Jumat, 21 Mei 2010

EPISTEMOLOGI ISLAM

EPISTEMOLOGI ISLAM
Oleh : Achmad Kusairi
(Guru MAN Jungcangcang Pamekasan)
Epistemologi dan pandangan hidup, seperti yang akan kita kaji nanti, memiliki kaitan yang sangat erat, sebab keduanya berada dan bekerja dalam pikiran manusia.Ia bahkan dapat digambarkan sebagai visious circle (lingkaran setan), atau dalam istilah lainnya tasalsul, di mana yang satu dapat mempengaruhi yang lain. Kepercayaan terhadap pengetahuan tentang Tuhan, misalnya, membuat pengetahuan non-empiris menjadi possible (mungkin). Sebaliknya, menafikan pengetahuan non-empiris akan berimplikasi pada penolakan terhadap pengetahuan tentang Tuhan dan tentang hal-hal spiritual lainnya. Contoh serupa dapat terjadi pada kepercayaan mengenai sumber pengetahuan tentang moralitas. Percaya bahwa sumber pengetahuan moralitas hanyalah sebatas subyektivitas manusia berarti menolak sumber di luar itu, termasuk juga wahyu. Namun persoalan bagaimana epistemologi dan pandangan hidup sama-sama bekerja dalam pikiran manusia memang tidak sesederhana itu, akan tetapi hubungan antara keduanya dapat didemonstrasikan.
Dalam islam, epistemologi berkaitan erat dengan struktur metafisika dasar islam yang telah terformulasikan dengan wahyu,hadith,akal,pengalaman dan intuisi. Ini berarti bahwa ilmu dalam islam merupakan produk dari pemahaman(tafaqquh)terhadap wahyu yang memiliki konsep universal, permanen(thawabit) dan dinamis(mutaghayyirat), pasti (muhkamat) dan samar-samar (mutashabih), yang asasi (usul) dan yang tidak (furu'). Oleh sebab itu pemahaman terhadap wahyu tidak dapat dilihat secara dikhotomis;historis-normatif, tekstual-kontekstual, subyektif-obyektif, dan lain-lain.. Wahyu, pertama kal-tama harus di fahami sebagai realitas bangunan konsep yang membawa pandangan hidup baru.Realitas bangunan lonsep ini kemudian harus di jelaskandan ditafsirkan agar dapat dipergunakan untuk memahami dan menjelaskan realitas alam semesta dan kehidupan ini. Karena bangunan konsep dalam wahyu yang membentuk worldview itu sarat dengan prinsip-prinsip tentang ilmu, maka epistemologi merupakan bagian terpenting di dalamnya. Tak heran jika tradisi intelektual dalam peradaban islam dapat hidup dan berkembang secara progessif. Jadi peradaban islam itu bermula dari kegiatan tafaqquh terhadap wahyu yang kemudian berkembangtradisi intelektual dan akhirnya menjadi peradaban yang kokoh. Disitu pandangan hidaup atau worldview dan epistemologi sama-sama bekerja. Yang akan di buktikan dalam pembahasan ini adalah bahwa epistemologi islam lahir dan berkembang berasaskan pandangan hidup islam. Jika itu terbukti maka dapat dipostulasikan bahwa epistemologi islam hanya dapat di kembangkan dengan merujuk pada worldview islam. Selanjutnya makalah ini juga akan membuktikan kaitan konseptual antara keduanya dan karena itu perlu dijelaskan terlebih dahulu pengertia dan konsep masing-masing.
Pengertian Umum Worldview
Secara awam worldview atau pandangan hidup sering diartikan filsafat hidup atau prinsip hidup. Setiap kepercayaan, bangsa, kebudayaan atau peradaban dan bahkan setiap orang mempunyai worldview masing-masing. Maka dari itu,jika worldview disosiasikan kepada sesuatu kebudayaan maka spektrum maknanya dan juga termanya akan mengikuti kebudayaan tersebut. Esensi perbedaannya terletak pada faktor-fakordominan dalam pandangan hidup masing-masing yang boleh jadi berasal dari kebudayaan,filsafat, agama , kepercayaan, tata nilai sosial atau lainnya. Faktor- faktor itulah yang menentukan cara pandang dan sikap manusia yang bersangkutan terhadap apa yang terdapat dalam alam semesta, dan juga luas atausempitnya spektrum maknanya. Ada yang hanya terbatas pada kesini-sinian, ada yang terbatas pada dunia fisik, ada pula yang menjangjkau dunia metafisikaatau alam diluar kehidupan dunia.
Terma yang umum digunakan untuk memaknai pandangan hidup adalah wrldview(inggris),weltanschaaung atau weltan sicht(jerman), terkadang juga di sebut paradigma. Dalam pemikiran islam terma yang digunakan bermacam-macam seperti yaitu al tasawwur al islami (Sayyid Qutb), al- Mabda' al islami (Syakh atif al zain), Islami nazariyat(Al-Maududi),dan juga ru'yat al islam lil wujud (Syekh Mohammad naquib al attas) terkadang juga di pakai terma nazariyyat al islam li al-kawn. Untuk memudahkan artikulasi istilah ini, maka dalam diskursus ini, istilah world dipakai sebagai kata pinjaman, namun ketika ia diberi kata sifat islam maka kata itu telah mengalami perubahan definisinya.. Untuk memahami lebih jauh makna worldview akan di paparkan definisi-definisi worldview dari pakar-pakar berbagai bidang.
Ninian smart,, pakar kajian perbandingan agama, memberi makna worldview dalam konteks perubahan sosial dan moral. Worldview adalah "kepercayaan perasaan dan apa apa yang terdapat dalam pikiran orang yang berfungsi sebagai motor bagi keberlangsungan dan perubahan sosial dan moral." Secara filosofis Thomas F Wall, memaknai worldview sebagai "sistem kepercayaan asas yang integral tentang hakekat diri kita, realitas dan tentang makna eksitensi. Dalam bidang yang sama Alparslan Acikgence memaknai worldview sebagai asas bagi setiap perilaku manusia termasuk aktifitas ilmiyah dan teknologi .Setiap aktivitas manusia akhirnya dapat di lacak pada pandangan hidupnya, artinya aktivitas manusia dapat di reduksi ke dalam pandangan hidip itu. Ada tiga poin penting dari ketiga definisi diatas yaitu bahwa worldview adalah motor bagi perubahan sosial, asas bagi pemahaman realitas dan asas bagi aktifitas ilmiah. Dalam konteks sains, hakekat worldview dapat dikaitkan dengan konsep "perubahan paradigma" Thomas S Kuhn oleh Edwin Hung juga di anggap sebagai weltan schauung Revolution. Sebab paradigma menyediakan konsep nilai, standar- standar dan metodologi-metodologi, ringkasannya merupakan worldview dan framework konseptual yang di perlukan untuk kajian sains.
Namun dari ketiga definisi di atas setidaknya kita dapat memahami bahwa worldview adalah tolok ukur untuk membedakan antara suatu peradaban dengan yang lain. Bahkan dari dua definisi terakhir menunjukkan bahwa worldview melibatkan aktifitas epistemologis manusia, sebab ia merupakan faktor penting dalam aktifitis penalaran manusia . lebih jauh tentang hakekat worldview dan sejalan dengan kajian kita saat ini berikut akan dipaparkan definisi worldview menurut para pemikir muslim.
Pengertian Worldview islam
Dalam tradisi islam klasik terma khusus untuk pengertian worldview belum ada, meski tidak berarti bahwa para ulama tidak memiliki asas yang sistemik untuk memahami realitas. Para ulama abad 20 menggunakan terma khusus untuk pengertian worldview ini, meskipun berbeda antara satu dengan yang lain. Maulanu al Mawdudi mengistilahkannya dengan islam nazariat (Islamic Vision),Sayyid Qutb menggunakan istilah al Tasawwur al islami (islamic Vision), mohammad Atif al Zain yang menyebutnya dengan al mabda' al islami(Islamic principle), Prof Syyed naquib Al attas menamakannya Ru'yatul islam lil Wujud (islamic Worldview). Meskipun istilah yang di pakai berbeda-beda pada umumnya para ulama tersebut sepakat bahwa islam mempunyai cara pandangnya sendiri terhadap segala sesuatu. Penggunaan kata sifat islam menunjukkan bahwa istilah ini sejatinya umum dan netral. Artinya agama dan peradaban lain juga mempunyai Worldview, Vision ataau Mabda', Sehingga Al Mabda' juga dapat di pakai untuk cara pandang komunis Al Mabda' Al Syuyu'i, Western Worldview, Cristian Worldview, Hindu Worldview,dll. Di sini kata sifat islam , Barat, Kristen, Hindu dll, di gunakan untuk pembeda. Maka dari itu ketika sifat islam di letakkan di depan kata worldview, maka makna etimologis dan terminologis menjadi berubah. Penjelasan dari istilah berikut ini akan menunjukkan hal itu.
Istilah islami nazariyat (Islamic Vision) bagi Al Mawdudi berarti "pandangan hidup yang di mulai dari konsep keesaan Tuhan (shahadah) yang berimplikasi pada keseluruhan kegiatan kehidupan manusia di dunia. SebabShahadah adalah pernyataan manusia yang mendorong manusia untuk melaksanakannya dalam kehidupannya secara menyeluruh. Worldview dalam istilah Syakh Atif al Zayn adalah al Mabda' al islami yang lebih cenderung merupakan kesatuan iman dan akal karena itu ia mengartikan mabda' sebagai aqidah fikriyah yaitu kepercayaan yang berdasarkan kepada akal. Sebab baginya iman didahului dengan akal. Sayyid Qutb memahami dari perspektif teologis dan juga metafisis mengartikannya dengan al tasawwur al islami, yang berarti sebagai " akumulasi dari keyakinan asasi yang terbentuk dalam pikiran dan hati setiap muslim, yang memberi gambaran khusus tentang wujud dan apa-apa yang terdapat di balik itu." S.M Naquib al attas mengartikan Worldview islam sebagai pandangan islam tentang realitas dan kebenaran yang nampak oleh mata hati kita dan yang menjelaskan hakekat wujud, oleh karena apa yang di pancarkan islam adalah wujud yang total maka worldview islam berarti pandangan islam tentang wujud(ru'yat al islam lil wujud). Tidak seperti yang lain di sini al attas meletakkan islam sebagai subyek dan realitas atau wujud dalam pengertian yang luas sebagai obyek. Namun poin yang di tangkap dari definisi keempat tokoh di atas adalah bahwa pandangan hidup islam adalah pandangan islam tentang realitas dan kebenaran yang menjelaskan tentang hakekat wujud yang berakumulasi dalam akal pikiran dan memancar dalam seluruh kegiatan kehidupan umat islam di dunia.
Pandangan-pandangan diatas telah cukup baik menggambarkan karakter islaim sebagai suatu pandangan hidup yang membedakannya dengan pandangan hidup lain. Namun, kajian lebih lanjut terhadap pemikiran di balik definisi para ulama tersebut kita akan menunjukkan orientasi yang berbeda. Al Maududi lebih mengarahkan kepada kekuasaan politik. Syakh Atitf al Zain dan Sayyid Qutb lebih cenderung memahaminya sebagai seperangkat doktrin kepercayaan yang rasional yang implikasinya adalah ideologi , meski Qutb menambahkan aspek metafisis. Naqub Al attas lebih cenderung kepada makna metafifsis dan epistemologis . Untuk lebih jelas tentang hakekat pandangan hidup berikut ini di ungkapkan pandangan mereka tentang elemen dan karakter worldview.
Elemen dan karakteriskik Worldview
Sebagai sebuah sistem yang secara definitif begitu jelas, worldview atau pandangan hidup memiliki karakteristik tersendiri yang di tentukan oleh beberapa elemen yang menjadi asas atau tiang penyokongnya. Antara satu pandangan hidup dengan pandangan hidup lain berbeda karena berbeda elemennya dan karakteristiknya. Diantara karakteristik yang membedakan antara makna pandangan hidup islam dan barat adalah spektrum maknanya. Makna worldview dalam studi keagamaan modern (modern study of religion), misalnya, terbatas terhadap agama dan ideologi, termasuk ideologi sekuler, namun dalam islam makna worldview menjangkau makna pandangan islam terhadap hakekat dan kebenaran tentang alam semesta (ru'yat al islam lil al wujud). Ia tidak terbatas pandangan akal manusia terhahadap dunia fisik atau keterlibatan manusua di dalamnya dari segi historis , sosial, politik dan kultural....tapi mencakup aspek al dunya dan al akhiroh, dimana aspek aldunya harus terkait erat dan mendalam dengan aspek akhirat harus di letakkan sebagai aspek final." Demikian pula perbedaan definisi tentang worldview juga mempengaruhi penentuan elemen di dalamnya dan karakteristiknya.
Meskipun demikian dalam menentukan eleman yang menjadi asas bagi suatu worldview, para cendekiawan mempunyai beberapa kesamaam. Bagi Thomas Wall elemen pandangan hidup di tentukan oleh pemahamanindividu terhadap enam bidang pembahasan yaitu Tuhan,ilmu,realitas,diri,etika,masyarakat. Ninian smart juga menetapkan enam elemen worldview yang ia sebut sebagai dimensi agama :doktrin,mitologi, etika, ritus,pengalaman dan kemasyarakatan.Sementara itu Naquib Al attas menetapkan bahwa elemen asas bagi worldview islam adalah konsep tentang hakekat Tuhan, tentang wahyu (Al Qur'an ), tentang penciptaan, tentang hakekat kejiwaan, manusia, tentang ilmu, tentang agama,tentang kebebasan, tentang nilai dan kebajikan, tentang kebahagiaan. Dari ketiga pemikir tersebut sekurangnya kitabisa mengidentifikasi bahwa mereka hampir sepakatbahwa 5 elemen penting dalam worldview adalah konsep Tuhan, konsep realitas, konsep ilmu, konsep etika atau nilai dan kebajikan, konsep tentang diri manusia. Namun spektrum makna worldview Wall dan Smart menjadi terbatas ketika keduanya tidak menjadikan konsep wahyu, penciptaan, agama dan kebahagiaan sebagai elemen worldview seperti konsep Al attas. Disini Al Attas bahkan menekankan bahwa pandangan hidup berperan dalam cara menafsirkan apa makna kebenaran (truth ) dan realitas ( reality ) dan juga dalam menentukan apakah sesuatu itu benar dan riel. Semuanya itu tergantung pada konsep metafisika masing- masing yang terbentuk oleh worldview. Di sini sekali lagi kita menangkap bahwa pandangan hidup lebih banyak berkaitandengan epistemologi daripada dengan ideologi. Lebih teknis lagi Prof. Alparslan menjelaskan nbahwa worldview islam adalah "visi tentang realitas dan kebenaran,berupa kesatuan pemikiran yang arsitektonik, yang berperan sebagai asas yang tidak nampak (non –observable ) bagi semua perilaku manusia, termasuk aktivitas ilmiah dan teknologi. Untuk lebih jelas lagi Al attas bahkan membedakan secara diametris worldview islam dan barat seperti yang di tabulasikan di atas.
Proses Munculnya Worldview dan Ilmu Pengetahuan
Sebenarnya cara bagaimana seorang individu berproses memiliki pandangan hidup (worldview ) cukup beragam dan dengan keragaman proses tersebut berbeda-beda pula bentuk dan sifat worldview yang di hasilkannya. Proses pembentukan worldview hampir tidak beda dengan proses pencarian pengetahuan. Worldview terbentuk dari adanya akumulasi pengetahuan dalam fikiran seseorang , baik priori maupun aposteriori, konsep-konsep serta sikap mental yang di kembangkan oleh seseorang sepanjang hidupnya. Bagi Wall akumulasi pengetahuan ia sebut epistomological beliefs itu sangat berpengaruh terhadap pembentukan worldview kita, namun yang sangat menentukan terbentuknya worldview baginya adalah metaphysical belief. Bagi Alparslan worldview lahir dari adanya konsep-konsep yang mengkristal menjadi kerangka fikir ( mental framework ). Hal ini dapat di jelaskan sebagai berikut : ilmu pengetahuan yang diperoleh seseorang itu terdiridari ide –ide , kepercayaan, aspirasi dan lain –lain yang kesemuanya itu membentuk totalitas konsep yang saling brkaitan dan terorganisasikan dalam suatu jaringan ( network ) dalam pikiran kita. Jaringan ini membentuk struktur berfikir yang koheren dan dapat di sebut suatu keseluruhan yang saling berhubungan "achitechtonik whole". Keseluruhan konsep yang salinh berhubungan inilah yang membentuk pandangan hidup seseorang. Dalam kasus islam, seperti yang akan di jelaskan nanti, pengetahuan yang membentuk totalitas konsep itu berasal dari ajaran agama islam.
Scara sosiologis prasyarat terbentuknya worldview bagi suatu bangsa atau masyarakat adalah konsep berfikir ( mental environment ), meskipun hal ini belum menjamin timbulnya tradisi intelektuald dan penyebaran ilmu di masyarakat. Untuk itu bangsa atau masyarakat itu memerlukan apa yang di sebut scientific conceptual scheme (kerangka konsep keilmuan ), yaitu konsep –konsep keilmuan yang dikembangkan oleh masyarakat itu secara ilmiah. Melihat kedua proses pembentukan dan pengembangan worldview yang seperti ini , maka worldview dapat dibagi menjadi natural worldview dan transparent worldview. Yang pertama terbentuk secara alami sedangkan tyang kedua terbentuk oleh suatu kesadaran berfikir saja. Dalam natural worldview disseminasi ilmu pengetahuan biasanya terjadi dengan cara- cara ilmiah dalam kerangka konsep keilmuan ( scientific conceptual schemes ) yaitu suatu mekanisme canggih yang mampu melahirkan pandangan hidup ilmiah ( scientific worldview ). Berbeda dari natural worldview transparent worldview lahir tidak melalui kerangka konsep keilmuan yang terbentuk dalam masyarakat, meskipun substansinya bersifat ilmiah.
Transparent worldview lebih sesuai untuk sebutan bagi pandangan hidupIslam. Sebab pandangan hidup islam tidak bermula dari adanyasuatu masyarakat ilmiah yang mempunyai mekanisme yang canggih bagi menghasilkan pengetahuan ilmiah. Pandangan hidup islam di canangkan oleh Nabi di Mekkah lalu paenyampaian wahyu- wahyu Allah dengan cara yang khas. Setiap kali Nabi menerima wahyu yang berupa ayat –ayat Al Qur'an, beliau menjelaskan dan menyebarkannya dengan cara – cara yang ada pada scientific worldview , dan oleh sebab itu maka Prof. Alparslan menamakanworldview islam sebagai " quasi – scientific worldview.
Proses pembentukan pandangan hidup melalui penyebaran ilmu pengetahuan di atas akan lebih jelas lagi jika kita lihat dari pembentukan – pembentukan elemen pokok yang merupakan bagian dari struktur pandangan hidupp itu serta fungsi di dalamnya. Seperti yang di jelaskan di atas bahwa pandangan hidup di bentuk oleh jaringan berfikir ( mental network ) yang berupa keseluruhan yang saling berhubungan (archithectonic whole ). Namun ia tidak mempresentasikan suatu totalitas konsep dalam pikiran kita. Ketika akal seseorang menerima ilmu pengetahuan tertentu di terima dan pengetahuan yang lain di tolak. Pengetahuanyang di terima oleh akal kita akan menjadibagian dari struktur worldview yang kita miliki. Struktur worldview hampir serupa dengan elemen worldview dan di sini terdapat sedikitnya lima bagian penting yaitu: 1)struktur tentang kehidupan,2)tentang dunia,3)tentang manusia,4)tentang nilai dan 5) struktur tentang pengetahuan. Proses terbentuknya struktur tentang worldview ini bermula dari struktur tentang kehidupan , yang di dalamnya termasuk cara –cara manusia menjalani kegiatan kehidupan sehari –hari, sikap – sikap individual dan sosialnya, dan sebagainya. Struktur tentang dunia adalah konsepsi tentang dunia dimana manusia hidup. Struktur tentang ilmu pengetahuan adalah merupakan pengembangan dari struktur dunia ( dalam transparent worldview ). Gabungan dari struktur kehidupan, dunia dan pengetahuan ini melahirkan struktur nilai, dimana konsep – konsep tentang moralitas berkembang. Setelah keempat struktur itu terbentuk dalam pandangan hidup seseorang secara transparent, maka struktur tentang manusia akan terbentuk secara otomatis.
Meskipun proses akumulasi kelima struktur diatas dalam pikiran seseorang tidak selalu berurutan seperti yang di sebut di atas, tapi yang perlu di catat bahwa kelima struktur itu pada akhirnya menjadi kesatuan konseptual yang berfungsi tidak saja sebagai kerangka umum ( general scheme ) dalam memahami segala sesuatu termasuk diri kita sendiri, tapi juga mendominasi cara berpikir kita . Di sini dalam konteks lahirnya ilmu pengetahuan di masyarakat, struktur pengetahuan merupakan asas utama dalam memahami segala sesuatu. Ini berarti bahwa teori atau konsep apapun yang di hasilkan oleh seseorang dengan pandangan hidup tertentu akan merupakan refleksi dari struktur –struktur di atas.
Teori ini berlaku secara umum terhadap semua kebudayaan dan dapat menjadi landasan yang valid dalam menggambarkan timbul dan berkembangnya pandangan hidup manapun,termasuk pandangan hidup islam. Berarti, kegiatan keilmuan apapun baik dalam kehidupan dunia barat, timur maupun peradaban islam dapat di telusuri dari pandangan hidup masing – masing.
Worldview dan Lahirnya Ilmu dalam Islam
Lahirnya ilmu dalam islam di dahului oleh adanya tradisi intelektual yang tidak lepas dari lahirnya worldview islam sendiri, sedangkan kelahiran worldview islam tidak lepas dari kandungan Al Qur'an dan penjelasannya dari Nabi. Jadi jika kelahiran ilmu dalam islam di bagi secara periodik maka urutannya terdiri dari : 1) Turunnya wahyu dan lahirnya pandangan hidup islam ,2) Adanya struktur ilmu pengetahuan dalam AlQur'an dan Al Hadits dan 3.) Lahirnya tradisi ilmu keilmuan islam dan 4). Lahirnya disiplin ilmu – ilmu islam.
Periode pertama turunnya wahyu harus di lacak dari periode Makkah dan Madinah. Dalam konteks kelahiran pandangan hidup, perode Makkah adalah periode pembentukan struktur kongsep dunia dan akhirat sekaligus, seperti konsep – konsep tentang Tuhan dan lkeimanan kepada – Nya, hari kebangkitan, penciptaan, akhirat, surga dan neraka, , hari pembalasan, baik dan buruk, konsep ilm, nubuwwah,din, ibadah dan lain – lain . Pada periode Makkah inilah terbentuk struktur konsep tentang dunia ( world structure ) baru yang merupakan elemen penting dalam pandangan hidup islam. Periode Madinah adalah periode konfigurasi struktur ilmu pengetahuan , yang berperan penting dalam konsep keilmuan, scientific conceptual scheme dalam pandangan hidup islam. Pada periode ini wahyu banyak mengandung tema – tema umum yang merupakan ritual dalam peribadatan, rukun islam, sistenm hukum yang mengatur hubungan antara individu, keluarga dan masyarakat, termasuk hukum –hukum tentang jihad, pernikahan, waris, hubungan muslimdengan umat beragama lain, dan sebagainya. Secara umum dapat di katakan sebagai tema- tema yang berkaitandengan kehidupan komunitas muslim. Meskipun begitu, tema- terma ini tidak terlepas dari tema wahyu yang di turunkan sebelumnya di Makkah, dan bahkan tema- tema wahyu di Makkah masuih terus di diskusikan.
Periode ke dua timbul dari kesadaran bahwa wahyu yang turun dan di jelaskan Nabi itu telah mengandung struktur fundamental scientific worldview , seperti struktur tentang kehidupan ( life structure ), struktur tentang dunia , tentang ilmu pengetahuan, tentang etika dan tentang manusia, yang kesemuanya itu sangat potensial bagi timbulnya kegiatan keilmuan. Istilah istilah konseptual yang terdapat dalam wahyu seperti ilm, iman, usul, kalam, nazar, wujud, tafsir ta'wil, fiqh, khalq, halal, haram, iradah dan lain –lain mulai di fahami secara intens. Konsep – konsep ini telah memadahi untuk di anggap sebagai kerangka awal konsep keilmuan( pre scientificconceptual scheme ), yang juga berarti lahirnya elemen – elemen epistemologis yang mendasar. Periode ini sangat penting karena menunjukkan wujudnya struktur pengetahuan dalam pikiran ummat islam saat itu yang berarti menandakan munculnya "struktur ilmu" dalam pandangan hidup islam, meskipun benih beberapa konsep keilmuan telah wujud pada periode Makkah.
Atas dasar framewrk ini maka dapat di klaim bahwa embrio ilmu ( sains ) dan pengetahuan ilmiah dalam islam adalah struktur keilmuan dalam worldview islam yang terdapat dalam Al Qur'an,Hal ini bertentangan secara deiametris dengan klaim para penulis sejarah islam kawasan dari Barat, seperti De boer, eugene Myers Alfrenn Guilimanue, O'Leary, dan banyak lagi yang menganggap sainsdalam islam tidak ada asal usulnya . Seakan akan tidak ada sesuatu apapun yang berasal dari dan disumbangkan oleh islam kecuali pentetrjemahan karya – karya Yunani. Framework seperti ini di ikuti oleh penulis modern seperti Radakhrisnan, Majid Fakhry, W montgomery Wattdan lain-lain.
Periode ketiga adalah lahirnya tradisi keilmuan dalam islam, periode ini merupakan konsekuensi logis dari adanya struktur pengetahuan dalam pandangan hidup Islam. Seperti biasa karena suatu tradisi selalu melibatkan masyarakat maka tradisi keilmuan dalam islam, seperti yang akan di tunjukkan nanti, juga melibatkan komunitas keilmuan. Komunitas inilah yang kemudian melahirkan kerangka konsep keilmuan islam ( islamic scientific conceptual schemes) yang merupakan framework yang berperan aktif dalam tradisi keilmuan itu. Bukti adanya masyarakat ilmuwan yang menandai permulaan tradisi keilmuwan dalam islam adalah berdirinya kelompok belajar atau sekolah Ashab al shuffah di Madinah. Di sini kandungan wahyu – wahyu dan hadist –hadist Nabi di kaji dalam kegiatan belajar mengajar yang efektif.Meski materinya masih sederhana tapi karena objek kajiannya tetap berpusat pada wahyu , yang betul – betul luas dan kompleks. Materi kajiannya tidak dapat di samakan dengan materi diskusi spekulatif di lonia, yang menurut orang barat merupakan tempat kelahiran tradisi intelektual yunani dan bahkan kbudayaan barat( the cradle of western civilization ). Yang jelas ashab al suffah adalah gambaran terbaik institusionalisasi kegiatan belajar mengajar dalam islam dan merupakan tonggak awal tradisi intelektual dalam islam . Hasil dari kegiatan ini adalah munculnya, katakan, alumni – alumni yang menjadi pakar dalam hadist Nabi , seperi misalnya Abu Hurairah, Abu Dzarr al Ghiffari, Salman al Farisi, Abdullah Abn Mas'ud dan lain lain.Ribuan hadits telah berhasil di rekam oleh anggota sekolah ini.
Kegiatan awal pengkajian wahyu dan hadist ini di lanjutkan oleh generasi berikutnya dalam bentuk yang lain. Dan tidak lebih dari dua abad lamanya telah muncul Ilmuwan –Ilmuwan yang terkenal dalamberbagai bidang studi keagamaan seperti misalnya Qadi Surayh ( d.80/ 699), Muhammad Ibn al Hanafiyyah ( d.81/700), Ma'bad al Juhanni (d.84/703, Umar bin abd aziz (d.102/720) Wahb Ibn Munabbih ( d.110,114 /719,723), Hasan al Basri(d 110 /728)Ghaylan al dimasqi(d.c 123/740) Ja'far al sadiq(d 148/765), Abu Hanifah(d. 160/767, Malik Ibn Annas( d 179 /796), Abu yusuf( d 182/799),Al Shafii( 204/ 819) dan lain lain.
Framework yang di pakai pada awal lahirnya tradisi keilmuan ini sudah tentu adalah kerangka konsep keilmuan islam ( Islamic scientifif conceptual scheme). Indikasi adanya kerangka adanya konseptual ini adalah usaha- usaha para ilmuan untuk menemukan beberapa istilah teknis keilmuan yang rumit dan canggih. Istilah – istilah yang di revasi dari kosakata Al Qur'an dan Hadist Nabi termasuk di antaranya ilm, fiqh, usul, ijtihad, ijma', qiyas, aql, idrak, wahm, tadabbur, tafaqqur, hikmah, yakin,wahy, tafsir,ta'wir, 'lam , kalam, nutq, zann, haqq,batil, haqiqah, 'adam , wujud, sababb, khalq, khulq, dahr, sharmad, zaman, azal, abad, fitrah, kasb, khayr, ikhtiyar, sharr, halal, haram, wajib, mumkin, iradah, dan lain sebagainya , menunjukkan adanya kerangka konsep keilmuan.
Dari keseluruhan istilah teknis tersebut istilah 'ilm, yang berulang kali di sebut dalam berbagai ayat al-Qur'an, adalah istilah sentral yang berkaitan dengan keeluruhan kegiatan belajar mengajar. Istilah 'ilm itu sejatinya adalah ilmu pengatahuan wahyu itu sendiri atau sesuatu yang di derivasi dari wahyu atau yang berkaitan dengan wahyu, meskipun kemudian di pakai untuk pengertian yang lebih luas dan mencakup pengetahuan manusia. Istilah kedua yang juga sangat sentral adalah istilah fiqh, yang dalam AlQur'an ( 9:122) menggambarkan kegiatan pemahaman terhadap din, termasuk pemahaman Al Qur'an dan Al Hadith, yang keduanya di sebut 'ilm. Jadi 'Ilm dan Fiqh berkaitan erat sekali.
Perlu di catat bahwa meskipun wahyu telah di jelaskan oleh nabi, namun i sana masih terdapat beberapa masalah yang terbuka untuk di pahami secara rasional yang dalam tradisi islam di sebut ra'y. Jadi Fiqh( tafqquh) pada periode ini, bukn dalampengertian hukum adalahkegiatan ilmiah untuk mempelajari ajaran agama islam ( tafqquh fi al- din ) dari sumber wahyu. Dalam kegiatan ini ummat islam telah memilikin metode tersendiri dalam memahami wahyu baik dengan memahami makna ayat demi ayat, membandingkan suatu ayat dengan ayat lain, menafsirkan ayat dengan hadith ataupun memahami ayat dengan ra'y. Dengan adanya metode dan obyek materi yang khusus Fiqh sudah dapat di katakan sebagai ilmu. Karena luasnya obyek materi yang di bahas maka Fiqh, pada periode awal islam dapat di anggap sebagai induk dari segala ilmu dalam Islam, yang daripadanya kemudian lahir berbagai disiplin ilmu yang lain. Jelaslah sudah bahwa worldview islam terbukti telah melahirkan tradisi intelektual yang berpotensi untuk melahirkan berbagai disiplin ilmu. Oleh sebab itu akan di jelaskan bagaimana tradisi tersebut dapat melahirkan epistemologi dan bahkan disiplin ilmu.
Worldview dan Tahap - Tahap Kelahiran Ilmu dalam Islam
Sebelum di paparkan bagaimana proses suatu ilmu itu lahir dalam tradisi intelektual islam, perlu di tegaskan bahwa ilmu dalam islam dan dalam tradisi manapuntidak lahir secara tiba – tiba. Seperti di jelaskan di atas fondasi bagi lahirnya suatu disiplin ilmu adalah worldview yang memiliki konsep keilmuan. Worldview ilmiyah ini kemudian menghasilkan tradisi intelektual ( tradisi ilmiah )dalam masyarakat dan selanjutnya lahirlah suatu disiplin ilmu.Dalam hal ini Prof. Alparslan membagi 3 tahap terbentuknya suatu disiplin ilmu:
1) Tahap problematik, (problematik stage) yaitu tahap dimana berbagai problem subyek kajian dipelajari secara acak dan berserakan tanpa pembatasan pada bidang-bidang kajian tertentu. Ini berlaku untuk beberapa lama.
2) Tahap disipliner, (dislipliner stage) yaitu tahap dimana masyarakat yang telah memiliki tradisi ilmiah bersepakat untuk membicarakan materi dan metode pembahasan ditentukan sesuai dengan bidang masing-masing.
3) Tahap panamaan, (naming stage) pada tahap ini bidang yang memiliki materi dan metode khusus itu kemudian diberi nama tertentu.
Untuk mengaplikasikan tiga tahap teori terbentuknya disiplin ilmudalam islam kita akan menelusuri tahap-tahap awal bagi munculnya munculnya disiplin ilmu dalam Islam. Untuk itu akan kita telusuri lahirnya ilmu kalam.
Sejarah Kelahiran Ilmu Kalam
Jika proses kelahiran kalam di telusur lebih jauh dari sejak tahap problematik, akan di temukan juga kaitannya dengan Fiqh. Sesungguhnya pemikiran spekulatif di kalangan umat islam periode awal di dorong oleh masalah politik, yakni dalam menentukan pengganti ( khalifah ) Rasulullah. Tahap problematik ini mulai semakin nampak ketika terjadi pembunuhan khalifah utsman bin affan dan pemilihan ali bin Abi thalib yang di lanjutkan dengan perselisihan antara Ali dan Aisyah dan Ali – muawiyah. Diskusi yang terjadi berkisar pada masalah kepemimpinan politik ummat islam dan status pelaku dosa besar ( murtakib al kaba'ir ). Para pengikut Ali, kelompok Syi'ah, menekankan pada ciri- ciri pemimpin, sedangkan kelompok yang memisahkan dari pengikut Ali yang di sebut Khawarij lebih menekenkan pada status para pelaku dosa besar yang harus di keluarkan dari masyarakat muslim. Usaha untuk mendamaikan kedua kelompokini di lakukan oleh cucu Ali, Hasan ibn muhammad Ibn Al Hanafiyyah, yang menawarkan idea of irja' ( 76/ 695 ) yang kemudian di sebut dengan kelompok Al Murji'ah. Dengan lahirnya kelompok al murji'ah yang isunya menjadi spekulatif, meskipun masih berkaitan dengan masalah politik. Tapi sejatinya suasana pemikiran telah berubah dari "politik ke teologi".
Dari masalah pelaku dosa besar yang di bahas dari sisi hukum, apakah pelaku dosa besar masih di anggap sebagai mukmin atau tidak, diskusi mulai berkembang ke arah definisi iman, ini artinya para ulama saat itu mulai melihat suatu masalah dari sisi lain selain sisi hukum, yaitu teologi. Dan dari sejak itu kegiatan pemikiran tentang spekulatif mulai bermula.. maka dari itu dapat di katakan bahwa timbulnya pemikiran spekulatif yang menghasilkan filsafat islam ini, di pengaruhi terutamanya oleh prinsip – prinsip pemikiran hukum.
Pembahasan berkembang lagi menjadi lebih murni spekulatif dan beralih kepada isu tentang konsep kekuasaan Tuhan dalam menentukan kejadian- kejadian di dunia, termasuk tingkah laku manusia. Kelompok yang di sebut Qodariyyah pada tahun 71/690 berpendapat bahwa tingkah laku manusia di tentukan oleh takdir tuhan dan bukan berdasarkan pada kebebasan manusia. Meskipun pemikiran ini tidak berangkat dari kepentingan politik, tapi ada usaha – usaha untuk mengaitkannya dengan masalah politik. Kholifah Bani Umayyah mengklaim bahwa kekuasaan mereka telah di takdirkan oleh Tuhan.Sebagai indikasi bahwa masalah teologi ini penting maka Hsan Al Basri ( d. 110/728 )tokoh penting dalam ini., pada tahun 81/700 menulis risalah pada khalifah Abd al Malik yang intinya membicarakan masalah kebebasaan kehendak manusia dan takdir Tuhan, yang kemudian di balas oleh khalifah secara trertulis. Tokoh – tokoh lain yang intensif terlibat dalam diskusi masalah ini adalah Ma'bad Al Juhani ( d.84/703 ) and Ghaylan al Dimanshqi ( d. 126/ 743 ). Pandangan kelompok yang di sebut al Qadariyyah ini di sanggah oleh Jamn ibn Safwan ( d.127/745 ), yang pengikutnya di namakan Al Jahmiyyah.
Semua ini sekedar menggambarkan bahwa masyarakat Muslim saat itu telah mendiskusikan secara intensif masalah teologi secara terpisah dari diskusi tentang masalah hukum, dan ini menandakan tahap disipliner ilm kalam.
Pada akhir abad pertama hijrah ( 730's- 800's ), telah mendapat suatu kesadaran ilmiah di kalangan cendekiawan muslim bahwa masalah – masalah teologi perlu di bahasdengan metodologi tersendiri yang terpisah dan berbeda dari metode penetapan hukum. Perselisihan antara Wshil bin Atha' ( w.131/748 ) dan Al Hasan Al Basri tentang status pelaku dosa besar adalah pertanda bahwa mulai memisahkan objek kajian teologis secara disipliner. Tapi sejauh ini, Istilah kalam belum di pakai secara resmi sebagai disiplin ilmu tersendiri, sebab masih terdapat usaha- usaha untuk meemggunakan istilah Fiqh sebagai ilmu yang membicarakan masalah Ketuhanan. Abu Hanifah ( w.150/ 767) yang mewakili kelompok salaf, masih menggunakan istilah al Fiqh al Akbar untuk mensdiskusikan masalah – masalah teologis. Meskipun istilah ini di gunakan hingga pertengahan abad ketiga hijriyyah, namun akhirnya ketika Madzab Hanafi mengkritik kelompok Mu'tazilah dan membela kelompok asy 'ariyah, istilah Kalam di pakai untuk merujuk kedua kelompok ini. Ini menunjukkan bahwa Istilah al Fiqh Al Akbar tidak lagi di pakai istilah atau nama disiplin ilmu pemikiran spekulatif. Tahap disipliner ilmu kalam memakan waktu cukup lama untuk menjadi nama sebuah disiplin ilmu. Ketika terjadi diskusi – diskusi resmi tentang kalam yang terjadi pada Kantor pengadilan Barmadiks di zaman kekuasaan harun Ar Rasyid ( 170- 194/ 786- 809 ), istilah kalam belumdi pakai secara resmi. Bahkan di zaman abu al Hasan al Ash 'ari ( d.324/935 ) istilah ini masih juga belum resmi di pakaisebagai nama suatu disiplin ilmu, sebab dalam karya – karya Al Ash'ari kalam tidak di pakai sebagai suatu disiplin ilmu, istilah kalam hanya di pakai untuk menunjukkan sub judul dari suatu bab, seperti al Kalam fi ithbat ru'yatillah.
Tahap penamaan kalam sebagai ilmu dapat di rujuk dari fakta sejarah ketika Ibn Sa'ad ( d.288/845 ) mwenggunakan istilah al Mutakallimun untuk mereka yang terlibat dalam diskusi tentang pelaku dosa besaryang di angkat oleh kelompok Murji'ah. Namun, istilah Klam yang merujuk pada disiplin ilmu pemikiran spekulatif muncul pada akhir abad ke- 4 hijrah., dalam karya ibn Nadim, Kitab al Fihrist. Dalam kitab ini ia dengan jelas menyebut istilah Ilm al Kalam dan Mutakallimin untuk merujuk kelompok teologi seperti Al Khawarij, al Mu'tazilah, ash 'Ariyah, al Shi'ah, Sufiyyah dsb. Inilah barangkali yang menandai lahirnya Ilm al Kalam.
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat di simpulkan bahwa ilmu dan prinsip – prinsip epistemologi dalam islam lahir dari pandangan hidup islam yang di awali oleh adanya tradisi intelektual islam. Ilmu dalam Islam bukan di ambil dari kebudayaan lain. Sebab Ilmu tidak dapat lahir dan berkemnbang pada suatu masyarakat jika semua konsep –konsep di dalamnya berasal dari hasil impor. Artinya suatu ilmu tidak dapat muncul dengan secara tiba- tba dalam suatu masyarakat atau kebudayaan yang tidak memiliki latar belakang tradisi ilmiah atau tanpa worldview yang kaya dengan struktur keilmuan , ilmu asing "diadopsi" bukan "diadopsi", itupun sebatas konsep – konsepnya yang di nilai layak untuk di adapsi. Karena proses pinjam meminjam antara suatu kebudayaan dengan kebudayaan lain adalah sesuatu yang alami. Namun dalam mengadapsi konsep – konsep dari worldview dan kebudayaan asing di perlukan proses epistemologius untuk mengislamkannya. Malah sebenarnya ketika elemen – elemen asing itu di transmisikan ke dalam pandangan hidup islam, pada saat yang sama terjadi proses islamisasi.
Meskipun demikian posisi konsep pinjaman tidak bisa menjadi lebih dominan. Dalam kasus filsafat dan sains islam, misalnya, posisi konsep pinjaman dari yunanidi gambarkan dengan tepat sekali oleh M.M Syarif. Baginya pemikiran muslim sebagai kain, dan pemikiran yunani sebagai sulaman( tambahan ). "Meskipun sulaman itu adalah benang emashendaknya tidak menganggap sulaman itu sebagai kain."Ini bermakna bahwa tidak bisa di katakan smenghasilkan suatu disiplin ilmu jika paradigma, prinsip – prinsip dan teorinya di dominasi oleh pandangan hidup lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar