack Richards (Eds). Reading: Insights and Approaches. Singapura: Singapore University Press.

Departemen Agama RI. 1994. Kurikulum Madrasah Aliyah GBPP bahasa Inggris. Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Jakarta.

Jr., John W. 1979. Language Tests at School. Longman. London

Kimtafsirah. 1995. Pedoman Pelaksanaan Pembelajaran Bahasa Inggris. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pusat Pengembangan Penataran Guru Bahasa.

Pophan, W. James. 1995. Classroom Assessment, What Teachers Need to Know. Allyn & Bacon. A. Simon & Schuster Company, Needham Heights. Mass. 02194.

Pyle, Michael, A. and Munoz, Mary, Ellen. 1996. TOEFL Preparation Guide. Singapore. John and Willey & Sons.

Shuying, Yang. 1999. Classroom Speaking activities, Forum Journal, 37, 4. Pp. 22-23.

World Development Report. 1999/2000. Entering the 21st Century. Oxford University Press. Inc.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar