Rabu, 19 Mei 2010

Pengembangan Test Dalam Proses Pembelajaran Bahasa Inggris

PENTINGNYA PENGEMBANGAN TES TERHADAP PENINGKATAN PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS
Oleh
Achmad Kusairi, SPd.


A. Pendahuluan
Di dalam melakukan tes sebaiknya kita tetap mengacu kepada konsep penilaian. Sebenarnya penilaian atau tes tidak terlepas dengan apa yang kita lakukan dalam hal ini mengajar. (Nurgiantoro, 190: 1988) Untuk mengetahui apakah kita berhasil di dalam melaksanakan proses belajar mengajar maka seharusnya kita mempunyai alat untuk mengukur. Alat menguklur ini kita sebut dengan evaluasi atau tes.Pernyataan ini sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Tuckman bahwa, “A test can be constructed to be kind of class of measurement device typically used to find out something about a person”. (1975:12)
Lebih lanjut dinyatakan bahwa, “A language test is a device that tries to assess how much has been learned in a foreign language course, or some part of a course”. (Oller, 1979:1-2). Merujuk pada pernyataan ini maka sebagai guru bahasa kita memiliki kewajiban untuk melakukan penilaian dengan apa yang kita sebut dengan penilaian bahasa. Dengan demikian tes yang diberikan adalah merupakan alat yang dipakai untuk mengetahui atau mengukur seberapa banyak siswa yang telah mempelajari bahasa itu menguasai bahasa yang dipelajarinya.
Perlu dijelaskan disini bahwa selain tes dibuat untuk mengukur kemampuan siswa tes juga dibuat sebagai alat untuk memantapkan pembelajaran serta untuk memotivasi siswa didalam pembelajaran khususnya pembelajaran bahasa. Pernyataan ini didukung apa yang dikatakan Heaton Bahwa:
“Both testing and teaching are so closely interrelated that it is virtually impossible to work in either field without being constantly concerned with the other. Test may be constructed primarily as devices to reinforce learning and to motivate the student or primarily as a means of assessing the student performance in the language”. (1988:5)
Senada dengan pendapat di atas juga disampaikan oleh Lado berikut ini: “The same basic understanding of the facts of language learning applies to language testing. What the student has to learn constitutes the corpus of what we have to test. Since the student has to learn language, it is language that we must test” (1961:20).
Berdasarkan kajian teori di atas jelas bahwa tes kebahasaan merupakan bagian dari pembelajaran bahasa. Sebagai guru bahasa maka kita dituntut secara moril untuk mengembangkan penilaian secara kreatif. Paling tidak kita harus mampu mempertahankan kosep0konsep penilaian kebahasaan yang ada. Karena pelaku utama dari PBM adalah guru yang tahu segala sesuatu termasuk kemampuan masing-masing siswa. Jadi bisa dikatakan berhasil tidaknya pembelajaran bahasa yang kita lakukan tergantung pada guru juga sebagai ujung tombak pelaksanaan PBM.

B. Pembahasan
Peneliti telah mengadakan ujian sebagai uji coba yang dilakukan di MAN Jungcangcang Pamekasan pada tanggal 15 Desember 2005 dengan model (terlampir). Pelapor berusaha mengadakan ujian dengan model KBK karena pada kenyataan dilapangan KBK dipakai secara meluas dan serentak di seluruh tanah air sejak tahun 2004/2005.
Pada KBK ada dua hal pokok penilaian yang perlu diperhatikan yaitu penilaian proses (process assessment) dan penilaian akhir (outcome assessment). Tetapi pelapor hanya melakukan apa yang disebut dengan penilaian hasil. Sebab pada kenyataanya penilaian proses terkait dengan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Sementara output yang diperoleh tidak hanya meliputi penilaian kognisi saja melainkan juga pada penilaian afeksi. (Puskur:2002)
Sebagai seorang guru kita bisa mengadakan penilaian dengan menggunakan tes yang pelapor sebut dengan Tes Kompetensi (Competence Test). Tes ini saya coba berikan pada siswa kelas X dengan jumlah 30 siswa. Dengan tes ini saya memadukan berbagai skill keterampilan berbahasa (language skills) yang terdiri dari reading, writing, spiaking dan listening karena pada KBK empat skill yang diharapkan tercapai. Tetapi secara implicit harus ada juga didalamnya dengan apa yangkita sebut dengan unsure bahasa (language content) yang terdiri dari vocabulary, structure, dan pronunciation.
1. Cara pelaksanaan
Dalam pelaksanaan ini peneliti (sebagai bahan penelitian) mencoba memberi tes bahasa Inggris tentang genre: procedure pada siswa sebelum melaksanakan proses belajar mengajar. Hal ini peneliti sengaja lakukan untuk mengetahui tentang kevaliditisan soal. Dalam pelaksanaannya peneliti tidak langsung memberikan soal yang akan diujikan tetapi peneliti memberikan syarat kepada siswa sebelum mengerjakan soal, yakni:
 Siswa diharapkan menyediakan segala peralatan untuk ujian dan tidak diperkenankan meminjam pada teman selama mengerjakan soal.
 Siswa diharuskan mengerjakan sendiri dan tidak diperkenankan merilik, berbicara apalagi bertanya, menggerakkan anggota badan yang tidak pada tempatnya yang jika melanggar menyebabkan pengurangan 1 poin pada setiap pelanggaran.
 Jika siswa melakukan 3 kali pelanggaran secara berturut-turut dan sudah diberi peringatan tetap melakukan hal yang sama maka siswa dipersilahkan keluar dan langsung mendapatkan nilai 0.
 Dan apabila siswa sudah yakin selesai mengerjakan soal-soal itu maka diperkenankan keluar dengan membiarkan hasil pekerjaannya di tempat masing-masing secara tertib.
Ketika mengerjakan soal-soal siswa merasa seperti dihukum. Hal ini tampak dari wajah dan sikap mereka ketika mengerjakan soal-soal dan suara-suara mereka setelah mengerjakannya. Tetapi sebelumnya pelapor memberi semangat dan suasana baru bagi mereka bahwa lebih baik percaya diri dan mengerjakan sendiri daripada percaya dan bertanya pada orang lain. Dan lebih baik mendapatkan nilai kecil daripada mendapat nilai tinggi tapi dengan cara tidak baik (mencuri). Implikasinya jika siswa itu terbiasa bersikap seperti itu maka ketika di masyarakat bukan tidak mungkin mereka akan melakukan hal yang sama.
Semangat dan suasana seperti inilah yang pelapot harapkan. Sehingga diharapkan siswa memiliki rasa percaya diri dan berusaha belajar dengan semangat untuk mendapatkan nilai yang terbaik. Walaupun kenyataannya nanti mendapatkan nilai jelek tetapi dia akan puas dengan hasil kerja mereka sendiri dan akan mengetahui kemampuan (kekurangan dan kelebihan) yang dimilikinya. Sehingga diharapkan pula untuk tes selanjutnya mereka akan berusaha mencari kekurangan-kekurangan yang dimilikinya sebagai umpan balik (feetback) bagi mereka. Pada awalnya mereka tidak mau model pelaksanaan ujian seperti ini tetapi setelah diberi pengertian mereka pada akhirnya mau juga.

2. Penilaian
Penilaian diberikan berdasarkan skor. Peneliti segaja memberikan skor pada setiap soal yang telah diberikan di sampingnya sehingga siswa akan mengetahui soal man yang mendapatkan nilai yang paling tinggi dan yang paling rendah. Siswa juga akan mengerjakan soal mana yang perlu dikerjakan terlebih dahulu, apa soal yang sulit atau yang lebih mudah terlebih dahulu yang dikerjakan.
Hasil yang diperoleh dari tes awal (pretest) ini adalah bahwa 55% siswa mendapatkan nilai di atas 60 dan 45% siswa mendapatkan nilai di bawah 60 (hasil terlampir). Setelah memberikan soal peneliti melakukan PBM tentang genre: procedure dan menjelaskan segala sesuatunya melalui diskusi kelas dan beberapa penjelasan yang dianggap perlu. Untuk mengetahui apakah PBM yang telah peneliti lakukan berhasil atau tidak maka peneliti memberi tes akhir (postest) dengan bentuk soal dan persyaratan yang sama. Hasil yang diperoleh adalah bahwa 90% siswa mendapatkan nilai di atas 60 dan 10% siswa mendapatkan nilai dibawah 60 (hasil terlampir).
Berdasrkan keterangan di atas, ini menunjukkan bahwa PBM yang peneliti lakukan menunjukkan keberhasilan. Walaupun soal dibuat untuk mengukur kognisi siswa tetapi keberhasilan afeksi siswa secara implicit termasuk juga didalamnya. Hal ini merujuk kepada semangat dan cara belajar siswa untuk mendapatkan nilai yang terbaik terhadap pelajaran bahasa Inggris.

3. Analisis soal
Setelah mengadakan penilaian maka peneliti mencoba untuk menganalisisa hasil dari penilaian ini berdasarkan soal yang telah diberikan sebelumnya (terlampir) sebagai cara untuk mengetahui apakah soal ini valid dan bahkan reliability. Berikut adalah contoh hasil analisa penilaian tes kompeten yang saya ambil dari salah satu sekolah.

ANALISIS HASIL PENILAIAN SISWA
MAN JUNGCANGCANG PAMEKASAN

Bidang Studi : Bahasa Inggris Satuan Pendidikan : MA
Genre : Procedure Banyaknya Soal : 8 Soal
Kelas/ Semester : X/ 1 Banyaknya Peserta : 30 siswa

NO NAMA SKOR YANG DIPEROLEH SKOR
% KETER
CAPAIAN KETUNTASAN

1 2 3 4 5 6 7 8 YA TDK
1 ACH. RIFA’I 2 5 7 2 2 2 2 15 37 74 √
2 AHMAD ZAINI 2 4 7 2 2 2 2 15 37 74 √
3 AFIF AMRULLAH 2 3 5 2 2 2 2 13 34 68 √
4 AGUS SUBAIDI 2 5 7 2 2 2 2 15 37 74 √
5 AINUL YAKIN 2 6 9 2 2 2 2 15 40 80 √
6 AINUR ROFIQ HAFSI 2 4 8 2 2 2 2 15 37 74 √
7 AHMAD J SYAKIR 1 3 5 2 1 2 1 10 25 50 √
8 ARINI RAHMATIKA 2 6 9 2 2 2 2 15 40 80 √
9 HAIRUL SALEH 2 3 5 2 2 2 2 12 33 66 √
10 INDAH LIPTIANI 2 4 7 2 2 2 2 13 35 70 √
11 JUNAIDI AMIN 1 3 7 2 2 2 2 19 28 58 √
12 KHALIKUL H 2 3 5 2 2 2 2 12 33 66 √
13 LULUK ATUL H 2 5 6 2 2 2 2 13 35 70 √
14 M. DAHLAN W 2 4 7 2 2 2 2 15 37 74 √
15 MAMANG E 2 4 7 2 2 2 2 15 37 74 √
16 MASNOAH 2 3 5 2 2 2 2 13 34 68 √
17 MUHATDI C 2 3 7 2 2 2 2 25 36 72 √
18 NURSYAFIATIL L 2 9 9 2 2 2 2 15 43 86 √
19 MUZAYINATUL H 2 7 9 2 2 2 2 15 41 82 √
20 RIKA NOERMA T 2 5 6 2 2 2 2 13 35 70 √
21 RIRIN NUR IS 2 4 7 2 2 2 2 13 35 70 √
22 ROHMANIYAH 2 5 6 2 2 2 2 13 35 70 √
23 RUSMANIATUL L 2 3 8 2 2 2 2 15 37 74 √
24 SAHRUL ASAL 1 3 5 2 1 2 1 10 25 50 √
25 SERLY L Q 2 5 6 2 2 2 2 13 35 70 √
26 SILVIA N 2 3 4 2 2 2 2 13 33 66 √
27 SITI ZULAIHAH 2 6 9 2 2 2 2 15 40 80 √
28 USLIFATUL H 2 5 6 2 2 2 2 13 34 70 √
29 WAHYUNI S 2 3 4 2 2 2 2 15 37 74 √
30 YANA ARTIKA B 2 5 6 2 2 2 2 13 34 70 √
JUMLAH NILAI 2004
JUMLAH SKOR 1002
JUMLAH SKOR MAKSIMAL 1500
% SKOR TERCAPAI 66,8 66,8

Catatan: jumlah skor maksimal ideal yang diperoleh adalah 50
Hasil analisa adalah:
1. Ketuntasan belajar yang meliputi:
a. Perorangan yang terdiri dari:
o Banyaknya siswa seluruhnya : 30 siswa
o Banyaknya siswa yang telah tuntas belajar : 27 siswa
o Banyaknya siswa yang tidak tuntas belajar : 3 siswa
o Persentase banyaknya siswa yang telah tuntas belajar : 90%
b. Klasikal : ya/ tidak (coret yang tidak perlu)
2. Ketidaktuntasan belajarsebagai tindak lanjut (follow up), yaitu:
a. Perlu perbaikan secara klasikal terhadap soal nomor 3 sebab sola sulit karena ternyata siswa tidak sampai di atas 50% bisa menjawab dengan benar dan hasil yang diperoleh rata-rata di bawah skor 5 dari skor maksimum 10 untuk nomer soal ini.
b. Perlu perbaikan secara individu terhadap siswa:
Nama: 1. AHMAD J SYAKIR.
2. JUNAIDI AMIN
3. SAHRIL ASAL
3. Kesimpulan analisa
Sebagai kesimpulan dari analisa penilaian ini adalah bahwa:
a. Daya serap seseorang
Seorang siswa dikatakan telah tuntas belajar apabila dia telah mencapai skor 65% atau 6,5.
b. Daya serap klasikal
Suatu kelas disebut tuntas belajar apabila di kelas tersebut mendapat 85% yang telah mencapai daya serap 65%

C. Kesimpulan
Dari apa yang pelapor sampaikan di atas tentang pengembangan evaluasi, maka sebagai seorang guru seharusnya melakukan penilaian. Penilaian sangat berguna sebagai alat ukur ketika kita ingin mengukur kemampuan kita di dalam mengajar dan mengukur materi ajar yang telah bisa diserap siswa. Hal ini kita lakukan sebagai penyeimbang di dalam pembelajaran apakah kita sendiri yang tidak atau kurang mampu, metode, materi yang terlalu sulit, evaluasi yang kita buat terlalu sulit atau memang ketidakberhasilan itu karena memang dari siswa itu sendiri. Ini semua tidak bisa lepas dan tidak bisa kita pungkiri akan pentingnya evaluasi besarta pengembangannya.


Referensi

Heaton, J.B. 1988. Writing English Language Test. London and New York.

Lado, Robert. 1969. Language Testing , The Contraction and Use of Foreign Language Tests A Teacher’s Book. Longmans.

Nurgiantoro, Burhan. 1988. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. BPFE. Yogyakarta.

Oller, John.1979. Language Test at School. Longman Group Ltd.

Puskur. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Balitbang.

Tuckman, Bruce W. 1975. Measuring Educational Outcome. Fundamental of Testing. Harcourt Brace Jovanich, Inc.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar