Jumat, 21 Mei 2010

PENDIDIKAN MORAL: WAHANA MERAJUT GENERASI MUDA HARAPAN BANGSA
Oleh: Achmad Kusairi, SPd. (Guru MAN Jungcangcang Pamekasan)

Ultimate goal atau tujuan pamungkas dari semua model pendidikan, terlebih lagi pendidikan moral adalah untuk mencapai kebahagiaan. Kebahagiaan manusia bisa tercapai apabila ia mampu untuk mencapai kesempurnaannya dengan jalan menangkap sinyal-sinyal yang telah diberikan Tuhan di alam ini. Kesempurnaan manusia, dalam konteks ini, tidak didefinisikan berdasarkan kekuatan fisiknya, ketangkasan ataupun ketajamannya, tatapi ditentukan oleh akal atau rasionalitasnya. Betapapun kuatnya fisik atau ketangkasan, tanpa memperdulikan rasionalitasnya, maka manusia akan kehilangan ciri khas kemanusiaannya. Itulah sebabnya, manusia sering disebut sebagai hewan yang berakal (al-hayawan al-nathiq), sehingga apabila seseorang tidak mengembangkan akalnya, ia akan kembali ke tingkat hewan. Karenanya, rasionalitas telah menjadi identitas yang dilekatkan pada kemanusiaan. Rasionalitas merupakan substansi fundamental manusia, yang tanpanya, manusia akan kehilangan kemanusiaannya.
Bagaimana sebenarnya relevansi pendidikan moral dengan kebahagiaan tersebut. Dalam prakteknya, kebahagiaan manusia tercapai ketika manusia bisa merealisir potensi kebaikan yang ada pada dirinya, yakni ketika ia mampu mencerminkan al-akhlaq al-karimah. Ketika al-akhlaq al-karimah ini terpancar, maka kebahagiaan manusia yang sejati akan dirasakan. Patutlah kiranya jika dikatakan tujuan pendidikan akhlak adalah menghasilkan moral untuk diri kita yang menjadi sumber perbuatan-perbuatan kita yang seluruhnya indah dan dalam waktu yang bersamaan dapat dilakukan oleh kita secara mudah tanpa kesulitan, seperti yang dikatakan ibn Miskawaih.
Langkah strategis untuk tahap-tahap pencapaian kebahagiaan terkait erat dengan karakter atau sifat dasar manusia itu sendiri. Sudah termaklumi bahwa kebahagiaan akan tercapai apabila kita dapat mencapai akhlak yang mulia, yang tentunya sesuai dengan misi Rasulullah saw. diutus Tuhan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Karakter manusia terdiri atas kumpulan sifat-sifat tertentu manusia yang bersumber pada tiga daya yang memiliki manusia: nafsu syahwat, nafsu amarah (ghadlabiyyah) dan nafsu rasional. Ketiga nafsu tersebut tidaklah buruk pada dirinya. Jika stasiun kendali terdapat pada akal, maka dari ketiga daya jiwa tersebut akan keluar sifat-sifat yang terpuji yang disebut keutamaan moral (fadha’il). Akan tetapi, apabila akal tidak bisa memposisikan diri sebagaimana dimaksud, maka dari ketiga daya jiwa tersebut akan muncul sifat-sifat yang tercela yang disebut kejahatan moral (radza’il), sehingga bisa juga memunculkan penyakit jiwa. Jelaslah bagi kita bahwa akhlak yang mulia merupakan kunci kebahagiaan manusia.
Pendidikan, khususnya yang berkaitan dengan moralitas, pada usia muda akan lebih efektif dibandingkan dengan usia dewasa. Ada pepatah yang mengatakan bahwa belajar di waktu muda ibarat mengukir di atas batu, tetapi belajar sesudah dewasa ibarat mengukir di atas air. Pada usia remaja, dimana pertumbuhan fisik dan psikis sedang mengalami perkembangan yang pesat sekali, seorang anak akan mengalami goncangan-goncangan yang hebat dan bahkan disorientasi yang membingungkan akibat dorongan-dorongan dari daya-daya jiwa yang meletup-letup. Nafsu syahwat yang baru saja mencapai kematangannya tentu saja akan menimbulkan problem yang serius pada diri remaja. Dalam hal ini, bimbingan dari orang yang dewasa serta perhatian yang telaten sangat diperlukan. Karena tidak seperti orang dewasa yang nafsu yang rasionalnya telah berkembang dengan sempurna, pada usia remaja daya atau nafsu pada umumnya belum mencapai tingkat kematangan yang diharapkan, makanya bimbingan dan perhatian yang tulus baik dari guru maupun orang tua sangat dibutuhkan, terutama dengan keteladanan, sebab mengajarkan sesuatu melalui perbuatan nytata jauh lebih efektif ketimbang hanya dengan kata-kata (lisanul hal afshahu min lisanil maqal).
Pendidikan moral pada usia remaja tentu saja tidak boleh dilakukan secara parsial, melainkan secara integral. Menurut saya pendidikan pada usia remaja sekarang ini terlalu menekankan pada daya jiwa kognitif yakni yang berkaitan dengan nafsu rasional saja, tetapi kurang memperdulikan pembinaan moral bagi daya-daya jiwa yang lainnya seperti nafsu syahwat dan nafsu amarah. Akibatnya, kita dapat menghasilkan pemuda-pemuda yang cerdas, tetapi kurang berani atau kehilangan rasa malu.
Oleh karena itu, untuk menciptakan pemuda yang berakhlak mulia, maka pembinaan moral harus diserahkan pada sistem pembinaan yang menyeluruh. Pembinaan terhadap daya rasional kognitif tentu saja sangat penting dan ini pada umumnya dapat diselenggarakan secara lebih efektif dalam lembaga-lembaga pendidikan formal, seperti madarasah, sekolah maupun perguruan tinggi. Tetapi pembinaan moral terhadap daya-daya jiwa yang lainnya, seperti yang berkaitan dengan nafsu syahwat dan ghadlabiyyah - karena memerlukan keintiman dan kepercayaan pribadi dalam penyelenggaraannya - akan lebih efektif dilakukan dalam lingkungan-lingkungan informal, seperti organisasi sosial keagamaan (remaja masjid, forum silaturrahmi, penyuluhan, pengajian dan lain-lain) dan terutama lingkungan keluarganya sendiri.
Seorang pemuda tentu perlu dididik disiplin-disiplin rasional, tetapi ia juga perlu dididik sopan santun (adab) baik dalam soal pakaian, makanan, maupun dalam bertutur sapa. Ibn Miskawaih menekankan pentingnya menuntut ilmu-ilmu matematika, bukan saja untuk membina kecerdasannya, tetapi agar si pemuda tersebut terbiasa dengan kejujuran, mampu menanggung beban pikiran, menyukai kebenaran, menghindari perbuatan batil dan membenci kebohongan. Selain itu ia juga menganjurkan agar pemuda atau remaja ini juga mampu memilih teman yang cocok. Karena sekali mereka bergaul dengan orang-orang yang tidak berakhlak mulia, maka para pemuda akan dengan mudah mencontoh sifat-sifat yang tak terpuji dari mereka, padahal sekali noda melekat pada diri kita, tentu akan sulit sekali untuk menghilangkannya. Selain dari itu, para pemuda dianjurkan untuk mampu mengadakan koreksi diri atau intropeksi terhadap kekurangan-kekurangan yang melekat pada diri mereka dengan cara berkonsultasi dengan orang-orang yang dapat memberikan atau memainkan peranan yang utama. Pendidikan agama, contoh-contoh atau teladan yang baik dari pada senior mereka akan sangat efektif dalam rangka pembinaan moral remaja.
Jadi dalam sistem pembinaan moral yang integral dan terpadu ini, pembinaan diarahkan bukan hanya untuk menciptakan remaja-remaja yang cerdas, punya ingatan yang baik, berfikir jernih, dan punya pemahaman yang handal, dan lain-lain yang timbul dari nafsu rasional, dengan mengembangkan IQ (Intelegentia Question) atau ketajaman intelektual. Akan tetapi, pembinaan moral remaja juga harus diarahkan pada terciptanya sifat-sifat sederhana, punya rasa malu, tenang, sabar, dermawan, rasa puas (qana’ah), setia, optimis, anggun dan wara’, yakni keinginan untuk senantiasa berbuat baik sebagai sifat-sifat yang muncul dari nafsu syahwat dan juga terciptanya sifat-sifat berani, besar jiwa, ulet, tegar, tenang, tabah, menguasai diri dan ulet bekerja, seperti juga sifat dermawan, mementingkan orang lain, bergembira, berbakti dan sebagainya yang kesemuanya timbul dari nafsu amarah atau ghadlabiyyah , yang bisa dicapai dengan mengembangkan EQ (Emotional Question) atau ketajaman emosional yang terakumulasi dengan SQ (Spiritual Question) atau ketajaman spiritual.
Dalam pembinaan akhlak yang mulia seperti tersebut di atas, maka peran pendidik, orang tua, saudara dan rekan-rekan sebaya dari remaja kita akan sangat menentukan. Pengarahan atau bimbingan dan perhatian yang tulus dan tidak egois merupakan kunci keberhasilan dalam pembinaan tersebut, tentu saja di samping contoh teladan yang tidak dibuat-buat. Hanya apabila tercapai pembinaan moral dari berbagai aspeknya inilah maka akan tercipta suatu kebijakan paling utama yaitu keadilan, karena keadilan, menurut para pakar etika muslim, tercapai hanya apabila kebajikan-kebajikan yang muncul dari daya-daya jiwa manusia tercapai. Dengan tercapainya kebajikan utama ini, yakni keadilan, maka tujuan pembinaan moral - yaitu kebahagiaan - insya Allah akan terwujud. Perpaduan antara IQ, EQ dan SQ (Spiritual Question) atau ketajaman spiritual akan mengantarkan pada tujuan tersebut.

--------@@@@@--------

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar