Selasa, 18 Mei 2010

URGENSI PENDIDIKAN BERBASIS KECAKAPAN HIDUP (LIFE SKILL)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia telah lama dilakukan. Dalam setiap GBHN dan REPELITA selalu tercantum bahwa peningkatan mutu merupakan salah satu prioritas pembangunan di bidang pendidikan. Berbagai inovasi dan program pendidikan juga telah dilaksanakan, antara lain penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku ajar dan buku referensi lainnya, peningkatan mutu guru dan tenaga kependidikan lainnya melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kualifikasi pendidikan mereka, peningkatan manajemen pendidikan, serta pengadaan fasilitas lainnya.
Namun berbagai indikator menunjukkan bahwa mutu pendidikan masih belum meningkat secara signifikan. Banyak keluhan bahwa lulusan yang memasuki dunia kerja belum memiliki kesiapan kerja yang baik. Ketidakpuiasan berjenjang studi juga terjadi, kalangan SMP merasa bekal lulusan SD kurang baik untuk memasuki SMP, kalangan SMA merasa bekal lulusan SMP tidak siap mengikuti pembelajaran di SMA, dan kalangan perguruan tinggi merasa bekal lulusan SMA belum cukup untuk mengikuti perkuliahan. Masalah yang juga mulai muncul sekarang ini adalah lulusan SMP dan SMA di pedesaan, karena sulit mendapatkan pekerjaan, sedangkan membantu orang tua sebagai petani bekerja di sawah merasa malu. Studi Blazely, dkk (1997) dalam Depdiknas (2002) melaporkan bahwa pembelajaran disekolah cenderung sangat teoritik dan tidak terkait dengan lingkungan dimana anak berada.
Menurut penjelasan resmi pemerintah, jumlah anak jalanan di berbagai Kota besar di Tanah Air kini mencapai sekitar 50.000 jiwa lebih. Angka ini sebenarnya masih dapat diperdebatkan akurasinya, karena ada kesan kurang memperhitungkan perkembangan situasi krisis ekonomi yang mulai terasa dampaknya sejak bulan Juli 1997. Berdasarkan prediksi Depsos, pada tahun 1997 saja diperkirakan sudah terdapat kurang lebih 50.000 anak yang menghabiskan waktu produktifnya di jalan. Jadi kalau dilihat di tiap-tiap daerah jumlah anak jalanan selama setahun terakhir diprediksi melonjak empat hingga lima kali lipat dari jumlah sebelumnya, maka tidak mustahil jumlah anak jalanan yang ada di Indonesia saat ini telah meningkat menjadi sekitar 100.000-150.000 jiwa, atau bahkan mungkin lebih (Sularto: 2000).
Dari komparasi internasional, mutu pendidikan di Indonesia juga kurang menggembirakan. Human Development Index (HDI) Indonesia menduduki peringkat 102 dari 106 negara yang disurvei dan satu peringkat di bawah Vietnam. Survey the Political Economic Risk Consultation (PERC) melaporkan Indonesia berada di peringkat 12 dari 12 negara yang disurvei, juga satu peringkat di bawah Vietnam. Hasil studi The Third International Mathematics And Science Study-Repeat (TIMSS-R, 1999) melaporkan bahwa siswa SMP Indonesia menempati peringkat 32 untuk IPA dan 34 untuk Matematika dari 38 negara yang distudi di Asia, Australia, dan Afrika (Depdiknas, 2002).
Berdasarkan dari hal tersebut, maka menjadi suatu hal yang logis apabila pendidikan yang sudah berjalan selama ini perlu diorientasikan kembali, yaitu pendidikan yang diorientasi kepada kecakapan hidup (Life Skill), sehingga dengan reorientasi tersebut mampu memberikan alternatif layanan program pendidikan yang mampu memberikan kecakapan hidup bagi siswa. Untuk itu, penulis ingin membahas permasalahan tersebut dalam judul: "Reorientasi Pendidikan Menuju Pendidikan Berbasis Kecakapan Hidup (Life Skill)".

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanamana konsep pendidikan berbasis kecakapan hidup (Life Skill) dalam menentukan arah baru pendidikan?
2. Bagaimana implementasi konsep pendidikan kecakapan hidup dalam pembelajaran?

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah:
1. Untuk mengetahui bagaimana mana konsep Pendidikan Berbasis Kecakapan Hidup (Life Skill) dalam Menentukan Arah Baru Pendidikan.
2. Untuk mengetahui bagaimana aplikasi konsep Pendidikan Kecakapan Hidup dalam Pembelajaran?
3. Untuk mengetahui Implikasi Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill) dalam Pendidikan.

D. Manfaat
Adapun manfaat dari tulisan ini adalah:
1. Penulisan ini akan memperluas cakrawala pemikiran dan pengalaman penulis dalam bidang pendidikan untuk lebih jeli dalam menganalisa setiap peluang yang ada untuk kemudian dijadikan sebagai wahana untuk meningkatkan mutu out-put pendidikan.
2. Dapat digunakan sebagai informasi dalam meningkatkan mutu out-put pendidikan.
3. Bisa menjadi informasi dan bahan pertimbangan bagi masyrakat dalam meningkatkan kualitas pendidikan secara umum.

E. Definisi Istilah
1. Urgensi adalah Keharusan yang mendesak, hal yang sangat penting
2. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau pelatihan bagi peranannya di masa yang akan datang.
3. Kecakapan hidup (life skill) adalah adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara pro aktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya.

F. Metode
1. Metode Yang Digunakan
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian Diskriptif kualitatif, dengan menjelaskan lebih menekankan pada kekuatan analisis data pada sumber-sumber data yang ada. Sumber-sumber tersebut diperoleh dari berbagai buku-buku dan tulisan-tulisan lainnya dengan mengandalkan teori-teori yang ada untuk di interpretasikan secara jelas dan menadalam untuk menghasilkan tesis dan anti tesis.

2. Sumber Data
Dalam penulisan karya ilmiah ini, penulis menggunakan personal document sebagai sumber data penelitian kualitatif ini, yaitu dokumen pribadi yang berupa bahan-bahan tempat orang yang mengucapkan dengan kata-kata mereka sendiri.
Personal Document sebagai sumber dasar atau data primernya, dalam hal ini adalah buku-buku yang berkaitan dengan Pendidikan Kecapan Hidup, yang tentunya merupakan komponen dasar dalam penelitian ini.

3. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian Library Reseach adalah teknik Dokumenter, yaitu dikumpulkan dari buku-buku, makalah atau artikel, majalah, jurnal, koran dan lain sebagainya dari karya pakar pendidikan atau dari pengamat dan pemerhati pendidikan, untuk mencari hal-hal atau variable yang berupa catata, transkip, buku, surat kabar, majalah dan sebagainya yang mempunyai keterkaitan dengan kajian tentang pendidikan Kecakapan

4. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini, setelah data terkumpul maka data tersebut dianalisis untuk mendapatkan konglusi, bentuk-bentuk dalam teknik analisis data sebagai berikut:
a. Metode Analisis Deskriptif
Metode Analisis Deskriptif yaitu usaha untuk mengumpulkan dan menyusun suatu data, kemudian dilakukan analisis terhadap data tersebut..
b. Content Analysis atau Analisis Isi
Content Analysis adalah metodelogi yang memamfaatkan seperangkat prosedur untuk menarik kesimpulan yang shoheh dari sebuah dokumen.
Untuk mempermudah dalam penulisan ini, maka sangat diperlukan untuk menggunakan pendekatan-pendekatan yaitu:
a. Induksi
Metode induktif adalah berangkat dari fakta-fakta atau peristiwa-peristiwa khusus dan kongkrit, kemudian digeneralisasikan menjadi kesimpulan yang bersifat umum.
b. Deduksi
Metode deduksi adalah metode yang berangkat dari pengetahuan yang bersifat umum itu hendak menilai sesuatu kejadian yang sifatnya khusus.
c. Komparasi
Metode komparasi adalah meneliti faktor-faktor tertentu yang berhubungan dengan situasi atau fenomena yang diselidiki dan membandingkan satu faktor dengan yang lain, dan penyelidikan bersifat komparatif.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Historis, Filosofis Dan Yuridis Pendidikan Kecakapan Hidup
Secara historis pendidikan sudah ada sejak manusia ada dimuka bumi ini. Ketika kehidupan masih sederhana, orang tua mendidik anaknya, atau anak belajar kepada orang tuanya atau orang lain yang lebih dewasa di lingkungannya, seperti cara makan yang baik, cara membersihkan badan, bahkan tidak jarang anak belajar dari lingkungannya atau alam sekitarnya. Anak-anak belajar bercocok tanam, berburu dan berbagai kehidupan keseharian. Intinya anak belajar agar mampu menghadapi tugas-tugas kehidupan, mencari solusi untuk memecahkan dan mengatasi problem yang dihadapi sehari-hari (Depdiknas. 2002).
Pendidikan berkembang dari yang sederhana (primitive) yang berlangsung dari zaman dimana manusia masih berada dalam ruang lingkup kehidupan yang serba sederhana. Tujuan-tujuanpun amat terbatas pada hal-hal yang bersifat survival (bertahan hidup dari ancaman alam sekitar). Yaitu keterampilan membuat alat-alat untuk mencari dan memproduksi bahan-bahan kebutuhan hidup, beserta pemeliharaanya, serta disesuaikan dengan kebutuhannya. Kemudian masyarakat semakin berbudaya dan tuntutan hidup semakin tinggi, maka pendidikan ditujukan bukan hanya pada pembinaan keterampilan, melainkan kepada pengembangan kemapuan-kemampuan teoritis dan praktis berdasarkan konsep-konsep berfikir ilmiah, atau lebih jelasnya masalah kehidupan dan fenomena alam kemudian diupayakan dapat dijelaskan secara keilmuan.
Pendidikan secara dinamis akan bermetamorfosa menjadi formal dan bidang keilmuan diterjemahkan menjadi mata pelajaran, mata kuliah, di sekolah. Mata pelajaran, mata kuliah berfungsi untuk menjelaskan fenomena alam kehidupan sehinga lebih mudah dipahami dan lebih mudah dipecahkan problemnya. Dengan kata lain, mata pelajaran, mata kuliah adalah alat untuk membentuk kecakapan, kemampuan yang dapat membantu mengembangkan dan memecahkan serta mengatasi permasalahan hidup dan kehidupan (Depdiknas: 2002).
Secara filosofis, pendidikan berjalan pada setiap saat dan tempat. Setiap orang, baik anak-anak maupun orang dewasa akan megalami proses pendidikan, lewat apa yang dijumpainya atau apa yang dikerjakannya. Walau tidak ada pendidikan yang sengaja diberikan, secara alamiah setiap orang akan terus belajar dari lingkungannya.
Pendidikan sebagai suatu sistem pada dasarnya merupakan sistemasi dari proses perolehan pengalaman. Oleh karena itu secara filosofis pendidikan diartikan sebagai suatu proses perolehan pengalaman belajar yang berguna bagi peserta didik, sehingga siap digunakan untuk memecahkan problem kehidupan yang dihadapinya. Pengalaman belajar yang diperoleh peserta didik diharapkan juga mengilhami mereka ketika mengahadapi problem dalam kehidupan sesungguhnya.
Landasan yuridis pendidikan kecakapan hidup mengacu kepada UU nomor 2 Tahun 1989 tentang pendidikan nasional. Pasal 1 ayat 1 yang berbunyi Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau pelatihan bagi peranannya di masa yang akan datang.
Dari dasar tersebut pada akhirnya tujuan pendidikan adalah membantu peserta didik agar nantinya mampu meningkatkan dan mengembangkan dirinya sebagai pribadi yang mandiri, sebagai anggota masyarakat dan sebagai warga negara.

B. Konsep dan Unsur-Unsur Pendidikan Kecakapan Hidup
Kecakapan hidup adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara pro aktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya (Depdiknas, 2004).
Dengan definisi tersebut, maka pendidikan kecakapan hidup harus mampu merefleksikan nilai-nilai kehidupan nyata sehari-hari, baik yang bersifat preservatif maupun progresif. Pendidikan perlu diupayakan relevansinya dengan nilai-nilai kehidupan nyata sehari-hari. Dengan cara ini, pendidikan akan lebih realistis, lebih kontekstual, tidak akan mencabut peserta didik dari akarnya, sehingga pendidikan akan lebih bermakna bagi peserta didik dan akan tumbuh subur.
Dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia memang selalu dihadapkan pada problem hidup, untuk memecahkan problem kehidupan seperti itu seseorang akan berusaha mencermati kemampuan apa yang mereka miliki sehingga sukses, atau setidaknya dapat bertahan hidup dalam situasi yang serba berubah, orang tersebut bisa sukses karena memiliki banyak kiat (kecakapan hidup) sehingga mampu mengatasi masalah dihadapinya, pandai melihat dan memanfaatkan peluang, serta pandai bergaul dan bermasyarakat. Kiat-kiat seperti itulah yang merupakan inti kecakapan hidup. Artinya kecakapan yang selalu diperlukan oleh seseorang dimanapun ia berada, baik bekerja atau tidak bekerja dan apapun profesinya.
Depdiknas (2002) menyatakan bahwa keterampilan hidup meliputi beberapa kemampuan dasar, yaitu:
1. Kecakapan personal (personal skill), yang mencakup: kecakapan mengenal diri (self awareness) dan kecakapan berfikir rasional (thinking skill).
2. Kecakapan sosial (sosial skill).
3. Kecakapan akademik (academic skill).
4. Kecakapan vokasional (vocational skill).
Kecakapan mengenal diri (self awareness) atau kecakapan personal mencakup: (1) penghayatan diri sebagai makhluk tuhan yang Maha Esa, anggota masyarakat dan warga Negara, serta (2) menyadari dan mensyukuri kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, sekaligus menjadikannya sebagai modal dalam meningkatkan dirinya sebagai individu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan lingkungannya.
Kecakapan berfikir rasional (thinking skill) mencakup antara lain kecakapan menggali dan menemukan informasi (information seacrhing), kecakapan mengolah informasi dan mengambil keputusan (information processing and decion making skill), serta kecakapan memecahkan masalah secara kreatif (creative problem solving skill).
Kecakapan sosial atau kecakapan antar-personal (inter-personal skill) mencakup kecakapan komunikasi dengan empati (commonicaton skill). Empati, sikap penuh pengertian dan seni komunikasi dua arah, perlu ditekankan disini bahwa yang dimaksud berkomunikasi di sini bukan sekedar menyampaikan pesan, tetapi isi dan sampainya pesan dan disertai dengan kesan baik yang akan menumbuhkan hubungan harmonis. Kecakapan bekerjasama sangat diperlukan karena sebagai mahluk sosial, dalam kehidupan sehari-hari manusia akan selalu bekerjasam dengan manusia lain. Kerjasama bukan sekedar "kerja sama" tetapi yang di sertai dengan saling pengertian, saling menghargai dan saling membantu.
Kecakapan akademik (academic skill) yang juga sering disebut kemampuan berfikir ilmiah, pada dasarnya merupakan pengembangan dari kecakapan berfikir rasional pada global life skill. Kecakapan akademik mencakup antara lain kecakapan melakukan identifikasi variabel dan menjelaskan hubungannya pada suatu fenomina tertentu (identifying variable and describing relationship among them), merumuskan hipotesis terhadap suatu rangkaian kejadian (contructing hypotheses), serta merancang dan melaksanakan penelitian untuk membuktikan suatu gagasan atau keingintahuan (designing and implementing a research).
Kecakapan vokasional (vocational skill) sering pula disebut dengan "kecakapan kejuruan" artinya kecakapan yang dikaitkan dengan bidang pekerjaan tertentu yang terdapat di masyarakat.

C. Tujuan Dan Manfaat Pendidikan Kecakapan Hidup
1. Tujuan pendidikan kecakapan hidup
Depdiknas (2002) mengemukakan secara umum pendidikan yang berorientasi pada kecakapan hidup bertujuan memfungsikan pendidikan sesuai dengan fitrahnya, yaitu mengembangkan potensi manusiawi peserta didik untuk menghadapi perannya dimasa yang akan datang, secara khusus pendidikan yang berorientasi pada kecakapan hidup bertujuan untuk:
a. Mengaktualisasikan potensi peserta didik sehingga dapat digunakan untuk memecahkan problema yang dihadapi,
b. Memberikan kesempatan kepada sekolah untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel, sesuai dengan prinsip pendidikan berbasis luas, dan
c. Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya di lingkungan sekolah, dengan memberi peluang pemanfaatan sumber daya yang ada di masyarakat, sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah.
Dari pernyataan tersebut, sudah jelas bahwa tujuan utama pendidikan kecakapan hidup adalah menyiapkan peserta didik agar yang bersangkutan mampu, sanggup, dan terampil menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya di masa datang, serta esensi dari pendidikan kecakapan hidup adalah untuk meningkatkan relevansi pendidikan dengan nilai-nilai kehidupan nyata, baik preservatif maupun progresif.

2. Manfaat pendidikan kecakapan hidup
Depdiknas (2002) menyatakan bahwa secara umum manfaat pedidikan berorientasi kecakapan hidup bagi peserta didik adalah sebagai bekal dalam menghadapi dan memecahkan problem hidup dan kehidupan, baik sebagai pribadi yang mandiri, warga masyarakat, maupun sebagai sebagai warga Negara.
Dari rumusan di atas, dapat disimpulkan bahwa esensi dari Pendidikan kecakapan hidup adalah mampu memberikan manfaat pribadi peserta didik dan manfaat sosial bagi masyarakat. Bagi peserta didik, pendidikan kecakapan hidup dapat meningkatkan kualitas berpikir, kualitas kalbu, dan kualitas fisik. Peningkatan kualitas tersebut pada gilirannya akan dapat meningkatkan pilihan-pilihan dalam kehidupan individu, misalnya karir, penghasilan, pengaruh, prestise, kesehatan jasmani dan rohani, peluang, pengembangan diri, kemampuan kompetitif, dan kesejahteraan pribadi. Bagi masyarakat, pendidikan kecakapan hidup dapat meningkatkan kehidupan yang maju dan madani dengan indikator-indikator yang ada: peningkatan kesejahteraan sosial, pengurangan perilaku destruksif sehingga dapat mereduksi masalah-masalah sosial, dan pengembangan masyarakat yang secara harmonis mampu memadukan nilai-nilai religi, teori, solidaritas, ekonomi, kuasa dan seni.
Pendidikan harus merefleksikan nilai-nilai kehidupan sehari-hari, baik yang bersifat preservatif dan progresif. Sekolah harus menyatu dengan nilai-nilai kehidupan nyata yang ada di lingkungannya dan mendidik peserta didik sesuai dengan tuntutan nilai-nilai kehidupan yang sedang berlaku. Ini menuntut proses belajar mengajar dan masukan instrumental sekolah seperti misalnya kurikulum, guru, metodologi pembelajaran, alat bantu pendidikan, dan evaluasi pembelajaran benar-benar realistik, kontekstual, dan bukannya artifisial.
Jika hal itu dapat dicapai, maka faktor ketergantungan pada lapangan pekerjaan yang sudah ada, sebagai akibat dari banyaknya pengangguran, dapat diturunkan, yang berarti produktivitas nasional akan meningkat secara bertahap.
D. Pola Pelaksanaan Pendidikan Kecakapan Hidup
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang demikian pesat mengakibatkan inovasi pengetahuan begitu melimpah. Perubahan yang sangat mendalam dan pesat, mengharuskan manusia belajar hidup dengan perubahan terus menerus, dengan ketidak pastian, dan dengan unpredicatability (ketidak mampuan untuk memeperhitungkan apa yang akan terjadi). Persoalan yang dihadapi oleh manusia dan kemanusiaan tersebut tak pelak juga melibatkan persoalan pendidikan didalamnya, yaitu sejauh mana pendidikan mampu berperan mengantisipasi dan mengatasi persoalan itu. Hampir tidak ada satu Negara pun dewasa ini dimana pendidikan tidak merupakan topik utama yang diperdebatkan (Iman:2004).
Diantara tanggungjawab lembaga pendidikan adalah membina siswa supaya berani berdiri sendiri dan berusaha sendiri; maka kemampuan secara mandiri dan kritis (independent critical thinking) yang menjadi landasan mutlak untuk semuanya ini tidak hanya memerlukan kebebasan akademis, tetapi juga kebudayaan akademis yang merangsang berfikir mandiri dan kritis. Oleh karena itu pendidikan memegang kedudukan sentral dalam proses pembangunan dan kemajuan dalam menanggapi tantangan masa depan. Hal itu membawa konsekwensi dalam bidang pendidikan, pendidikan tidak lagi dapat mengharapkan peserta didik untuk mempelajari seluruh pengetahuan, karaena itu harus dipilih bagian-bagian esensial yang menjadi pondasinya.
Disamping kecakapan hidup secara umum, kiranya perlu dikembangkan pada kemampuan belajar bagaimana cara belajar (learning how tolearn) dengan harapan dapat digunakan untuk belajar sendiri, jika seseorang ingin mengembangkan diri di kemudian hari. Pengetahuan itulah yang mendasari konsep pendidikan kecakapan hidup. Disamping itu pendidikan harus mendasarkan pada kebutuhan masyarakat secara luas dengan menekankan pada penguasaan kecakapan hidup generik sebagai pondasi pengembangan diri lebih lanjut, serta menggunakan prinsip menejemen berbasis sekolah sebagai pelaksana penerapan menejemen pendidikan kecakapan hidup, pendidikan kontekstual (contextual teaching and learning) serta pembelajarannya menggunakan empat pilar pendidikan yang dicanangkan oleh UNESCO (Depdiknas: 2002).
1. Penerapan Manajemen Sekolah
Mulyasa (2004) mengatakan bahwa manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerja sama yang sistematis dan koprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional, sementara menejemen berbasis sekolah sebagaimana yang diungkapkan oleh E. Mulyasa (2003) adalah pemberian otonomi luas pada tingkat sekolah agar sekolah leluasa mengelola sumber daya dan sumber dana dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan, serta lebih tangap terhadap kebutuhan setempat.
Berdasarkan atas apa yang tercakup dalam pengertian menejemen berbasis sekolah, nampak bahwa menejemen berbasis sekolah itu meliputi berbagai aspek yang sangat luas sekali, dalam hal ini seluruh komponen-komponen sekolah itu sendiri meliputi: Manajemen kurikulum dan program pengajaran, Manajemen tenaga kependidikan, Manajemen Kesiswaan , Manajemen keuangan, Manajemen Sarana dan Prasarana, Manajemen hubungan sekolah dengan masyarakat, Manajemen layanan khusus.

2. Pola Pembelajaran dalam Pendidikan Life Skill
Dalam proses pembelajaran, paling tidak siswa memerlukan empat pilar yakni pengetahuan, keterampilan, kemandirian, dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dan bekerjasama. Hal ini sejalan dengan penegasan UNESCO dalam konverensi tahunannya di Melbourne yang menekankan perlunya Masyarakat Belajar yang berbasis pada empat kemampuan yakni: (a) belajar untuk mengetahui, (b) belajar untuk dapat melakukan, (c) belajar untuk dapat mandiri, dan (d) belajar untuk dapat bekerjasama.
Empat kemampuan tersebut di atas merupakan pilar-pilar belajar yang akan menjadi acuan bagi sekolah dalam menyelenggarakan kegiatan belajar-membelajarkan yang akan bermuara pada hasil belajar aktual yang diperlukan dalam kehidupan manusia sehingga dalam proses Pembelajarannya, pendidikan kecakapan hidup menggunakan model pembelajaran kontekstual (Contextual teaching and learning).
Pembelajaran kontekstual dirasa sebagai salah satu kebutuhan mendasar bagi negara maju dalam menyongsong era global sebagaimana penegasan Goh Chok Tong, P.M. Singapore, pada The Singapore Expo (2001), bahwa kurikulum harus lebih menekankan pada kemampuan berpikir kreatif dan kritis serta pemecahan masalah. Kemampuan ini dapat tumbuh jika siswa menghargai keterkaitan antar disiplin ilmu, menggunakan prosedur pemecahan masalah dan keterampilan berkomunikasi serta mau bekerja dalam kelompok kerja. Dorongan terhadap siswa untuk menghargai berbagai disiplin, tertib prosedur, serta berbagai aspek lain yang diperlukan dalam kehidupan dan interaksi dengan sesamanya menunjukan bahwa siswa perlu memiliki berbagai keterampilan yang kompleks.
Dalam pelaksanaannya pembelajaran kontekstual menempatkan siswa di dalam konteks bermakna yang menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang sedang dipelajari dan sekaligus memperhatikan faktor kebutuhan individu siswa dan peranan guru. Sehubungan dengan itu maka pendekatan pengajaran kontekstual harus menekankan pada hal-hal sebagaimana berikut: Belajar berbasis masalah (problem-based learning), Pengajaran autentik (authentic instruction), Belajar berbasis inquiri (inquri-based learning), Belajar berbasis proyek/tugas (project-based learning), Belajar berbasis kerja (work-based learning), Belajar berbasis jasa layanan (service learning), Belajar kooperatif (cooperative lerning)
Pembelajaran kontekstual tidak hanya menuntut siswa untuk mengikuti pengajaran dengan konteks lingkungan mereka sendiri, dalam artian pembelajaran kontekstual menuntut siswa mengeksplorasi makna konteks itu sendiri, tujuannya untuk menyadarkan siswa bahwa mereka memiliki kemampuan dan tanggung jawab untuk mempengaruhi dan membentuk susunan konteks yang beragam, mulai keluarga, ruang kelas, kelompok, tempat kerja, komunitas. sehingga dengan demikian pembelajaran akan lebih
bermakna.

BAB III
PEMBAHASAN

A. Peran Pendidikan Berbasis Kecakapan Hidup dalam Menentukan Arah Baru Pendidikan

Tuhan melengkapi manusia dengan berbagai alat dan potensi dasar yang disebut dengan fitrah yang harus diaktualkan dan atau ditumbuhkembangkan dalam kehidupan nyata melalui proses pendidikan itu sendiri. Allah menciptakan sesuatu dalam keadaan seimbang dan serasi, keteraturan sesuatu dalam alam ini dibebankan kepada manusia untuk menjaga dan memeliharanya serta mengembangkan demi keberlangsungan dan kesejahteraan kehidupannya. Oleh karena itu, untuk menjaga keserasian keseimbangan kehidupan ini, manusia diberi tanggung jawab hidup yang tidak hanya sebagai hamba Allah tetapi juga sebagai khalifah dimuka bumi.
Maka untuk memfungsikan dan mengaktualisasikan hal tersebut, maka diperlukan suatu iktiar pendidikan yang sistematis, terencana, berdasarkan pendekatan dan wawasan yang interdisipliner, karena manusia semakin terlibat dalam proses perkembangan masyarakat yang semakin komplek maka potensi yang ada dalam diri manusia akan cepat pula berkembang melalui pengalaman-pengalaman yang didapat dari kompleksitas sosial masyarakat itu sendiri.
Unsur-unsur pendidikan yang berbasis kecakapan hidup adalah sebagai berikut:
1. Kecakapan personal (personal skill), yang mencakup kecakapan mengenal diri yang terinci menjadi keimanan sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa yang dituntut untuk mengabdi kepada-Nya dan Khalifah-Nya di muka bumi. Pengemban karakter, antara lain cinta kebenaran, tanggung jawab dan disiplin, saling menghargai dan membantu dan sebagainya sebagai manifestasi dari nilai-nilai ketuhanan (self awareness).
2. Kecakapan berfikir rasional (thinking skill); yang mencakup dari kecakapan menggali informasi yang dapat dikembangkan dengan mencari tahu persoalan-persoalan kehidupan. Kecakapan mengelola informasi dengan melalui potensi berfikir untuk menyelesaikan persoalan kehidupan dengan tepat. Keterampilan mengambil keputusan setelah melalui proses berfikir tersebut. Kecakap memecahkan masalah setelah mengetahui berbagai persoalan dan dicarikan solusinya melalui proses berfikir tersebut. Dari kecakapan berfikir rasional tersebut adalah merupakan pengembangan potensi akal yang telah dianugeri Allah kepada manusia.
3. Kecakapan Sosial (sosial skill). Yang dapat dirinci dalam kecakapan komunikasi dengan empati, dan kecakapan bekerjasama. Empati, sikap penuh pengertian dan seni komunikasi dua arah, maksudnya, komunikasi bukan hanya sekedar menyampaikan pesan, tetapi isi dan sampainya pesandisertai dengan kesan yang baik akan menumbuhkan hubungan yang harmonis.
4. Kecakapan Akademik (academic skill) atau kemampuan berfikir ilmiah yang mencakup antara lain; identifikasi variabel. Merumuskan hipotesis dan melaksanakan penelitian yang merupakan pengembangan dari sikap pedagogik.
5. Kecakapan Vokasional (vocational skill) yakni keterampilan yang dikaitkan dengan pekerjaan tertentu yang terdapat dalam lingkungan atau masyarakat, yang merupakan bekal untuk hidup didunia.
Salah satu kesalahan terbesar yang dibuat guru selama ini adalah memandang belajar sebagai produk. Informasi tidak dapat dituangkan kepada siswa seperti menuangkan air ke dalam botol. Belajar merupakan proses dimana otak atau pikiran mengadakan reaksi terhadap kondisi-kondisi luar, dan reaksi itu dimodifikasi dengan pengalaman-pengalaman sebelumnya (Susanto, 2004).
Dalam kaitannya dengan pendidikan berbasis kecakapan hidup, yaitu pada proses pelaksanaan pendidikan itu sendiri, yang tidak mencerminkan terhadap unsur-unsur kecakapan hidup, karena secara metodologi pendidikan masih terkesan konservatif, metodologi pendidikan tidak kunjung berubah antara pra dan post era modernisme, metodologi pendidikan lebih menekankan pada hafalan teks-teks yang sudah ada, sedangkan kemampuan dalam menganalisis, kemampuan mencari dan memecahkan suatu problem kurang teraktualisasikan dalam proses belajar mengajar. Hal ini mungkin terkait ujian nasional yang menjadi penentu kelulusan peserta didik menyebabkan guru sering kali terpaku padanya, sehingga semangat untuk memperkaya kurikulum dengan pengalaman belajar yang bervariasi kurang tumbuh. Guru hanya menekankan pada hafalan konsep-konsep yang telah tertuang dalam buku.
Dari berbagai persoalan pendidikan tersebut, bisa dikatakan belum mampu mengantisipasi masa yang akan datang, artinya belum mampu menyiapkan uot put yang sesuai dengan permintaan pasar, kurang memiliki kemampuan bersaing secara kompetitif, dan out putnya hanya mengandalkan ijasah tanpa diimbangi dengan kecakapan-kecakapan hidup.

1. Pengembangan Kurikulum Pendidikan
Materi pendidikan dan pendidikan tergambar dalam kurikulum yang disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikannya. Desain materi pendidikan harus memperhatikan tahap perkembangan peserta didik dan kesesuainnya dengan lingkungan, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, seni, serta sesuai dengan jenjang masing-masing satuan pendidikan. Materi pendidikan yang terakomodasi dalam kurikulum menggambarkan standar kemampuan dasar yang wajib dimiliki peserta didik pada masing-masing jenjang pendidikan.
Kurikulum merupakan salah satu komponen utama yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan isi pengajaran mengarahkan proses mekanisme pendidikan, tolak ukur keberhasilan dan kualitas hasil pendidikan disamping faktor-faktor lain. Menurut Nana Sudjana (1989) kurikulum adalah niat dan harapan yang dituangkan dalam bentuk rencana atau program pendidikan untuk dilaksanakan oleh guru disekolah.
Oleh karena itu pengembangan dalam kurikulum pendidikan harus terus dilakukan. Sebagai catatan dalam kegiatan pengembangan kurikulum dalam proses pendidikan, maka hal-hal yang perlu diperhatikan adalah: pertama, falsafah hidup bangsa, sekolah dan guru itu sendiri; kedua, adalah pertimbangan harapan, kebutuhan dan permintaan masyarakat akan produk pendidikan; ketiga, kesusuaian kurikulum dengan kondisi peserta didik; keempat, kemajuan IPTEK merupakan suatu yang tidak dapat dipungkiri lagi untuk dipertimbangkan dalam proses pengembangan kirikulum (Subandiah, 1993).
Untuk mengarahkan pengembangan kurikulum pendidikan agar memuat berbagai kecakapan hidup, maka pengembangan kurikulum tersebut itu harus mensyaratkan adanya keseimbangan antara teori dan praktek, atau antara ilmu dan amal dalam kehidupan keseharian. Hal ini dapat dilakukan dengan mengedentifikasi life skill yang diperlukan untuk mnghadapi kehidupan nyata dimasyarakat sehingga apa yang dipelajari pada setiap mata pelajaran/ mata kuliah diharapkan dapat membentuk kecakapan hidup yang nantinya diperlukan pada saat yang bersangkutan memasuki kehidupan nyata di masyarakat.

2. Hubungan Sinergis Antara Sekolah Dengan Masyarakat.
Hubungan sekolah dengan masyarakat pada hakekatnya merupakan suatu sarana yang sangat berperan dalam membina dan mengembangkan pertumbuhan pribadi peserta didik di sekolah. Dalam hal ini, sekolah sebagai sistem sosial merupakan bagian integral dari sistem sosial yang lebih besar, yaitu masyarakat. Sekolah dan masyarakat memiliki hubungan yang sangat erat dalam mencapai tujuan sekolah atau pendidikan secara efektif dan efesien. Sebaliknya sekolah juga harus menunjang pencapaian tujuan atau pemenuhan kebutuhan masyarakat.
Dalam hubungan ini sekolah bisa disebut sebagai lembaga infestasi manusiawi. Investai jenis ini sangat penting bagi perkembangan dan kemajuan masyarakat, sebab manusia itu sendirilah subyek setiap perkembangan perubahan dan kemajuan di dalam masyarakat. Maka dalam hal ini, Tim dosen FIP-IKIP Malang (2000) mengatakan bahwa ada empat macam pengaruh yang bisa dimainkan oleh pendidikan persekolahan terhadap perkembangan masyarakat dilingkungannya, yaitu:
a. Mencerdaskan kehidupan masyarakat
b. Membawa virus pembaharuan bagi perkembangan masyarakat
c. Melahirkan warga masyarakat yang siap dan terbekali bagi kepentingan kerja dilingkungan masyarakat dan
d. Melahirkan sikap-sikap positif dan konstruktif bagi warga masyarakat, sehingga tercipta integrasi sosial yang harmonis di tengah-tengah masyarakat.
Jika hubungan sekolah dengan masyarakat berjalan dengan baik, rasa tanggung jawab dan partisipasi masyarakat untuk memajukan sekolah juga akan baik dan tinggi. Agar tercipta hubungan dan kerja sama yang baik antar sekolah dengan masyarakat, maka menjadi keharusan masyarakat perlu mengetahui dan memiliki gambaran yang jelas tentang sekolah yang bersangkutan. Gambaran dan kondisi sekolah ini dapat diinformasikan kepada masyarakat melalui laporan kepada orang tua murid, bulletin bulanan, penerbitan surat kabar, pameran sekolah, open house, kunjungan ke sekolah, kunjungan ke rumah murid, penjelasan oleh staf sekolah, murid, radio, televisi, serta laporan tahunan.
Melalui manajemen sekolah yang efektif dan efesien tersebut dengan melakukan kerjasama yang baik dan harmonis dari pihak sekolah dengan orang tua dan masyarakat (stakeholders pendidikan) dalam level kebijakan dan level operasional, agar lebih memahami, membantu, aktif dan mengontrol pengelolaan pendidikan, diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan Islam secara keseluruhan, sehingga pendidikan Islam akan menjadi pendidikan yang berkualitas dan diminati peserta didik serta memiliki daya jual yang tinggi di tegah-tengah masyarakat melalui penguasaan kecakapan hidup yang dimiliki peserta didik.

3. Metodologi Pendidikan
Subroto (1997) mengatakan bahwa metode pengajaran adalah cara-cara pelaksanaan dari suatu proses pengajaran atau soal bagaimana teknisnya suatu bahan pengajaran diberikan kepada murid-murid di sekolah, atau dengan kata laian metode adalah cara yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan tertentu.
Untuk mendorong siswa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, pengalaman dan keterampilan berfikir yang logis dan sistematis, sehingga suasana proses belajar mengajar menjadi kondusif komunikatif dan tercipta hubungan harmonis antara guru dengan peserta didik, maka perlu diupayakan pengajaran pendidikan dengan melalui pendekatan kontekstual.
Pendekatan kontekstual merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi nyata di dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka, baik sebagai anggota keluarga maupun anggota masyarakat. Dengan konsep tersebut, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa, karena proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa, sehingga hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi anak untuk memecahkan persoalan, berfikir kritis, dan melaksanakan observasi serta menarik kesimpulan dalam kehidupan jangka panjangnya.
Dalam hal ini menurut taksonomi bloom mengklasifikasikan dalam tiga domain dari hasil pendidikan yang berupa perubahan tingkah laku yaitu: (a) kognitif (cognitive domain); (b) afektif (affective domain); (c) psikomotor (psychomotor domain).
a. Kemampuan Kognitif
Yang termasuk kategori kemampuan kognitif yaitu mengetahui, memahami, mengetrapkan, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi.
b. Kemampuan Afektif
Yang termasuk kemampuan afektif adalah menerima, menanggapi, menghargai, membentuk, berpribadi,
c. Kemampuan Psikomotor
Yang dimaksud dari kemampuan psikomotor adalah kemampuan yang menyangkut kegiatan otot dan kegiatan fisik atau menyangkut penguasaan tubuh dan gerak. Adanya klasifikasi kemampuan ini akan membantu untuk menentukan langkah yang harus dilalui didalam proses belajar mengajar dengan memperhatikan:
1) Apa yang akan dicapai di dalam proses belajar mengajar
2) Bagaimana murid harus belajar
3) Metode dan bahan apa yang dapat berhasil guna dalam proses belajar mengajar
4) Perubahan tingkah laku yang mana diharapkan dapat dihasilkan dalam proses belajar mengajar ini
Pembelajaran kontekstual mengakui bahwa belajar merupakan sesuatu yang kompleks dan multidimensional yang jauh melampaui berbagai metodologi yang hanya berorientasi pada latihan dan rangsangan/tanggapan (stimulus-response). Pembelajaran kontekstual menganjurkan bahwa belajar hanya terjadi jika siswa merespon informasi atau pengetahuan baru sedemikian rupa, sehingga dirasakan masuk akal sesuai dengan kerangka berfikir yang dimiliki (ingatan, pegalaman, dan tanggapan).
Sehubungan dengan hal itu maka pendekatan pengajaran kontekstual harus menekankan pada hal-hal sebagai berikut:
1) Belajar berbasis masalah (problem based learning) yaitu suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang berfikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran.
2) Pengajaran autentik (authentic instruction) yaitu pendekatan pengajaran yang memperkenankan siswa untuk mempelajari konteks bermakna dalam hal ini konteks kehidupan nyata.
3) Belajar berbasis Inquiri (inqury based learning) yang membutuhkan stategi pengajaran yang megikuti metodologi sains dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna.
4) Belajar berbasis proyek/tugas (project based learning) yang membutuhkan suatu pendekatan pendekatan pengajaran kooperatif dimana lingkungan belajar siswa (kelas) didesain agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah autentik termasuk pendalaman dari suatu topik mata pelajaran dan melaksanakan tugas bermakna lainya.
5) Belajar berbasis kerja (work based learning) yang memerlukan suatu pendekatan pengajaran yang memungkinkan siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pelajaran berbasis sekolah dan bagaimana materi itu dipergunakan kembali di tempat kerja.
6) Belajar berbasis jasa layanan (service learning) yaitu pendekatan yang menyajikan suatu penerapan praktis dari pengetahuan baru yang diperlukan dan berbagai keterampilan untuk memenuhi kebutuhan di dalam masyarakat melalui proyek/tugas terstruktur dan kegiatan lainya.
7) Belajar kooperatif (cooperative learning) yang memerlukan pendekatan pengajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar.
Dengan melalui pendekatan kontekstual inilah metodologi pendidikan pada gilirannya dapat mengembangkan dan membangun tiga pilar keterampilan yaitu: learning skill yaitu ketrampilan mengembangkan dan mengelola pengetahuan dan pengalaman serta kemampuan dalam menjalani belajar sepanjang hayat. Thinking skills, yaitu keterampilan berfkir kritis, kreatif dan inovatif untuk menghasilkan keputusan dan memecahkan masalah secara optimal. Living skill yaitu ketrampilan hidup yang mencakup kematangan emosi yang bermuara pada daya juang, tanggug jawab dan kepekaan sosial yang tinggi.

B. Implementasi Pendidikan Berbasis Kecakapan Hidup
Pembelajaran merupakan kegiatan yang didesain oleh guru untuk peserta didik agar mereka belajar, karenanya diperlukan cara yang lebih efesien. Di sini dapat dipahami bahwa penekanan dalam pembelajaran adalah bagaimana siswa bisa belajar secara efektif dan efesien.
Proses belajar sangat dipengaruhi oleh kesiapan individu sebagai subyek yang melakukan kegiatan belajar mengajar. Kesiapan belajar adalah kondisi fisik-psikis (jasmani-mental) individu yang memungkinkan subyek dapat melakukan belajar. Kesiapan belajar dalam hal ini adalah kematangan dan perkembangan fisik, psikis, intelegensi, latar belakang pengalaman, hasil belajar yang baku, motivasi, persepsi, dan faktor-faktor lain yang memungkinkan seseorang dapat belajar.
Berdasarkan prinsip kesiapan belajar tersebut dapat dikemukakan hal-hal yang terkait dengan pembelajaran antara lain, (1) individu akan dapat belajar dengan baik apabila tugas yang diberikan kepadanya sesuai degan kesiapan (kematangan usia, kemampuan, minat, dan latar belakang pengalamannya, (2) kesiapan belajar harus dikaji terlebih dahulu untuk memperoleh gambaran kesiapan belajar siswanya dengan jalan mengetes kesiapan atau kemampuan, (3) jika individu kurang siap untuk melaksanakan suatu tugas belajar, maka akan menghambat proses pengaitan pengetahuan baru di dalam struktur kognitif yang dimilikinya, karena itu jika kesiapan sebagai prasarat belajar maka prasarat itu harus diberikan lebih dulu. (4) kesiapan belajar mencerminkan jenis dan taraf kesiapan untuk menerima sesuatu yang baru dalam membentuk atau mengembangkan kemampuan yang lebih mantap, dan (5) bahan dan tugas-tugas belajar akan sangat baik kalau divariasi sesuai dengan faktor kesiapan kognitif, afektif dan psikomotorik peserta didik yang akan belajar.
Oleh karena itu, motivasi siswa harus dibangkitkan dari dalam diri siswa (motivasi intrisik) dan dapat pula dibangkitkan dari luar (motivasi ekstrisik). Motivasi dalam diri siswa akan tumbuh apabila siswa tahu dan menyadari bahwa apa yang dipelajari bermakna atau bermanfaat.
Ada beberapa prinsip yang dapat digunakan untuk membangkitkan motivasi belajar siswa, yaitu:
1. Kebermaknaan
2. Kontinuitas dan integritas
3. Model/ figur/tokoh
4. Komunikasi terbuka
5. Tugas menyenangkan dan yang menantang
6. Latihan yang tepat dan aktif
7. Penilaian tugas
8. Kondisi dan konsekuensi yang menyenangkan
9. Keragaman pendekatan
10. Mengembangkan beragam kemampuan
11. Melibatkan sebanyak mungkin indera
12. Keseimbangan pengaturan pengalaman belajar
Dalam pendidikan berbasis kecakapan hidup, pembelajarannya menggunakan pendekatan kontekstual atau lebih dikenal dengan contextual teaching and learning (CTL) yang berperan sebagai strategi untuk mecapai tujuan yang telah dirumuskan dalam pendidikan. Sedangkan kecakapan hidup sebagai acuan pencapaian sasaran (tujuan).
Blanchard (2001) dalam Susanto (2004) menawarkan strategi contextual teaching and learning (CTL) sebagai berikut:
1. Menekankan pentingnya pemecahan masalah
2. Mengakui perlunya kegiatan belajar mengajar yang dilakukan dalam berbagai konteks seperti rumah, masyarakat, dan tempat kerja.
3. Mengajar siswa memantau dan mengarahkan pembelajaran mereka agar menjadi siswa yang belajar sendiri.
4. Menekankan pelajaran pada konteks kehidupan siswa yang berbeda-beda.
5. Mendorong siswa belajar dari sesama teman dan belajar bersama
6. menggunakan penilaian autentik.
Jadi, pelaksanaan pendidikan berbasis kecakapan hidup tidak harus melalui perubahan kurikulum, akan tetapi yang diperlukan adalah menyiasati kurikulum untuk diorientasikan pada pengembangan kecakapan hidup, bersama dengan pembahasan mata pelajaran.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa:
1. Kecakapan hidup adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara pro aktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya.
2. Kecakapan hidup merupakan salah satu alternatif baru pendidikan dengan melalui pengembangan kurikulum pendidikan. Kurikulum tersebut diharapkan memuat berbagai kecakapan hidup, melalui keseimbangan antara teori dan praktek, atau antara ilmu dan amal dalam kehidupan keseharian, dengan mengedentifikasi life skill pada tiap topik keilmuan yang diperlukan. Pada level menajemennya, yaitu dengan melakukan kerjasama yang baik dan harmonis antara pihak sekolah, orang tua dan masyarakat (stakeholders pendidikan) dalam level kebijakan dan level operasional. Dalam segi metodologi pendidikan, yaitu dengan melalui pendekatan konstekstual, hal ini dilakukan untuk mendorong siswa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, pengalaman dan keterampilan berfikir yang logis dan sistematis, sehingga suasana proses belajar mengajar menjadi kondusif komunikatif dan tercipta hubungan harmonis antara guru dengan peserta didik.

B. Saran
Dari berbagai paparan yang telah kami bahas di atas, maka kami selaku penulis ingin menyampaikan saran kepada pembaca antara lain:
1. Bagi para pendidik, dijadikan dasar pijakan untuk terjun dalam dunia pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.
2. Dari wacana reorientasi pendidikan menuju pendidikan berbasis kecakapan hidup, diharapkan menjadi wahana yang konstruktif bagi peningkatan pendidikan ke depan, hal ini mensyaratkan bahwa dalam pembelajaran tidak hanya berorietasi pada sistem hafalan, serta ranah kognitif dijadikan acuan yang prioritas, akan tetapi bagaimana proses pembelajaran ini dapat dikembangkan pada tiga pilar keterampilan yaitu: learning skill, Thinking skills,. Living skill sehingga pada akhirnya mampu mengasilkan peserta didik yang berkualitas, kreatif, inovatif yang mampu menerjemahkan dan menghadirkan agama dalam prilaku sosial dan individu ditengah-tengah kehidupan masyarakat.
3. Lembaga pendidikan sebagai fasilitas di mana terdapat interaksi antara pendidik dan peserta didik dalam proses pembelajaran, maka dalam hal ini lembaga pendidikan dituntut untuk bersikap terbuka terhadap lingkungan sekitar, baik dari perkembangan zaman maupun dari tuntutan masyarakat, dengan harapan mampu mengakomudasi berbagai kebutuhan masyarakat serta tanggap terhadap perkembangan zaman.
Daftar pustaka


Depdiknas. 2002. Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup (life Skill) Melalui PendekatanBorad-Based Education (BBE). Jakarta.

Muis Sad Iman. 2004. Pendidikan Partisipatif. Safiria Insania Press. Yogyakarta.

Mulyasa, E. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik dan Implementasi. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung.

Nana Sudjana. 1989. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah. Sinar Baru. Bandung.

Pudyo Susanto. 2004. Pembelajaran Konstruktivis dan Kontekstual Sebagai Pendekatan Dan Metodologi Pembelajaran Sains Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi. FMIPA; UM. Malang

Subandijah. 1993. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Sularto. 2000. Seandainya Aku Bukan Anakmu. Kompas. Jakarta.

Suryo Subroto. 1977. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Rineka Cipta. Jakarta.

Tim Dosen FIP-IKIP Malang. 2000. Pengantar Dasar-dasar Kependidikan. Usaha Nasional. Surabaya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar